Rintik Hujan dan Kawan di Perjalanan Yang Jauh

Nanda Koswara - rintik hujan

Mulai hari ini, kalau saya mengingat kawan saya Alamsyah, maka saya akan mengingat tentang perjalanan yang jauh. Tentang impian yang belum tercapai, tentang kepolosan dan debat-debat kecil untuk hal yang tidak penting. Hari kamis lalu adalah hari dimana segala penatnya Tian, Ilham dan Alamsyah seperti mencapai puncaknya. Setelah berhari-hari harus mengerjakan sesuatu sampai harus menginap segala. Inilah pekerjaan yang diselingi dengan main game sampai jam tiga pagi atau bertukar data yang memuat film animasi, lalu menontonnya sampai ketiduran dengan sebelumnya kekenyangan martabak durian.

Selalu ada hal khusus yang akan kita kenang dalam setiap perjalanan, ia seperti keindahan, kelucuan, amarah, kicau burung, rintik hujan, sampai hal yang paling remeh sekalipun. Dan saya selalu tertarik dengan keheningan, sekalipun harus mencari di tempat yang ramai. Perjalanan adalah saatnya saya mengenal seorang kawan lebih dari biasanya, saatnya mendengarkan kawan lebih dari biasanya dan saatnya mengerti kawan lebih dari biasanya. Perjalanan selalu membuat fikiran meloncat-loncat melampaui segala yang sudah direncanakan, perjalanan menghadirkan ide-ide yang saya sebut dengan hidayah dan perjalanan adalah salah satu cara untuk mencintai Sang Maha Pencipta.

Saat itu disekeliling saya, Tian dan Ilham terlihat suntuk bukan main, terlebih Alamsyah. Nasabah yang dikelolanya menunggak bayar, saya sampai hampir dibentak waktu bertanya apakah ini masalah. Dia menjawab kalau ini masalah besar, lumayan besar. Kemudian muncul ide dari diri masing-masing untuk menghibur perasaan yang sedang lara. Maka kami menyusun sebuah perjalanan yang sederhana, yang paling memungkinkan dilakukan siang itu, sebelum matahari terbenam. Sebelum kegundahan berubah menjadi baris-baris puisi seorang bujang, yang tidur jam tiga pagi untuk hal yang kurang berfaedah sambil makan martabak durian.

Air Terjun di Sinembah Tanjung Muda Hulu adalah tujuan setelah sudah mandi dan ganti pakaian, tinggal menunggu Alamsyah. Saya dan Ilham yang duduk di teras rumah Tian, sampai-sampai harus menebak-nebak setiap kali ada suara roda dua yang datang. Ini dia dan ternyata bukan. Ini dia dan ternyata bukan. Dan sampai ini dia yang ke-tujuhbelas, akhinya yang ditunggu pun datang juga, ternyata dia. Langit yang mendung gelap sempat menciptakan perdebatan kecil antara Ilham dan Alamsyah, seperti biasa. Salah satu diantara mereka yang berfikiran rasional, memprediksi hujan akan turun dengan rintik yang deras. Salah satunya lagi tentu – seperti biasa – berkilah; bang.. Cuma air, Cuma air hujan seperti biasa, mari lanjutkan rencana. Dan Tian seperti biasa Cuma diam.

Jika Ilham adalah orang yang penuh dengan ekspresi, Alamsyah manusia yang susah ditebak, maka kawan saya Tian adalah seperti Andrea Pirlo gelandang serang Klub Sepak Bola Juventus, pemain kebanggaan Tim Nasional Italia. Saya mengetahui Andrea Pirlo adalah yang pelitnya minta ampun soal ekspresi. Dia seperti tidak bersedih ketika Tim nya kalah, atau urung sumringah ketika telah berhasil menjebol gawang lawan. Saya faham satu hal dimana rambut gondrong belah samping dan brewok nya tekah mengisnpirasi dunia fashion. Jadi, segala kekurangan nya soal ekspresi wajah adalah sesuatu yang bisa sedikit dimaklumi.

