Rehmalemna dan Lelaki yang Terus Tersenyum

Gadis Berjilbab dan Lelaki yang Terus Tersenyum

Rehmalemna Boru Karo panik bukan main, pasalnya sang suami yang pamit sejak pagi belum juga pulang. Tak biasanya Syahrial Tarigan pulang malam-malam kalau pergi memancing. Waktu sudah hampir gelap, inang-inang tetangga dekat rumhahnya ikutan cemas, mereka berkerumun di ambang pintu rumah dinding papan milik keluarga Syahrial, sebagian dari mereka mencoba menenangkan Ibu Rehmalemna, sebagian lain sedang khusyuk mendiamkan anak bayinya yang rewel digendongan, sebagian lagi menikmati senja sambil menyuntil sirih.

Kaum lelaki, para suami dari inang-inang tadi coba menelusuri tempat biasa Pak Syahrial memancing ikan. Jenis makhluk berinsang yang dipancing Pak Syahrial ini adalah ikan jurung. Bukan main, ini adalah ikan yang untuk memancing nya kita harus menuruni tebing dengan kemiringan hampir sembilan puluh derajat. Belum selesai sampai disitu, perlu teknik khusus sebab untuk melempar kail ke sungai yang hampir tak kelihatan karena sempit dan penuh belukar, tangan satunya lagi harus berpegangan pada akar dan gulma. Sungai tempat ikan-ikan itu hidup berada di dua puluh meter, jauh dibawah dari tempat kaki bisa berpijak. Kesulitan untuk memancing jurung bukan tanpa alasan, ditempat yang curam dan dipedalaman hutan itulah lubuk ikan tersebut berada.

Sampai maghrib Pak Syahrial tak berhasil ditemukan, telepon genggam nya aktif tapi tak ada jawaban. Kaum lelaki, para suami dari inang-inang tadi hampir tak bisa menghadapi kenyataan bahwa mereka harus menyusur hutan malam hari, gelap-gelap, tapi tak menemukan apa-apa selain keputus-asa-an. Salah satu warga yang ikut mencari Syahrial sempat teringat kejadian beberapa bulan silam, ketika ada salah satu warga di desa mereka yang juga hilang. Kembali pulang setelah tiga hari berlalu.

“Ini mungkin kejadian macam si fulan, disembunyikan orang bunian” katanya memprediksi.

“Kita biarkan saja Syahrial ini, tak usah dicari, nanti juga balik lagi” imbuhnya pesimis.

Sehari kemudian setelah pencarian bersama warga desa tak membuahkan hasil, Pak Amal Lubis menghubungi komandan grup Pandu Keadilan Deli Serdang. Setengah pleton turun ke Sinembah Tanjung Muda Hulu mencari keberadaan Pak Syahrial. Warga yang ikut di hari kedua pencarian sempat dilanda putus asa yang kedua, rasanya macam patah hati untuk kesekian kali karena cinta. Pasalnya mereka yakin sekali zona yang disusur pasukan dari Pandu Keadilan itu sudah mereka susur di hari sebelumnya. Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala bentuk pertolongan Nya, bertepatan dengan masuknya waktu Ashar waktu setempat, Syahrial Tarigan Bin Nampung Tarigan, putra tercinta Ibu Sangap Boru Sitepu ditemukan dalam kondisi masih bernyawa.

“Macam mana bisa jumpa, kami yakin betul sudah cari kesini semalam itu” tutur warga.

Bapak empat anak ini tersangkut batu padas di sekitaran tebing curam, dari kepalanya terlihat jelas linangan darah, tulang selangkanya patah, luka disini dan disana. Tandu ambulans untuk membawa Syahrial ke atas tak banyak bisa membantu, hutan yang dipenuhi semak dan pepohonan jelas-jelas-terang-terangan di siang bolong sungguh menyulitkan. Akhirnya muncul gagasan untuk membawanya dengan sarung yang direntang batang pohon.Warga setempat bersama dengan pemuda gagah dari Pandu Keadilan tadi berbaris diagonal disepanjang tebing, memindahkan Syahrial Tarigan yang koma tak sadar dengan cara estafet. Beliau saat itu juga langsung dilarikan ke rumah sakit Sembiring, Deli Tua, Deli Serdang, Sumatera Utara dan siuman lima hari setelahnya.

