Saya Blunder di Muqaddimah

 

nansky

Tiba-tiba saya ada di SMP Islam Terpadu Ali Bin Abi Thalib Tanjung Morawa. Ditengah anak-anak murid yang gaduh. Di jum’at yang berjalan pelan. Sekolah ini baru tahun ketiga mulai menerima siswa untuk diajari ilmu. Mereka punya kue-kue enak dan gedung belajar yang dibangun diatas tanah diagonal. Menurun begitu, seperti turunan jalan. Bukan menanjak begitu, seperti harga-harga kebutuhan pokok yang bikin ibu-ibu merepet. Bukan begitu.

Ceritanya ada majelis taklim di sekolah ini yang punya agenda bulanan untuk kajian umum. Diluar mentoring pekanan yang mereka ikuti. Tema kajian jum’at pagi yang gaduh tadi, 18 Desember 2015 adalah tentang cinta. Aduh, temanya menantang sekali. Bukankah ini persoalan yang tak ada habisnya. Ini sungguh menegangkan. Seperti saat Anda harus menyelesaikan teka-teki silang dalam tempo cepat dan diliput televisi nasional dalam siaran langsung. Oke, pengibaratannya terlalu menyedihkan.

Saya kirim WhatsApp ke mba Vienna dalam rangka konsultasi. Seorang kawan yang baik hati. Dia mengirimi 4 file persentasi tentang Cinta. Sambil kasih wejangan singkat, “Cinta itu fitrah, tapi kalau ngga punya ilmu dan lingkungan yang baik, jadi problem”. File yang beliau kirim saya coba cerna, dalam-dalam, karena Anda tidak bisa memberi materi yang biasa diberikan untuk mahasiswa/ dewasa kepada bocah-bocah yang tahun ajaran kemarin baru lulus SD.

Saya putar video pendek, yang kemudian saya bilang akan berkaitan dengan materi. Video ketika Walter Mitty yang diperankan Ben Stiller mengejar satu-satunya sepeda untuk berebutan dengan para pelaut yang ingin pergi maksiat. Walter berhasil mengejar sepeda dan ditengah perjalanan mengejar Sean O’Connel, sementara itu di langit sebelah kanan nya yang menawan itu, datanglah kawanan burung yang terbang membentuk formasi wajah Cherryl Melhoff, seseorang yang ditaksirnya, yang mendiami hatinya. Terpesona dan fokus pada formasi burung, membuat sepeda Walter menabrak tiang rambu lalu lintas dan dia yang malang terjungkal ke jurang. Ini satu-satunya materi yang membuat mereka, anak-anak yang super itu tertawa.

Postingan ini sekaligus pelengkap, mohon maaf saya lupa membahas makna dari cuplikan video dan menghubungkannya dengan materi yang disampaikan. Begini, cinta itu… sesuatu yang kuat dan menggerakan. Tapi kadang kala jika sudah melewati batas-batas syariat, itu akan membuat Anda terjungkal. Ke lembah yang buruk.

Menyedihkan sekali mengenang masa lalu. Untuk hari ini yang seperti menampar diri sendiri melalui celoteh yang keluar dari mulut sendiri. Masa dimana Anda menjadi seorang yang buruk. Masa dimana dunia adalah segala-galanya. Waktu-waktu yang berjalan dengan kesenangan sesaat. Menyedihkan jika mengingat bahwa itu semua akan dipertanggungjawabkan. Pada hari dimana semua boleh bicara, kecuali mulut.

Menyedihkan ketika hidayah itu pun sudah hadir. Anda masih mengotorinya dengan sesuatu yang tidak pantas. Anda terlalu mengagumi makhluk dari sesuatu yang terlihat saja, padahal banyak sekali hal buruk yang terkolase pada tiap-tiap manusia. Lalu membayangkan hal-hal indah, merancang skenario hidup yang  sudah jelas di siang bolong adalah kuasa Allah SWT semata. Dan hari ini kepada kawan-kawan saya di SMP IT Ali Bin Abi Thalib, terucap sebuah kalimat sederhana. “Cinta itu tidak diucapkan”

Kawan, beda sekali antara kagum, suka, nafsu, syahwat. Beda. Cinta adalah sesuatu yang fitrah, tapi kalau rasa ingin memiliki sudah hadir, maka ia sedang berubah jelma menjadi nafsu. Seperti apa yang telah diungkapkan Ibnu Qayyim Al-Jauziah, “Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperlihatkan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian” kemudian disambungnya “ Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah.”

Cinta itu tidak diucapkan, tidak sebelum batas syariat dibuat menjadi halal melalui perjanjian yang agung melalui akad pernikahan. Bukankah Ali tidak mengatakan cinta kepada Fatimah sebelum mereka menikah? Jika kata-kata cinta, antara makhluk bernama laki-laki dan perempuan, sudah diucapkan dan menghias linimasa, itu bukan cinta, sebab kefitrahan cinta datang dari Allah. Dan Dia Azza wa Jalla tidak mengkehendaki zina dan yang mendekati zina. Maka perasaan itu bernama nafsu, syahwat, cinta palsu yang sedang ditunggangi syaitan penggoda. Duh, Saya sedang menampar diri sendiri.

Pernahkah Anda berbicara didepan banyak orang, petantang-petenteng sok jagoan, tapi didalam hati merasa malu? Sangat malu. Itulah yang sedang mendera perasaan seharian.

Tapi sekarang jalan yang sebenarnya, terbentang didepan. Saatnya untuk mengatur ulang settingan hidup menjadi lebih baik. Kita bukan insan pemilik mesin waktu yang bisa mundur ke belakang lalu memperbaikinya. Tapi selalu ada masa depan, masa nanti yang menunggu untuk dibuat baik. Bukan hidayah atau apapun yang terlambat untuk datang, sungguh bukan. Karena Allah mengatur segalanya serba tepat waktu. Kita cuma hamba, tak punya kuasa apa-apa.

Ini lucu. Karena yang berbicara didepan forum bukan ustadz, bukan motivator, bukan pembicara lintas seminar. Karena yang berbicara tadi cuma seorang bergajulan yang sok jago, tak luas ilmunya, tak dalam pengetahuannya. Maka blunder itupun datang.

“Kamma shalaita alaa Muhammad..” adalah bacaan untuk tahyat akhir dalam shalat. Betul, nan.. bahkan kodok pun mengetahuinya. Iya, entah kenapa kalimat itu meluncur seenaknya waktu saya baca Muqaddimah, do’a-do’a pembuka. Iya, saya blunder diawal-awal bukan ditengah-tengah ataupun pinggir-pinggir. Saya blunder di Muqadimah. Mereka anak-anak yang mendengar asli mengernyitkan dahi, memandang dengan raut wajah aneh seraya berkata.

“Hey, apa yang kau lakukan?”

“Hey, kawan. Sudah sarapan kau tadi, ha?”

“Bicara apa anak ini?”

Dan ketika satu demi satu kalimat yang saya punya dikeluarkan. Saya berjumpa dengan satu pelajaran yang mewah. Kepada yang kau kagumi dan sedang menghuni hatimu, membuat hari-harimu menjadi penuh semangat, membuat akalmu menjadi waras, dan relungmu menjadi luas. Seseorang yang bikin selera makan, dan sebab mencintainya karena Allah kau memperbaiki diri dengan ketaqwa’an.

Sungguh Cinta itu tidak perlu diucapkan.

 

 

Your nansky.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s