Kami berempat dengan lafadzh basmallah pun akhirnya merangsek ke Utara. Belum jauh berkendara, jas hujan sudah harus di keluarkan dibalik busa duduk roda dua. Hujan mengguyur dengan iringan kesejukan yang selalu turut serta. Saya cuma teriak untuk lanjutkan perjalanan dibalik pelindung kepala, dan semuanya cuma senyum sambil mengacungkan ibu jari tanda telah berkata iya. Sudah merayap sampai ke Bangun Purba, tapi tidak terlalu menjauhi Galang, akhirnya empat bujang di sore yang sibuk telah mencapai batasnya. Kumandang Adzan Ashar menggiring kami untuk berteduh dan tidak banyak cingcong lagi. Ilham pun tidak lagi bersemangat mendebat Alamsyah. Semuanya sadar ini bukan hanya soal hujan, perjalanan ke Sinembah Tanjung Muda Hulu juga harus mengingat kondisi jalan. Kita tidak bisa menempuh medan seberat itu ditengah hujan pula, dengan roda dua yang sudah tiga bulan tidak diajak main-main ke bengkel.

Teras Masjid saksi bisu tentang empat bujang yang gagal berkelana. Tapi selalu ada yang bisa dipetik selain gitar di setiap perjalanan. Yang pertama mungkin, jadilah kawan yang tidak terlalu keras kepala dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Yang kedua, selalulah mendengar nasihat orang tua untuk melengkapi roda dua dengan Jas anti air di musim hujan begini. Yang ketiga saya ajak Alamsyah bercerita; dia pun mengalirkan kisah tentang jarak tempuh darat yang menjadi rute nya setiap hari, dimana dia harus melewati lembah dan berkendara dibalik bukit. Dimana dia harus menghadapi Nasabah yang dua kali lipat kadang lebih menyebalkan dari atasan sendiri. Dimana dia akan segera resign setelah kontrak kerjanya habis dua bulan lagi. Dimana dia harus melintasi tiga kabupaten setiap hari guna mencari nafkah, untuk dirinya sendiri. Karena masih bujang.

Kemudian saya jadi teringat pada kata-kata Pak Wahyudi dari Abco,  seorang baik yang pernah meng-hypnoteraphy saya di sebuah acara di SMAN1 Sunggal. Dalam acara tersebut, seperti di bedah bukunya Salim A. Fillah tahun ini di Medan, saya dapat hadiah doorprize buku, menyenangkan bukan main. Dalam beberapa menit sesi hypnoteraphy tersebut,  dalam kondisi setengah sadar, ternyata Pak Wahyudi berhasil mengetahui jauhnya jarak tempuh dari rumah tinggal saya ke tempat dihelatnya acara, juga sebagian kecil mimpi-mimpi saya tentang pendidikan. Lumayan jauh, jarak Galang ke Sunggal adalah jarak yang lumayan. Kaliamat yang beliau ucapkan, dan saya ingat sampai sekarang adalah. “Teruslah berjalan ke tempat yang jauh, temukan dirimu disana, ditempat orang-orang belajar dan diajari kehidupan.”

““Teruslah berjalan ke tempat yang jauh..” Wahyudi.

Kawan, ternyata untuk menjadi seseorang yang baik, kita cuma harus bisa mendengarkan, saling memahami dan bisa berkelana ke tempat yang jauh. Menemukan mozaik-mozaik hidup untuk kemudian menyatukan nya satu persatu, menjadi wujud kurva dengan sumbu cartesius horizontal yang bermakna syukur dan yang satunya lagi bermakna sabar, kesyukuran yang menjulang ke langit, kesabaran yang membumi.

Kawan, ternyata di tempat yang jauh akan selalu ada kejutan. selalu. Saya jaminan nya. Dan terima kasih ku pada rintik hujan, hembus angin dan rimbun pepohonan. Terima kasih Umminya Tian, yang selalu menjamu para bujang dengan teh hangat, nasi goreng atau mie instan, bahkan sebelum matahari muncul dengan benar.

Terima Kasih sudah membaca, Karena ini blog ku yang baru.

Your Nanda Koswara!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s