Pak Syahrial Tarigan ditemani putrinya Nurhayati Boru Tarigan saat menceritakan kejadian lima tahun lalu tersebut pada kami. Tak banyak yang beliau berhasil ingat, pembekuan darah dan gangguan syaraf di kepala mungkin jadi sebab. beruntung kisah ini sudah kami dengar dari dua sumber berbeda, dua orang kawan kami yang ikut dalam tim penyelamatan dramatis lima tahun lalu itu. Ceritanya mungkin tentang musibah, tapi lelaki kurus masai yang susut badannya ini tak berhenti tersenyum. Indah bukan main. Beliau menyambut kami dengan sangat hangat, menggelarkan tikar diatas semen basah yang baru saja di pel putrinya.

Aku menuju rumahnya di Desa Rumah Rih, Kecamatan STM Hulu, Deli Serdang, bersama Muhammad Rinjani Mufarif. Menumpang roda dua dengan hati berbunga. Selalu menyenangkan kalau sudah melakukan perjalanan ke Sinembah Tanjung Muda Hulu, udara segar khas pegunungan, barisan air terjun dan danau, juga rasa senang karena bejumpa saudara se-per-jalan-juang-an. Kalau sudah sampai di Desa Tiga Juhar ibukota kecamatan, maka menguaplah bagaimana rasa panasnya pantat berkendara selama dua jam, diatas aspal yang penuh lubang menganga, sangat berbahaya. Bupati boleh saja berganti, waktu kampanye pun boleh lah dia berkoar macam-macam, tapi akses jalan yang rusak dan tak kunjung diperbaiki dari masa ke masa ini adalah bukti kongkrit atas sebuah senandung; Janji tinggal Janji.

Arif selain bertindak sebagai kawan ngobrol di jalan, punya tugas yang cukup penting dalam perjalanan kali ini. Beliau yang sekarang tampil macho dengan cambang dan brewok mirip peserta kontes dangdut ini punya saran-saran yang cukup baik;

“Aku rasa bijak sekali kalau kita beli lemang bakar untuk bekal di jalan, kawan”

Jadilah selonjor lemang bakar yang sudah di iris-iris jadi menu sarapan Arif hari itu. Kami bungkus dan jadi bekal di jalan. Aku salah mengambil keputusan, karena membiarkannya pegang bungkusan bekal kami satu-satunya, pantas saja sepanjang perjalanan pergi tak banyak kegaduhan di boncengan belakang, kondusif sekali. Rupanya beliau punya aktifitas yang lebih menyenangkan selain mengobrol atau lainnya, dia baru ingat kawan di irisan lemang yang terakhir.

“Jangan lihat lemang yang tinggal seiris, kawan ku”

“Lihat betapa konsep berbagi harus tetap kita junjung, walau tinggal segigit terakhir”

Sebelum sampai di Desa Rumah Rih, kami terlebih dulu ke komplek Sekolah Peduli Ummat Waspada di Desa Tiga Juhar. Disinilah Pak Amal Lubis tinggal, bersama beberapa pejuang pendidikan lain yang mengurusi sekolah bernafaskan islam tersebut. Maksud hati ingin ditunjukan rumah Pak Syahrial oleh Pak Amal, beliau dengan berat hati bilang tak bisa.

