Ikan Jurung dan Eksotisme Sinembah Tanjung Muda

nanda koswara blog sinembah tanjung muda hulu

Dan begitulah adanya, pergantian tahun masehi tidak kami tandai dengan ritual-ritual tertentu. Semuanya berjalan biasa-biasa saja, tidak ada tiup terompet atau kembang api di udara, tidak ada kegaduhan dan hingar-bingar. Hanya ada bilik kamar yang hangat dan buku berserakan, hanya ada secangkir teh dan kudapan, sesal dan senandung.

nanda koswara blog sinembah tanjung muda hulu 7
Aku dan kawan lainnya, seperti biasa tak pernah sudi membiarkan hari libur atau tanggal merah terlewat begitu saja tanpa kelana. Perkara tidur cuma setengah jam, karena bertepatan dengan acara bermalam di Masjid, tak jadi soal. Main sepak bola dipagi setelah bergadang, merupakan satu hal buruk untuk kesehatan, tapi bang Riki Indra Utama cetak angka, bang Saiful Bahri Barus bikin assist bagus, Rinjani Mufarif sukses bermain, sebagai pemain cadangan. Semua jadi bisa ditoleransi.

Selesai sepak bola kami berpisah, Pak Asral Sinaga dan bang Saiful lewat rute Lubuk Pakam-Galang-Bangun Purba karena harus pulang dulu berjumpa Isteri masing-masing. Bersama bang Riki dan Arif, kami touring lintasi jalan besar Medan-Tanjung Morawa, masuk ke Bandar Labuhan, untuk selanjutnya merangsek ke Limau Mungkur, melaju ke Sinembah Tanjung Muda Hulu via Sinembah Tanjung Muda Hilir dengan menjejak Desa Siguci- Tala Peta- Talun Kenas, lalu berhenti di Tiga Juhar. Dan nama daerahnya memang se-eksotis itu.

“Mempesona dari hulu, ke hilirnya..”

Bang Saiful dan lainnya punya misi khusus di STM Hulu, memancing Ikan Jurung, sisanya, termasuk aku seperti biasa hanya jadi penikmat perjalanan. Sepanjang rute yang ditempuh, kanan-kiri rumah penduduk yang non muslim banyak didatangi saudaranya dari jauh, tahun baruan semacam hari raya buat mereka, seperti muslim di hari-hari Ied. Bersyukur diberi sehat dan bisa melintasi bagian lain bumi-bumi-Nya. Terlebih hamparan desa yang masih alami, gemercik sungai berbatu, jembatan-jembatan penghubung antar desa, dan sisanya dirusaki sampah yang berserakan, kondisi jalan yang berlubang dan cabik alat berat untuk tujuan perkebunan.

Kami sampai lebih dulu di titik SD Peduli Ummat Waspada STM Hulu, hasil kerja keras kawan-kawan disana. Pak Amal Lubis menyuguhi kami salak pondoh dan teh. Arif agak gelisah mendapati salak sekantung habis sekejap mata. Sementara masalah lain belum selesai diatasi, dia cuma bilang sesuatu yang tampaknya kami bertiga setuju dan mufakat menyepakatinya.

“Bang, harus beli nasi bungkus ini udah gawat..”

Setelah pak Asral dan bang Saiful sampai, kami menyantap sarapan bersama di jam makan siang. Ayam kalaksan, daun ubi tumbuk, sambal teri jadi pelipur lara bagi para bujang yang kelaparan. Tanpa banyak cingcong lagi, kami pun berangkat ke-tempat yang pak Amal menyebutnya sebagai-surga yang tersembunyi.

“Pelipur lara.. nakal sekali..”

