Berjumpa Rehmalemna dan Langit yang Sedang Tersenyum

nanda koswara foto taken by sony xperia e1

Perjalanan menghantarkan kembali pada padang ilalang dan riuhnya kawanan unggas dalam iringan menuju pulang. Sesuatu yang membuat mata terbuka dan dilanda perasaan senang, kesekian kali kesini, tak pernah rasanya berubah. Ini adalah Sinembah Tanjung Muda Hulu dengan rute berbeda, yang ditempuh sendirian. Tiba nanti saatnya jika Anda tak lagi punya kawan yang bisa diajak untuk sebuah perjalanan, mengunjungi tempat yang jauh, carilah seseorang untuk Anda nikahi, menantu untuk Ibu Anda, Teman Hidup kemanapun Anda pergi.

Sebagaimana mestinya tulisan ini hadir lebih awal. Tapi Sinembah Tanjung Muda Hulu adalah kesenangan yang berbeda, sepulang dari sana, saya meriang. Tak enak tidur, tak enak makan, kecuali pakai telur yang di dadar pakai sayur mayur. Itu adalah wortel dan kol yang dicincang halus, dicampur telur, cabai rawit dan tentu saja bawang, ditambah sedikit garam. Ibu Suwarni tak pernah kehabisan akal dalam inovasi soal masakan. Adalah sulit untuk tidak mencintai apa yang dibuatnya dengan sepenuh hati.

Ini adalah kali kedua saya silaturahim kerumahnya, Desa Rumah Rih, kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu, Deli Serdang. ini adalah cerita yang kaitannya ada pada tulisan di postingan sebelumnya. Tentang pendar hidayah dari langit dan menghujam ke bumi, tentang taqwanya seorang isteri, tentang mengapa saya jadi begitu muak dengan diri saya sendiri dalam memaknai syukur dan sabar, tentang Rehmalemna, dan lelaki yang terus tersenyum.

Kak Susilowati berkabar kalau Rumah Zakat meluluskan permohonan bantuan perobatan yang saya ajukan untuk Syahrial Tarigan. Titah beliau adalah saya akan dihubungi Budi Syahputra, seseorang yang mengepalai Rumah Zakat di Medan. Dan hari menyenangkan itu datang, mereka meminta untuk ke kantornya di Jalan Setia Budi, depan Masjid Muhtadin, sebelum tikungan yang mengarah ke Mie Aceh Titi Bobrok, dimana hari itu langit tersenyum.

Sampai di Rumah Zakat Medan, setelah menunggu untuk hal-hal yang penting, saya segera diurusi. Menyampaikan kabar terkini soal Syahrial Tarigan, juga tentang “Kabarnya beliau mualaf ya?” “betul pak, sudah sejak lima belas tahun yang lalu” Lalu Pak Budi menimpali “Itu bukan mualaf lagi, Anda tidak bisa menyebut seperti itu pada orang yang telah memeluk islam selama lima belas tahun”. Tapi Syahrial adalah kasus berbeda, sekelilingnya masih gulita, dan sejak kemuslimannya dia tidak pernah merasakan betul-betul apa itu nikmatnya kesehatan.

Setelahnya ada dua pilihan untuk menyampaiakan amanah dari kawan-kawan dan Rumah Zakat ini. Pertama adalah menyampaikannya langsung hari itu juga, sore pukul tujuh belas. Pilihan selanjutnya adalah menunda untuk hari selanjutnya yang lebih lapang, pulang dulu ke Galang, karena sore buru-buru datang. Alhamdulillah pilihan jatuh pada yang pertama, ada Pak Asral Sinaga yang dalam urusan niaga kebetulan sedang di Sinembah Tanjung Muda Hulu, beliau adalah penjual sandal sepatu di pasar pekanan yang saya dulu pernah dibolehkan magang jualan bersamanya. Pulang dari pekanan waktu itu saya diberi gaji dua puluh ribu, waktu itu cukup untuk dua bungkus apem balik.