“Sebenarnya sangat ingin mengiringi antum berdua kesana”

“Tapi akhi, istri saya mau melahirkan, sudah lewat tanggalnya”

“Tetangga kanan kiri sedang jaulah ke familinya, ini darurat sekali saya”

Pak Amal menggambarkan peta sederhana diatas notes yang kubawa, petunjuk jalan menuju rumah Pak Syahrial, lalu beliau memberi keterangan tambahan soal rute, aku kebingungan membaca peta, Arif tiduran di Mushola. Desa Rumah Rih via Desa Tiga Juhar, jalan kesana tidak seburuk jalan yang kami lalui sebelumnya. Kami melewati padang luas yang ujungnya berbatas bukit barisan, di sisi lainnya tergenang air panas dari Danau Linting, danau yang kabarnya dibawah sana masih aktif dapur magma vulkanik nya, yang belum terukur berapa sebenarnya jarak dari permukaan sampai ke dasar, hamparan ladang milik warga desa, dan pedagang jeruk manis di pinggir jalan.

Sang istri tak dirumah waktu kami berkunjung, Rehmalemna Boru Karo bersama anaknya yang tiga lagi, pergi bekerja di ladang milik orang lain. Tinggalah si kecil Nurhayanti dirumah menjaga sang ayah yang sedang sakit. Beliau buru-buru ke kamar waktu kami datang, dan keluar lagi setelah memakai jilbab. Gadis kecil berjilbab putih ini baru saja selesai mengepel rumah, amanah ibunya sebelum pergi ke ladang pagi-pagi buta. Ruh yang penuh cahaya ini juga bertugas mengurusi sang ayah sebisanya, mengambilkan air, makan dan pengobatan. Sang ibu baru pulang dari ladang jam lima sore nanti, jadilah Syahrial diurusi anaknya yang masih berusia tujuh tahun Nurhayati.

Rehmalemna, yang semoga Allah merahmati perempuan Karo ini, adalah orang yang ta’at pada ajakan suami lima belas tahun yang lalu untuk memeluk islam. Cahaya dari langit dari Yang Maha Tinggi menyeruak ke gang-gang sempit menuju rumahnya. Cahaya itu berpendar untuk sekeliling yang masih gulita belum menadah hidayah. Cahaya itu berwujud langkah kaki sang suami menuju Masjid ketika tetangga kanan kiri muka belakang nya pergi ke gereja. Cahaya itu berinai-rinai menyelendang dalam balutan jilbab yang ia dan putri-putrinya kenakan. Cahaya itu menentramkan sejak gerbang syahadah sampai Allah SWT menurunkan sakinnah ke dalam hati, kehidupan dan keluarganya.

Rehmalemna, yang semoga makhluk mulia disisi Allah Azza Wa Jalla menyebut namanya dengan bangga, adalah cinta didalam cinta. Beliau berangkat pagi buta dan pulang setiap pukul lima semenjak sang suami tak memungkinkan raganya untuk mencari nafkah. Betapa hidayah itu turun dari langit, menyusuri bumi, menuju hatinya dan memendarkan cahaya. Maka semoga Allah juga merahmati saudara muslim terdekatnya, yang bertemu dalam lingkaran sekali sepekan, mengenalkan padanya Qana’ah, mena’atkan cintanya pada Allah saja, memohon pertolongan dan jalan keluar hanya dari Dia semata, Sang Pemilik Semesta.

Suaminya tak kalah indah, lelaki yang terus tersenyum ini berkisah asbab dia memancing sampai musibah menimpa. Adalah seorang kawan, yang pada waktu silam berjumpa di Rumah Sakit Adam Malik Medan, yang sekamar, seperawatan, waktu beliau menjalani siklus satu kemoterapi untuk Tumor Kasinoma, mengabarkan ingin bertamu ke rumahnya. Sontak lelaki sederhana ini bahagia, walau dirumahnya tak punya apa-apa untuk disuguh-hidangkan. Jadilah dia mengusahakan Ikan Jurung untuk tamu yang akan datang. Bukan untuk diri ataupun keluarganya, Ikan Jurung yang diusahakan itu adalah sambutan untuk tamu jauh, sebelum musibah datang dan membuatnya jatuh.

