Sebuah Rumah dan Kata yang Urung Sampai

Jalan Kembali

Nama yang kami kenal dari dulu dari perempuan itu adalah Nenek Metty. Sering selama bulan Ramdhan Ibu Suwarni suka nyuruh-nyuruh kasih kolak pisang ke beliau. Biasanya pakai rantang warna putih atau mangkuk dari beling. Kolak pisang bulan Ramadhan versi Ibu Suwarni biasanya dilengkapi kolang-kaling, kuahnya dibuat agak banyak supaya bisa kasih-kasih ke jiran. Anak-anaknya ditugasi beli gula aren ke warung, atau dimintai untuk parut kelapa. Dibuat setelah tidur siang minimal satu jam, sisa-sisa tenaga bulan puasa. Kemudian hari setelah dewasa dan tahu sedikit saya menyampaikan ke ibu saya, kalau selama bulan puasa pahala buat beliau melimpah ruah karena membangunkan sahur, menyiapkan sahur, menyuruh mandi dan menyiapkan sajian berbuka.

Dirumah Nenek Metty, sudah biasa kalau yang menyambut duluan adalah Kakek Amin, beliau ini kekasih hati, senandung jiwa, suami dari Nenenk Metty, dan keduanya sudah sepuh. Kakek Amin berpenghasilan dari profesi berjaga malam di sebuah rumah dinas perkebunan. Cukup buat makan, minum dan hidup. Nenek Metty punya sedikit keahlian memijat. Sejak dulu kami berjiran dan dipisah tembok perkebunan, sampai sekarang kami pindah ke tempat agak jauh dari rumahnya, Ibu Suwarni suka panggil-panggil Nenek Metty buat minta dipijat. Lumayan katanya, tidak kalah dibandingkan dengan dua Nenek tukang pijat lainnya. Iya, Ibu ku punya tiga orang langganan tukang pijat.

Dan sejak dua tahun lalu, kebersamaan Kakek Amin dan Nenek Metty dipisahkan sebuah garis. Garis tersebut bertransformasi menjadi lekuk, rentang dan bentuk. Sebuah bentuk-bentuk huruf, yang menuliskan sebuah kata: Rindu. Kakek Amin jatuh sakit, anak-anaknya di tempat yang jauh datang menjemput untuk kemudian meminta agar ayahnya itu dirawat dirumah mereka saja. Nenek Metty tidak bisa ikut, sampai sekarang beliau yang sepuh masih tinggal terpisah dari suaminya, belahan jiwanya, kidung sedih dan gelak tawanya.

Suatu hari sambil memijat Ibu Suwarni, sayup-sayup dari luar kamar aku dengar percakapan mereka. Ibu tanya-tanya kabar Kakek Amin. Dan jawaban yang keluar dari Nenek Metty membuat yang mendengarnya merasa nyeri.

“Aku tak tahu sekarang bagaimana dia”

“Apakah sehat”

“Apakah nyenyak tidurnya”

“Apakah kenyang makannya”

“Malang nya aku..”

Lama sejak percakapan itu, malam ini sepulang dari mengajar kujumpai lagi Nenek Metty sedang duduk diteras istananya. Sekarang kondisinya agak lumayan, dindingnya dari sudah terbuat dari bata dan semen. Meskipun atapnya masih daun aren dan lantainya masih tanah. Nenek Metty duduk di teras nya yang remang, di usia yang senja dan raut yang resah. Merindu Kakek Amin yang renta, merindu kabarnya yang menahun bersama. Ingin bertanya kabar ia tak punya sarana, ingin menemui cinta nya ia tak punya daya. Nenek Metty sedang duduk diteras istananya yang remang, di usianya yang senja. Menatap kosong ke barat daya tempat matahari menyembunyikan cahaya. Menyirat sebuah kata yang urung sampai kepada Kakek Amin.

My October, Nansky

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s