Pak Asral menerangkan tentang rute dan kemungkinan waktu tempuh untuk berangkat dari sana. Itu artinya Anda tak perlu mencapai Syahrial via Galang. Menyusuri Setia Budi, Tri Tura lalu belok ke kanan simpang Titi Kuning, mengarah ke Deli Tua. Saya menutup ponsel dan segera pergi, “Lari-lari delapan puluh kilo per jam, Nand..” titah Pak Asral, “Kalau memang bisa seperti itu, Kau cuma perlu dua jam untuk sampai sini.” Itu adalah hitungan diluar jalan macet, lampu merah tujuh belas tiang, sesuka-sukanya supir angkot dan abang becak di Medan yang mengemudi seperti jalan raya ini dibangun oleh kakak ipar nya.

Pak Asral selalu terhubung, beliau selalu menelefon menanyakan sudah dimana saya sampai, membantu saya menentukan rute, menemukan jalur-jalur yang tepat menuju Syahrial, bijaksana sekali. Oh betapa lelaki awet muda ini punya banyak keahlian, jika waktunya olahraga beliau adalah seorang libero, bertindak sekaligus sebagai dirijen lapangan tengah tim kami, menyuplai bola-bola matang untuk striker Saiful Bahri Barus. Jika waktunya memancing ke laut, beliau adalah yang dengan benang dua mata pancing mengangkat ikan kerapuh di kedua-duanya ke atas kapal kami. Lalu ikan itu disulap jadi sesuatu yang lezat diatas kapal yang membelah Selat Malaka. Jika waktunya berpergian, yang paling faham peta jalan adalah Pak Asral.

 nanda koswara foto taken by pocket camera on march 24 2013

Berjalan sudah lumayan lama, akhirnya saya sampai di Deli Tua, sudah termasuk bertanya jalan ke abang becak yang dijawab dengan gaya menyebalkan,

“Oh, gampang boi.. Ini Deli Tua, ini kau lurus aja, pokoknya lurus aja dulu”

“Lurus aja bang?”

“Iya, jumpa simpang tanya orang lagi, masih jauh kali yang kau bilang apa itu namanya tadi?”

Anda tidak perlu menjawab, dan buru-burulah mengucapkan terima kasih sambil tersenyum ala Gatot Pujo Nugroho, kita tau pria ini senyumnya kurang simetris, cocok untuk abang becak barusan, sesuai.

nanda koswara foto taken by sony xperia e1 (2)

Sampai di Rumah Sakit Sembiring saya parkir di depan gerbang nya. Disini Syahrial pernah dilarikan setelah jatuh dari tebing untuk memancing ikan jurung, sajian untuk tamu jauh yang diupayakan sebab tiada lagi yang ia punya untuk menjamu, bertahun yang lalu. Pak Asral mulai bernegosiasi soal hari yang segera gelap. Beliau meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, membuat patokan tempat-tempat yang harus dicapai. Anda tidak bisa bertanya nama jalan, mereka tak punya, bapak-bapak di kedai kopi yang saya tanyai pun menjawab nya dengan sangat handal.

“STM Hulu?”

“Iya, bapak”

“Oh, kira-kira lima batu lagi, nak”

Percayalah ditengah hari yang segera malam betapa saya ingin segera memeluk bapak ini dan menangis. Aduh bapak, saya sudah berkendara hampir dua jam, sekarang sudah gelap, tidak ada petunjuk jelas, Anda berkata lima batu lagi. Ilmu fisika dari mana yang menerangkan suatu keilmuan dengan satuan batu.

Itu adalah rabu sore yang bungah, seseorang mulai diserang perasaan-perasaan aneh. Tapi harus tetap tenang, karena cuma itu caranya supaya bisa tetap tenang. Tak jauh dari ‘bapak lima batu’ Pak Asral menelefon, menanyakan sesuatu yang tak bisa saya jawab. Gelap dan tidak ada tulisan “Selamat Datang di Desa Bapak Lima Batu”. Itu artinya selesai, seseorang harus menemukan jalurnya sendiri. Bertanya kepada lebih dari sepuluh orang mirip orang kesasar, memacu roda dua melewati ladang-ladang mirip orang panik, dan menghajar tujuh belas tikungan mirip Sete Gibernau.