Pada Rehmalemna kami belajar tentang keta’atan dan sang suami dari perempuan tangguh ini mengajari tentang etika. Beliau sempat berujar malu atas penyakitnya. Pak Syahrial ini sebenarnya ahli meramu obat herbal, ilmu turun temurun dari keluarganya. Terbukti, dengan kuasa Allah SWT ramuan herbal buatannya membuat dia hanya harus kemo satu siklus, radioterapi 35 hari, sampai benjolan tumor di leher samping kanan nya kempes dan sembuh. Beliau kecewa kepada orang yang mahir membuat obat, malah dilanda penyakit-penyakit berat seperti TB Paru yang sekarang ini. Kecewa pada dirinya sendiri.

Pada Rehmalemna kami belajar kesabaran, kesyukuran dan rasa kasih sayang. Rumah dinding papan nya, ruang tamu pengapnya, dan lantai semen yang basah adalah metafora. Dirumah inilah hadir cahaya, bersama rak yang tersusun diatasnya Al-Qur’an, senarai jilbab yang membalut dia dan para putrinya. Kita do’akan bersama kawan-kawan, semoga cahayanya segera menerangi sekeliling dan disambut sewujud hidayah dari langit. Mengantarkan yang masih gelap menuju gerbang syahadah, memendarkan islam yang memendarkan lentera sepanjang hidupnya. Semoga istiqamah meneguhkan juangnya, sampai kaki dan tangan nya yang lelah di dunia, diringankan Allah dengan Husnul Khatimah, menjumpa Al-Kautsar di sanding baginda Nabi, mengantarkannya ke surga.

Kami pamit dengan hati yang mendung. Jiwa dan macam-macam yang ada didalamnya seolah berontak ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar berkunjung, lebih dari sekedar do’a rahasia, lebih dari sekedar menadah hikmah. Akhirnya berkabar baiklah Kak Susilowati, kawan kita di Bandung sana, beliau bisa mengusahakan bantuan pengobatan melalui lembaga tempatnya berbakti. Selebihnya mungkin soal Jilbab si kecil Nurhayati Boru Tarigan, Ibunya dan kedua kakaknya. Kerudung penjaga keta’atan mereka jumlahnya terbatas dan kadang harus bergantian, adakah pembaca yang ingin menyumbang?

Kami pulang.

Kami pulang sambil bersenandung, menyanyikan kepada langit, kepada semesta tentang kabar dari seorang Syahrial Tarigan. Bahwa ada seorang yang tinggal ditengah-tengah pemukiman nasrani, tapi sejak lima belas tahun lalu setelah dinaungi cahaya, setia memeluk islam. Tentang seorang tangguh Rehmalemna Boru Karo, bahwa ada seorang perempuan yang membawa tiga anaknya yang masih kecil-kecil bekerja di ladang orang sampai petang, demi kesembuhan sang suami, demi kelanjutan hidup keluarganya.

Arif kawan ku berjaulah hari itu, lagi-lagi punya ide brilian, cocoklah beliau yang sekarang tampil macho dengan cambang dan brewok mirip peserta kontes dangdut ini kita sebut sebagai penasihat perjalanan. Beliau yang tambun menyarankan untuk mampir dulu ke Romo Syafi’i di Bangun Purba.

“Silaturahim, kawan”

“Lama tak jumpa Romo”

Diteras rumah Romo, diantara pot-pot cabai dan sirih merah yang beliau pelihara, nasib membawa kami disuguhi jeruk manis sebagai menu pembuka, dan roti kacang Siantar sebagai makanan penutup. Minumnya es teh manis dingin. Pakai sedotan yang ujungnya bisa bengkok, bukan main. Makanan utama di siang yang syahdu itu tak tanggung, Ayam pelihara’annya romo wabil khusus disembelih, diolah sedemikian rupa dengan bumbu-bumbu yang wajar, maka jadilah menu andalan Ayam Kampung Gulai Kentang plus Tauco Tahu. Kami minta maaf karena tak sanggup lagi saat istri beliau menawarkan kolak pisang gula aren yang baru matang. Ayam Gulai sudah cukup buat kami merasa mendingan. Arif habis dua piring.

 

Your Nanda Koswara!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s