Tempat dan Jeda yang Tidak Penting Untuk Ditulis

Medan City taken from 21th floor of JW MARRIOTT by SONY Xperia E1

Bagi saya yang mulai terbiasa melihat dari sudut pandang orang kelima, adalah sesuatu yang menyenangkan sekaligus aneh, dan pada kenyataannya memang seperti itu ketika Anda mulai mengenal seseorang yang punya latar belakang pendidikan ke selatan, lalu ketika dewasa melakukan sesuatu yang mengarah ke utara. Hidup adalah jungkir balik, semakin Anda dibuat sakit kepala sebelah dibuatnya, itu semakin bagus untuk proses menjadi dewasa. Segala sesuatu memang tidak beraturan dan biasanya tidak terletak pada tempat semestinya ia berada. Tidak harus ikut jungkir balik dan menjadi gila, Anda hanya harus sedikit membiasakan diri menanggapinya.

Anggap ini adalah sebuah catatan kaki dari kejadian yang tidak penting untuk ditulis. Untuk saya, dan mungkin bagi sebagian yang lain, berjumpa dengan orang-orang adalah saat dimana kita harus menjadi pendengar yang baik. Terlebih itu adalah duduk satu meja dengan kursi yang melingkar dan menghabiskan waktu yang lama. Anda harus mendengarkan, menghargai setiap giliran dari mereka yang berbicara, untuk selanjutnya menuliskan setiap kalimat dari omongan itu menjadi sebuah naskah pelajaran jika memang ada inspirasi disana. Dan pilihan selanjutnya adalah mendengarkannya saja sebagai syarat kesopanan lalu melupakannya tak peduli.

Seusai Dzuhur waktu setempat kala itu, bagi saya tetap yang lebih menarik bukan deretan meja dan kursi yang terbuat dari fiber ini, tapi disudut sana, pada sisi luar cafe yang bahannya terbuat dari kayu. Dan kesemuanya bisa ditoleransi sejak seseorang duduk dan memesan coklat panas yang katanya lebih mirip susu sachet. Sejak langit setengah jingga setengah mendung secara resmi digantikan hujan yang turun dengan deras. Saat suaranya yang selama duduk disana bagi saya adalah siksaan untuk detak jantung yang tiba-tiba jadi tak beraturan, dan itu melelahkan ketika Anda masih saja merasakan ketika menuliskannya.

Saya hampir terpejam untuk melantunkan do’a agar semua ini segera selesai dan bisa pamit untuk pulang. Tapi digagalkan ketika seseorang mengomentari kakak-kakak pejalan kaki yang payungnya lepas dihembus angin, jadilah ia yang mengejar benda yang harusnya melindunginya sejak tadi itu jadi kuyup kebasahan. Itu adalah seperti pertunjukan, kendaraan yang berlalu lalang itu juga pertunjukan, lampu pada tiang pinggir jalan yang mulai dinyalakan juga pertunjukan. Mereka yang kerepotan menyelimuti property cafe dengan terpal agar tak kehujanan juga pertunjukan. Pertunjukan yang membuat detak jantung tak beraturan menjadi samar-samar bisa dilupakan.

Terlalu banyak yang harus didengarkan, lelucon yang membuat tertawa dan kudapan diatas meja. Dan itu jadi tambah melelahkan saat seseorang yang sejak tadi duduk di meja yang sama juga menuntut harus didengarkan. Kita sama-sama tau bahwa ini adalah sesuatu yang kurang menyenangkan. Malam segera datang menyelamatkan, saat waktu menunjukan saat yang tepat untuk bubar, saat satu sama lain mulai mengucapkan pamit dan hujan menyisakan rintik-rintik kecil, membias dan jatuh tepat dibawah sorotan lampu tiang pinggir jalan. Malam yang menyesakkan, mendadak jadi tambah bikin kesal.

Percayalah itu semua bisa diatasi, dengan banyak hal terutama menjadi orang asing baginya. Jadi manusia dengan sudut pandang orang kelima tunggal. Meskipun sampai coklat panas yang katanya lebih mirip susu sachet jadi tandas, hal itu masih belum berhasil dilakukan. Satu-satunya yang benar-benar menyadarkan adalah saat seseorang mengayunkan langkah hati-hatinya diatas trotoar yang basah, diterangi lampu tiang tepi jalan yang megah, dan rintik kecil sisa hujan yang semua itu membuat Anda setengah gila.

Saya harus membuat segalanya terjaga dengan sebisanya menahan kata-kata. Tidak ada puisi yang mewakili apapun. Tidak ada daftar menu untuk percakapan yang boleh dan percakapan yang tidak boleh dilakukan. Tidak ada alasan untuk mengucapkan apapun. Tidak ada lirik dari lagu bodoh yang dinyanyikan didepan siapapun. Anda hanya harus memakai jaket yang tebal, pelindung kepala yang mahal, dan berkendara dengan cara yang benar untuk pulang. Itu sudah cukup, lebih dari cukup.

Arawsok Adnan (baca jungkir balik)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s