Ibu Gubernur dan Rumah yang Hampir Rubuh

Nanda Koswara blog Ibu Gubernur dan Rumah yang Hampir Rubuh 11

Ibu Hamidah tak bisa berbuat banyak untuk atap rumahnya yang bocor dan dinding tepas bambu  yang penuh lubang. Beliau cuma seorang buruh cuci piring, suaminya sudah berpulang, kerabatnya tak jelas siapa dan dimana. Dirumah yang sama Ibu Hamidah berkisah untuk kami tentang beliau yang berkesempatan merawat abang kandung nya yang sakit, sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya disana. Ibu Hamidah menjalani hari-harinya yang sunyi, bersama kucing-kucing yang mencakari atap daun aren rumahnya yang sudah lapuk, dimakan usia.

Kami taksir rumahnya berukuran tiga meter melebar, empat meter ke belakang, dan menghadap ke utara. Dibawah atapnya banyak plastik dan benda apa saja yang bisa dipakai untuk menambal bocor. Ibu Hamidah menginisiasi sendiri bagaimana plastik-plastik itu jadi merajalela di langit-langit gubuknya yang hampir rubuh. Beliau cuma tak bisa tidur sambil ditetesi air hujan, lagian dia tak punya kerabat yang bisa dimintai tolong. Merepotkan tetangga dia tak mau. Jadilah rumah yang punya satu-satunya ruangan itu jadi meriah sedemikian rupa.

Kalau kita masuk ke rumah Ibu Hamidah, maka yang pertama kita jumpai ketika langkah pertama dari ambang pintu adalah ruang tamu, dapur, ruang tidur dan tempat menyimpan pakaian, semuanya sekaligus. Beruntung dia punya kain yang agak lebar, untuk menjaga privasi ruang istirahatnya. Perempuan yang berusia 63 tahun ini tak punya kamar mandi dirumahnya, beliau bilang ke kami kalau urusan mandi, cuci dan kawan-kawannya bisa numpang ke tetangga, atau sumur mana saja yang bisa dipakai. Beliau menyimpan air untuk kebutuhan masak dan wudhu pada ember-ember, yang diletakkan diruangan yang sama dengan dapur dan tempat tidur.

Beruntung sekali saya diajak Bang Saiful Bahri ke rumah Ibu Hamidah beberapa hari yang lalu. Melihat kondisinya saya jadi ingat Nek Sani di kampung. Ibunya Ibu saya. Tapi Nek Sani kondisinya masih lebih lumayan, ada bulek yang mengurusinya, dan yang paling penting atap rumahnya tak bocor. Ibu Hamidah yang sendirian ini pantang menyusahkan orang lain. Bahkan tak ada isyarat mengharap belas kasihan dari kalimat-kalimat yang diucapkannya. Dirinya sama sekali tak mengeluh dan menyalahkan orang lain. Beliau cuma ceritakan bagaimana kalang kabutnya dia setiap hujan datang, juga kucing-kucing peliharaan yang bikin dia jengkel tiap hari. “Habis atap rumahku dicakarinya..” seru beliau.

Hanya perlu tiga hari setelah ke rumah Ibu Hamidah, kami kesana lagi dengan susunan personil yang lebih lengkap. Selain Bang Saiful dan Ulya anaknya, ada Pak Suwandi dan Pak Ruslan Purba, kawan kami yang juga seorang tukang bikin rumah. Mereka penuh bakat. Tak ketinggalan Arif juga ikut, susah juga rasanya kalau tak ada yang bisa disuruh-suruh. Disini saya mewakili Semesta Berbagi, salah satu program unggulan dari  Gemar, sebuah organisasi non-pemerintah yang diketuai Bang Saiful. Kabar baiknya rumah Ibu Hamidah akan dibedah, tiga sampai empat bulan lagi. Program bedah rumah ini hasil komunikasi Bang Saiful dengan BK3S, Badan yang di koordinir langsung oleh Ibu Sutias Handayani, isteri Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho.

