Sepeda Jengki Wak Min

sepeda jengki wak min BLOG

Wak Min (70), merupakan seorang merbot di Masjid Raya Petumbukan, di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.Wak Min punya senyum khas yang selalu ia bagikan kepada seluruh warga Masjid yang ditemuinya.Setiap berjumpa dan berpapasan dengan orang lain di lingkungan Masjid, Ia selalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. tak peduli apakah orang itu tua ataupun muda.

Wak Min marbot masjid kami punya tempat parkir khusus untuk sepeda Jengki miliknya, yang sepertinya sudah harus pensiun. Yaitu tepat didepan sekretariat remaja masjid yang merangkap sebagai ruangan tempat menyimpan keranda mayit. Tidak ada yang berani untuk parkir disana, meskipun tidak ada plang khusus yang bertuliskan ‘Parkir Khusus Marbot’. Ini murni penghormatan warga untuk seseorang yang punya jasa besar bagi keberlangsungan sebuah peradaban islam.

Wak Min dan pekerjaannya adalah sejoli. Wak Min dan sapu ijuk adalah serasi, dengan sapu lidi pun kekasih. Tidak ada yang berani memisahkan keduanya dalam mengarungi hari-hari bersama menjadi seorang Marbot. Tak hanya itu, beliau dengan keahliannya menghidupkan genset merupakan sosok krusial saat tiba-tiba listrik padam sesaat sebelum shalat berjamaah dimulai. Menyalakan sound system tidak diragukan lagi Wak Min ahlinya, kepiawaiannya menekan nuts-nuts amplifyer bak seorang profesional. Semoga Allah SWT merahmatinya.

Pada waktu I’tikaf di 10 terakhir Ramadan yang lalu, saya mencatat beberapa point spesial tentang Wak Min. Beberapa diantaranya adalah tentang beliau yang datang paling awal ketika rekan sejawat sesama marbot belum datang. Jam 3.00 WIB dinihari Wak Min sudah pegang itu namanya sapu ijuk. Bersih-bersih dia punya karpet. Lap-lap dia punya jendela. Jelang shubuh dia ikut sahur bareng kami dan cabut duluan untuk mengurusi kamar mandi masjid. 24 Jam hari-hari Wak Min kebanyakan dihabiskan di Masjid. Sangat sedikit waktu yang dia luangkan untuk pulang menengok isteri dan juga cucu.

Bakdiyah Isya, Wak Min lagi-lagi jadi benteng pertahanan terakhir disaat rekan-rekan sejawat sesama marbot sudah pulang duluan. Ia adalah sosok yang memeriksa seluruh jendela dan menitip kunci pintu masjid kepada peserta I’tikaf. Tidak berlebihan jika mau dibilang, peran Wak Min menyamai urgent nya peran seorang Imam Masjid.

Beliau adalah Marbot dengan dedikasi tinggi, menjelma menjadi sosok yang seolah-olah mendapat pelatihan khusus dari instruktur nasional, dalam mengurusi masjid.

Tapi Anda akan terharu melihat kesusahpayahan Wak Min menggowes sepedanya yang butut. Hanya itu kendaraan yang ia punya. Wak Min sudah tua, senja dan renta. Sisa akhir hidupnya dihabiskan dan didedikasikan untuk mengurusi Masjid.

Ramadan lalu saya kefikiran untuk kasih hadiah buat beliau. Sesuatu yang bisa jadi adalah bentuk penghargaan kepada sosok penting bagi berlangsungnya sebuah peradaban Islam. Setelah diskusi dengan seorang kawan, saya ingin kasih hadiah sepeda baru, pengganti kereta-angin nya yang butut. Suatu hari akan ada kejutan, saat sepeda bututnya berganti sepeda baru. Lalu ada plang bertuliskan ‘Parkir Khusu Marbot’ di depannya. Dan ada tulisan kecil dibawahnya; ‘Terima Kasih karena sudah mengurusi Masjid’. Yakin bahwa itu akan jadi hari yang tak terlupakan oleh Wak Min.

Saya menggalang dana untuk sepeda baru Wak Min di sini

Mari jadi bagian dari senyum seseorang yang mengurusi rumah Allah SWT.

 

#YourNansky

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s