Lega setelah sampai simpang Talun Kenas, Sinembah Tanjung Muda Hilir. Dan lima batu itu adalah jarak yang jauh, kawan. Jangan pernah percaya kalau orang gunung bilang tentang jarak dari sini ke situ yang dekat, dekat bagi mereka itu artinya jauh, jauh bagi mereka itu artinya sangat-sangat jauh. Anda bisa berkendara dengan lebih wajar ketika panik sudah hilang, dan status orang kesasar sudah resmi ditinggalkan. Hanya perlu sedikit kesabaran, sampai ada gereja besar yang tak jauh disebelahnya ada Masjid, artinya selamat, Anda sudah sampai, dan menyentuh garis finish dengan gembira, ini adalah marathon terjauh, ini adalah etape terpanik, ini adalah capaian yang tidak begitu buruk, dua jam lebih tiga puluh menit.

Memacu roda dua ke tempat yang jauh, sendirian, menimbulkan sensasi. Inspirasi lain juga datang dari akun instagram yang saya lupa namanya apa, yang melintasi beberapa Provinsi dengan kuda besinya. Mungkin itu adalah defenisi bahagia, bagi orang yang ingin “menghilang” sejenak dari kehidupan, mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Itu adalah kisah yang memicu Anda untuk segera merencanakan touring ke tempat yang berjarak lebih panjang, berhari-hari, dengan niat tujuan yang lebih mulia, sambil menyanyikan ‘Ingin Pulang’ nya Sheila On Seven sebagai backsound. Meninggalkan keluarga dirumah yang hangat untuk kemudian setengah mati Anda rindukan.

Saya sampai ke Pak Asral saat beliau selesai packing barang dagangan dan ada truck khusus yang mengangkutnya ke Galang. Sambil menuju Desa Rumah Rih, saya menanyakan beberapa hal penting ke Pak Asral, sangat penting, seperti dimana sebaiknya kita makan malam, apakah disini ada warung yang menjual makanan halal dan lain sebagainya. Sisanya tentang betapa Medan-Sinembah Tanjung Muda Hulu via Deli Tua, Sibiru-Biru dan hutan belantara itu sangat bikin panik. Lelaki awet muda itu di boncengan belakang menanggapinya dengan tertawa. Saya kelaparan.

Miles for Smile

Syahrial tertidur miring mirip orang kedinginan di ruang tengah rumahnya, beralaskan ambal tipis ketika kami datang, belum apa-apa dia sudah bikin saya marah-marah dengan kelakuan nya seperti itu. Dan memang sejak dikabari bahwa akan datang pihak Rumah Zakat, beliau menungguinya sejak pagi, dengan sweater kuning dan kopiah hitam, lelaki ini punya selera fashion juga ternyata meskipun warna kedua benda tersebut sudah, tentu saja, pudar dimakan usia. Kami ditanyai apakah mau minum Teh Botol Sosro, biar dibelikan di warung dekat rumahnya. Kami menolak dengan alasan tak berlama-lama, walaupun alasan sesungguhnya yang kami perlukan adalah, karbohidrat.

Seseorang yang keluar dari pintu dapur rumahnya sukses bikin saya gugup. Berjalan sambil tertunduk, tidak bicara sepatah kata pun, tidak seperti inang-inang yang kami jumpai di sekitar rumah syahrial, perempuan ini berjilbab rapi. Ia adalah yang saya telah menuliskan pada postingan sebelumnya, Ia adalah yang dinaungi pendar hidayah itu, Ia adalah yang pergi ke ladang setiap hari membawa serta anak-anaknya, demi melanjutkan hidup karena sang suami di dera sakit, Ia adalah yang melantunkan ayat-ayat suci dan membuat Al-Qur’an tersusun rapi di sudut rumahnya, sementara tetangga sebelahnya memutar musik barat. Ia adalah Rehmalemna Boru Karo, beranjak duduk di sebelah Lelaki yang terus tersenyum.