Roda dua melaju disela-sela rumah warga dan lapo kopi, lanjut membelah pematang sawah, meliuk diatas beteng-beteng. Tergelincir diatas lumpur, semua menkmati dengan tawa dan menganggapnya sebagai trek balap. Selanjutnya kami disambut barisan ladang jagung yang sedang berbunga, beberapa lonjor tanaman buah melon. Kicau burung dan hembus angin yang menggerakan pohon-pohon jeruk manis. Sabda alam sedang menunjukan kepada kami anak manusia, bahwa segala yang kami lihat adalah Mahakarya adiluhung Sang Pencipta. Disanalah padang sabana dan ilalang, disanalah rimbunan mahoni dan trembesi, disanalah lukisan yang kesyahduannya mampu diterjemahkan ke baris-baris puisi, syair-syair lagu, bertajuk kesunyian.

“Kekasih sejatiku, adalah kesunyian..” Lagu dari Closehead

Kendaraan yang kami bawa hanya bisa diberhentikan di satu tempat, pilihan selanjutnya adalah berjalan kaki menuruni lembah dengan kemiringan kurang dari empat puluh lima derajat. Aku di paling belakang setelah memastikan semua roda dua terkunci aman, sedikit sa’i untuk mengejar Arif di depan yang berjalan seperti penari tor-tor di pulau Samosir, gemulai sekali. Sampai akhirnya aku sarankan dia untuk melepas sandal jepit yang memang tak cocok untuk untuk aktifitas ini. Sementara yang lain sudah teriak-teriak-melecehkan dibawah tanda sudah sampai, Arif masih saja berjalan perlahan, ingin kutendang saja pantatnya dari belakang, lalu menggelinding-lah dia dengan penuh luka sayat ilalang di badan. Ternyata niat buruk yang urung dilakukan itu menerima ganjaran, aku tercatat dua kali terpeleset sampai terduduk. Arif cuma memandang dengan raut wajah yang kalau diartikan berkalimat,

 

“Kau rasakan itu, anak muda.”

Sampai ke bawah, bang Saiful sudah siap diatas batu lengkap dengan joran pancingnya. Pak Amal menyiapkan kain sarung sebagai sajadah untuk shalat dzuhur diatas pasir. Pak Asral menyiapkan jala ikan, sementara bang Riki menghilang sebentar untuk buang hajat.

nanda koswara blog sinembah tanjung muda hulu 2
Meskipun Ikan Jurung tak kami dapatkan, tapi selalu ada syukur bahagia untuk hal-hal lain. Dengan kaca mata yang menutup seluruh wajah kecuali mulut, kami bisa mengintip ikan kecil yang gesit berenang di sela bebatuan. Gemercik air sungai yang berjumpa batu-batu besar, tempat nyaman untuk tidur siang. Tebing yang menjulang memagar, juga bunga anggrek hutan. Selalunya ketika sedang ditempat yang indah, kata-kata selalu lindap, semua orang diam menikmati kesyahduan, memejamkan mata menikmati angin, berjemur dibawah matahari. Hal lain mendadak jadi tidak penting, tidak layak untuk diperbincangkan, lisan dan jiwa sibuk bertasbih memuji ciptaan Nya, menerjemah sabda alam raya.

“Maha suci Engkau, Yaa Rahman.. “

Sebelum pulang, kami menyusun rencana untuk kembali lagi kesini di pertengahan bulan Maret, atau bulan lain yang kemarau. Disana air sungai akan surut, kami akan membuat bendungan, dengan akar pohon dan terpal jemur padi. In shaa Allah, ikan jadi mudah ditangkap dan kemudian dibakar dipinggir sungai. Perjalanan pulang jadi agak berat, lembah yang tadinya dituruni dengan langsam, sekarang harus didaki dengan sekuat tenaga. Sebentar-sebentar harus berhenti, mengistirahatkan tungkai. Kami berjalan zig-zag diantara mahoni, disela-sela, Arif berhenti tegak bersandar pohon. Dia hampir kehabisan nafas.

 

Sinembah Tanjung Muda Hilir & Hulu, 3 Januari 2015.
Nanda Koswara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s