Gedung Menyebalkan dan Gembira Menjadi Pelayan

atmosphere in my classroom by nansky

 

Saya sungguh menikmati hari-hari menjadi seorang guru. Ah, tidak saya sedang berbohong karena ini semua menyebalkan. Pada kenyataannya gedung putih biru yang monoton itu menyebalkan, anak-anak yang bau amis itu menyebalkan, kadang ingusan dan bapaknya lupa bawain sapu tangan. Toiletnya buruk, lantainya selalu kotor, kantor guru berantakan, anak-anaknya bergajul. Ini semua sungguh menyebalkan untuk ukuran orang yang baru datang dan pergi mengajar. Tapi tunggu dulu, bukankah saya sudah bertahan selama enam tahun? Six year! Dan semuanya masih menyebalkan? Tidak.

Tahun-tahun kedua menjadi guru, Anda akan mulai menerima ingus dan bau amis. Menerima bahwa semua itu adalah bagian dari yang tidak terpisahkan dari mereka, laskar penggemar bakso goreng. Gedung putih biru menjadi tidak masalah, toh laskar yang sama barusan sukses menghiasinya dengan aneka coretan pensil dan bekas pantulan bola kasti, semakin indah. Toilet buruk biasa saja, dulu waktu SD dan masih juga ingusan, toilet di sekolah saya kondisinya jauh lebih buruk dan berbau, yang sekarang aroma baunya sudah tidak terlalu kuat.

Tahun ketiga Anda mulai merasa bahwa ini adalah sesuatu yang baik. Mengajarkan aneka macam ilmu kepada bocah-bocah penerus. Anda akan merasa bahagia, sebahagia orang yang baru datang dari menjelajahi planet Venus dan mendarat ke bumi, lalu dijemput keluarganya di parkiran. Anda akan menjumpai murid seperti Yoga.

“Yoga, kenapa kamu tak mau duduk sebangku sama Cempluk?”
“Soalnya dia bau, Pak Nand”
“Kalau dia sudah wangi, apakah kau mau duduk sama dia?”
“Ndak mau, Pak Nand”
Saya mulai kehabisan ide. Dea dari bangku penonton nyeletuk.
“Tadi Yoga juga mukul Cempluk, Pak Nand”
“Saya disuruh sama Rizi”
“Iya, semua anak laki-laki dikelas ini nurut sama Rizi”
Dea Yuanda berdiplomasi.
“Rizi dipanggil Boss”
Saya kehabisan nafas. Dalam waktu yang lama. Yoga cuma bilang.
“Pak Nand, ngomong pak”

Manjadi guru, Anda akan belajar menenangkan anak yang menangis. Menjadi pelayan untuk mereka dan itu menyenangkan. Tangisan mereka biasanya disebabkan oleh masalah-masalah yang kecil. Boleh itu karena pensilnya hilang, bisa jadi karena berantam, atau karena lapar. Ya ampun, Anda akan belajar menjadi problem solver, pensil yang hilang diganti dengan pensil yang Anda ambil dari saku kemeja, masalah selesai dan Anda harus beli pensil baru. Nangis karena berantam, Anda harus menjadi Jusuf Kalla yang mendamaikan Aceh dan NKRI di Finlandia. Masalah selesai dan Anda menjadi wakil presiden kembali bersama orang yang sebelumnya Anda kritik. Nangis karena lapar, Subhanallah Anda harus mengajaknya ke kantin sekolah, karena ternyata Anda juga lapar.

Anda jadi orang yang sangat sabar di suatu saat dan saat lainya perlu memberikan “pelajaran” diluar kelas. Seperti apa yang dialami Siti Aisyah.

“Kamu belum siap PR?”
“Iya, Pak Nand”
“Kamu sibuk banyak kerjaan?”
“Saya lupa kalau punya PR, Pak Nand”
Siangnya sepulang sekolah.
“Pak Nand, bonceng pak”
“Kamu siapa?”
“Siti Aisyah, murid bapak”
“Oh, saya lupa kalau punya murid macam kamu”

Jangan paksa saya bicara soal teman sejawat. Karena segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Hal-hal yang bisa dipaksakan adalah hal-hal seperti menikah. Guru-guru di sekolah tempat saya mengajar sudah bekerja dengan sangat baik. Baik sekali. Bukan main. Mereka adalah orang-orang yang menulis RPP dan Silabus canggih dengan perhitungan standar kompetensi yang matang. Disesuaikan dengan apapun yang ada di kampung tempat tinggal Laskar penggemar bakso goreng. Mereka adalah orang-orang yang betah mengajar di dalam kelas, istimewa sekali. Bahkan tidak akan keluar kelas untuk hal-hal yang remeh, seperti belanja cemilan atau pergi ke warung di jam pelajaran, tidak akan. Menjaga anak-anak dengan penuh perhatian, menuntun mereka masuk kedalam materi-materi yang semestinya dikuasi dengan penuh kesabaran.

Guru-guru ditempat saya mengajar tidak pernah teriak dan pukul-pukul meja untuk membuat para bergajul diam dan tenang di dalam kelas. Mengagumkan. Wajah mereka adalah yang cemberut karena memikirkan masalah dan metode yang pas untuk peserta didik. Wajah mereka adalah yang ceria sumringah karena mengajari ananda dengan penuh kecintaan sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Kantor akan selalu sepi, karena mereka sibuk mengajar di dalam kelas. Tidak ada rumpa-rumpi menceritakan kehidupan rumah tangga orang lain. Meja di kantor tidak pernah berserakan bekas bungkus jajanan, disana kalau tidak bertebaran RPP, ya sudah pasti bertebaran buku-buku tugas yang belum selesai di koreksi.

Sebentar. Saya kehabisan nafas. Ternyata menuliskan sesuatu yang tidak benar-benar terjadi itu melelahkan ya.

Your Nansky.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s