Berjumpa Sunyi dan Surga yang Dilukai

DSC03608

Kesalahan saya membuat janji pukul 5.30 Waktu Indonesia Bagus, mereka masih berkolor, belum mandi, malah ada yang masih tidur. Seseorang yang masih berkolor adalah yang menuliskan “Ada satu cara untuk melihat seseorang berharga yaitu dengan melihatnya menghargai waktu”. Dan seseorang yang masih tidur padahal seharusnya dia sudah harus di titik temu pada jam segitu adalah yang menuliskan “Waktu adalah salah satu cara yang dilihat untuk menghargai seseorang”. Keduanya menuliskan di ‘BBM Meeting Chat’ dengan meyakinkan pada malam hari sebelum pertemuan, saya takjub begitu membacanya, dan hampir menangis sewaktu menghadapi kenyataan sesungguhnya pada keesokan harinya.

Setelah mengomel, disuguhi sarapan lontong sayur dan setoples kue nastar kami pun berangkat dengan mengucaplafadzh  basmallah, pukul 7.30 Waktu Indonesia Berdaya, dua jam lebih dari waktu yang disepakati. Lalu sepanjang perjalanan kami semua mengomel, “Bagaimana negara ini mau maju? Masih suka telat begini” lalu yang lain menimpali “Bagaimana negeri ini bisa maju? Orang-orang masih suka buang sampah sembarangan” satunya lagi membalas “Bagaimana Indonesia bisa bagus? Orang-orang tak mau mengutip sampah yang dibuang sembarangan ini”. Orang terakhir cuma bisa diam sambil sibuk membaguskan posisi kaca mata dan jaket Manchester United kesayangannya.

Kawah Putih Tinggi Raja baru bersedia didatangi, setelah hari-hari yang lalu banyak cerita tentangnya yang mampir kepada kami. Lebaran adalah moment yang cocok untuk main-main, setelah masing-masing sibuk dengan hidupnya pada waktu selain lebaran. Naik sepeda motor dari Desa Petumbukan ke Silindak tak masalah, jalannya mulus delapan puluh persen. Lewat Silindak sedikit pun lebih mulus lagi, Serdang Bedagai betul-betul serius mengurusi infrastrukturnya. Setelah sampai di Simalungun, setang kemudi belok ke arah kiri dan kami disambut sama opung-opung yang duduk di warung kopi.

“Mau kemana kalian?”

“Kawah putih, pak”

“Oke, lanjutkan”

Jarak dari simpang terakhir yang ber-aspal sampai ke lokasi kawah putihnya adalah 10 Km. Ini adalah jalan berbatu, berlubang dan kadang berduri. Hati-hati ya adik-adik kalau kesini, banyak jalan yang kena erosi dan longsor, kanan-kiri banyak tebing curam. Tanjakan dan penurunannya pun sukses bikin meriang. Belum lagi becek-beceknya, jangan kau tanya lagi soal ini. Maka sebelum semuanya pergi, penting sekali untuk menyiapkan kendaraan dan mental. Terutama mental untuk menghadapi premanisme pemuda sekitar yang dengan arogan memunguti siapa saja yang bertujuan ke kawah putih dengan 10 ribu rupiah untuk setiap sepeda motor.

“Kena pungli 3 kali itu masih sedikit, nak”

“Biasanya kena berapa, ya nek?”

“Lebih sering orang kena 6 kali kutipan”

Terang nenek pemilik warung yang sekaligus rumah tinggalnya ditengah ladang duku di pinggir jalan yang kami singgahi untuk numpang buang hajat tersebut. Benar saja, didepan masih ada kutipan lagi. Kata mereka pemuda-pemuda dan bapak-bapak pelaku pungutan liar, kutipan ini ditujukan untuk perbaikan jalan desa mereka. Tapi pernyataan tersebut disangkal abang-abang pemilik warung di lokasi kawah putih.

“Itu tidak benar”

“kutipan itu untuk mereka sendiri”

“tidak untuk perbaikn jalan”

Tidak ada karcis masuk seperti yang ada pada lokasi wisata lainnya. Tidak ada pengelola dan manajerial untuk pemeliharaan kawah putih anugerah Allah Yang Maha Kuasa. Sampah dibuang seenaknya, parkir sepuluh ribu rupiah satu kereta, nyebrang pakai titi bambu bayar seribu rupiah untuk satu manusia bernyawa, jangan kau tanya soal harga air mineral dan harga mie instan cepat saji siram air panas, soal numpang foto di anjungan bambu, soal bibik-bibik yang dengan gampang minta bekal kue yang kami bawa, soal suhu air panas di kawah putih itu. Jangan kau tanya, kami tak bawa termometer.

nanda koswara

Hal yang menyenangkan adalah bahwa kesusahpayahan mencapai ini semua terbayar dengan lunas melalui hamparan alam yang cantik, udara yang bersih dan syukur yang menyala. Berjalan beberapa kilometer dari kawah putih, akan bisa dijumpai sungai yang disana kita bisa ambil air wudhu karena airnya jernih, bersih dan bisa langsung diminum. Menyenangkan karena sesiang itu kawah putih dan sekitarnya meskipun banyak sampah berserakan, kondisinya belum terlalu ramai. Kami sebebas-bebasnya menikmati kesunyian, sebebas-bebasnya mengomel, sebebas-bebasnya berkelahi satu sama lain, mirip saudara jauh yang lama tidak berjumpa. Bergelut seperti anak kucing yang mencandai anak dari induk yang juga melahirkan nya.

Diksi ku sederhana saja. Perjalanan yang sejadi-jadinya menyebalkan oleh jalan desa yang rusak, pungutan liar yang … liar, dan sampah yang dibuang sembarangan. Akan lunas oleh syukur tentang apapun; kebersamaan, kesunyian, dan keindahan.Waktu amat begitu singkat, kami telah saling merindukan bahkan sebelum berpisah satu sama lain. Waktu amat begitu singkat, sebelum Anda benar-benar mengisi pertemanan dengan prasangka baik dan saling mendo’akan satu sama lain. Waktu begitu singkat, maka semoga tidak ada keluh dan sesal, sebelum hamparan hijau, tebing, ilalang dan kesunyian melindapkan suara dan menyalakan kesyukuran. Sampai jumpa tahun depan, kawan-kawan. Semoga masih ada waktu.

Your Nanda Koswara.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s