Lihatlah perempuan ini begitu sabar, begitu syukur. Lihatlah tidak sepatah katapun keluar darinya, semua diwakilkan pada sang suami. Dan selanjutnya amanah pun disampaikan, tentang salam-salam, tentang dukungan semangat dari kawan-kawan, tentang biaya perobatan, tentang jalan pengobatan alternatif ruqyah yang disarankan Kak Ncuss untuk Syahrial. Tentang do’a-do’a. Kami buru-buru pamit setelah menyadari jalur pulang ke Galang lebih gelap, lebih hutan belantara, lubang di jalan nya lebih banyak dan tikungan nya lebih liku dari yang tadi. Ingin sekali berlama-lama disana, tapi kondisi membuat itu tidak bisa dipaksakan, karena Saiful Bahri Barus pernah bilang bahwa segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik, hal-hal yang bisa dipaksakan adalah hal-hal seperti menikah.

Sebelum pulang Pak Asral meminta untuk mampir dulu ke SDIT Peduli Ummat nya Ustadz Amal Lubis untuk shalat Isya dan menjamak maghrib di Mushala nya. Pak Asral belum juga shalat maghrib karena air bersih jadi sesuatu yang langkah, bahkan di Masjid dekatnya berjualan tadi. Adalah info mengenai Syahrial ini Ust. Amal orang yang mengunggahnya ke Media Sosial. Itu mengapa jaringan internet sangat berjasa di tempat pelosok yang belum pernah dikunjungi Bupati ini.

Kami pulang saat langit bertabur bintang dan mentari pergi sebentar ke dunia yang lain. Anda harus merasakan senang setelah selesai melakukan sesuatu dan merayakannya sambil mengucapkan hamdallah. Terima Kasih Ust. Amal Lubis dan  Pak Asral Sinaga. Terlebih, Jazakillah khayran ahsanul Jazza Kak Susilowati a.k.a Susie Ncuss! Yang mau-maunya ngurusin semua-muanya di Rumah Zakat Pusat, sampeyan terbaik pokoknya kak. Juga Pak Budi Syahputra di Rumah Zakat Medan, salam dari Pak Syahrial dan ungkap terima kasih beliau lewat senyum yang terus menghias wajahnya.

Sebentar jadi terngiang kalimat seorang kawan, “Nand, berbuat saja, biar Allah yang sempurnakan amal, libatkan Dia dalam setiap langkah, libatkan Dia dalam setiap kebaikan”.

Saya mempercayai dahsyatnya do’a dalam safar, untuk dilancarkan, untuk dijaga, untuk dilindungi dan langkahnya dipenuhi Ridha Ilahi Rabbi. Do’a yang sebaris, Do’a yang dibisikan sambil memejamkan mata ketika panik dan kesasar.

“Yaa Rabb, tolonglah hamba untuk menolong orang lain”

Dikabulkan Nya, perjalanan kami dilancarkan, disehatkan, sentausa. Hanya seusai Bangun Purba, sedikit lagi mencapai Galang, rantai gear yang menggerakan roda belakang putus waktu ngebut, nyangkut, motor tak bisa jalan. Pak Asral mengusahakannya agar bisa dituntun ke warung makan terdekat, karena ada sesuatu yang lebih penting dari gear motor, yaitu asupan nutrisi.

Selagi saya bertugas mengurusi buku menu, Pak Asral menelefon Pak Ruslan Purba, seseorang lainnya yang baik hati untuk mengirimkan bala bantuan. Datang dengan motor berbeda bersama Bang Abdi, binaan saya di ta’lim Pemuda Al-Ikhlas. Setelah perut aman, dan pandangan mata sudah jelas. Kami bergegas, bang Abdi mendorong motor saya sampai rumah dengan kaki kanan nya. Pak Ruslan mengamankan Pak Asral dengan motor yang lain. Malam itu sekali lagi langit yang gelap serasa tersenyum lewat terangnya rembulan. Senyum yang manis sekali.

“Malam memeluk relung yang kalut,

Tabur bintang redakan hati yang takut.

Jalan pulang dihiasi rembulan yang syahdu,

Demi mengenangnya setengah mati hatiku rindu.”

Your Nanda Koswara!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s