Sebelum dibedah beberapa bulan lagi, kami pasang terpal antisipasi hujan sementara di rumah Ibu Hamidah. Beliau setuju untuk terpal sementara dan tak henti berucap syukur untuk kabar rumahnya yang akan dibedah. Arif sampai lebih dulu, dan belum lagi acara dimulai dia sudah rewel. “Ini nggak bisa lama-lama, akhy..“ kilah Arif diatas matic merahnya “Soalnya mau ngelatih Pramuka lagi.” Saya cuma diam, senyam-senyum dan kemudian koordinasi ke Bang Saiful untuk aksi hari itu. Pak Suwandi sudah siap dengan tangga lipatnya. Pak Ruslan dikonfirmasi sedang menuju tempat acara. Oh paragraf ini rasanya berat sekali, penuh dengan kosakata: koordinasi, konfirmasi dan antisipasi. Sayup-sayup tercium aroma terasi.

Kawan, urutan pertama kebahagiaan versi saya adalah melihat senyum mekar di wajah ibunda, dan di wajah suaminya. Kemudian adalah melihat senyum mengembang pada wajah saudara dirumah, juga seratusan lebih anak-anak saya di sekolah. Selanjutnya bahagia versi saya adalah melihat senyum hadir di wajah siapapun yang merasakan syukur dan qana’ah. Ibu Hamidah menyambut kami dengan muka berseri-seri. Kami langsung bekerja setelah Pak Ruslan sampai. Tapak rumah di ukur, tali-temali di potong sesuai kebutuhan, tangga dipasang, terpal dibentangkan. Syukur sekali ukurannya pas dengan atap istananya Ibu Hamidah, lalu dikaitkan dengan kayu-kayu penyangga.

Pak Ruslan Purba, kawan kami yang baik hati.
Pak Ruslan Purba, kawan kami yang baik hati.

Pak Suwandi dan Pak Ruslan adalah aktor utama, mengingat ini adalah bidang yang mereka berdua kuasai. Kawan kami ini baik sekali, rela meninggalkan pekerjaan nya untuk membantu orang lain. Arif berperan cukup baik sebagai orang yang bisa disuruh-suruh. Kesalahan kecil dibuatnya waktu membuka jalinan tali tambang. Gulungan tali jadi buyar sedemikian rupa. Walaupun seorang Pramuka dan handal dalam tali-temali, Arif tampaknya kurang teliti. Saya cuma terkekeh-kekeh menyaksikan dia mengurusi tali-tali. Sementara itu Ulya sibuk kesana-kemari tak peduli, praktis setelah mangkuk kecil es krim nya kosong. Saya sendiri bertugas tak kalah strategis, yaitu mengawasi Ulya dan menjagai Arif. Takutnya ketiduran.

Nanda Koswara blog Ibu Gubernur dan Rumah yang Hampir Rubuh 3
Pak Suwandi, do’akan beliau kawan.

Setelah selesai kami disuguhi minuman warna merah, tampak seperti sirup kurnia, oleh tetangganya Ibu Hamidah. Setelah ngobrol dan menyampaikan amanah dari para dermawan, kami pamit undur diri. Sebelumnya saya sempat membagikan kisah Ibu Hamidah dan rumahnya ini ke beberapa grup Whatsapp. Kawan-kawan merespon dengan membagikannya lagi ke kawan lainnya. Hasilnya ada sedikit materi yang bisa disampaikan ke Ibu Hamidah. Beliau menerimanya sambil terus mendo’akan kami semua. Satu-persatu. Haru sekali.

Jum'at siang yang riang gembira.
Jum’at siang yang riang gembira.

Sebelum kembali lagi ke rumah masing-masing, Bang Saiful mengajak kami semua ke warung pecal Bang Yin, tak jauh dari rumah Ibu Hamidah. Arif menunjukan raut wajah yang artinya dia sedang gembira. Sampai dia bingung mau pesan apa. Akhirnya sepiring gorengan, lontong pecal dan es teh manis disuguhkan spesial di hadapan Muhammad Rinjani Mufarif. Pak Suwandi dan Bang Saiful pesannya juga pecal, Pak Ruslan karena katanya baru saja makan siang selepas Shalat Jum’at, jadinya cuma mau es teh manis. Ulya disuapin abinya, lagi-lagi sambil kesana-kemari. Saya yang kebetulan lagi puasa Nabi Daud, digoda Arif habis-habisan.

“Akhy.. antum harus makan pecal dan minum teh manis ini.. biar puasanya kuat!”

 

23 Januari 2015, your Nanda Koswara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s