Buku-Buku Baik Budi

Jalan Kembali

Nek Jusna langsung mengambilkan saya buku legendaris terbitan PT. Karya Toha Putra Semarang tersebut. Dia amat professional, meski saya hanya sekedar formalitas, pura-pura beli.

“Ini buku bagus.” Ujar Nek Jusna pelan.

Dalam hati aku ngobrol sendiri, “Ya tentu saja, buku ini menunjukkan kepada kita cara-cara bagaimana seharusnya kita Shalat.”

Saya belum berhenti.

“Buku semacam itu bukan hanya dikategorikan buku bagus, tapi lebih kepada buku baik budi.”

Saya kemudian berjalan mengitari lapaknya yang sederhana. Melihat benda apa saja yang Ia jual. Nek Jusna berjualan persis mengemper di depan pintu samping sebuah ruko, yang sepertinya jarang digunakan oleh pemiliknya.

Beliau persis dipinggir jalan, pintu samping ruko tersebut ada semacam teras kecil yang bisa dipakai Nek Jusna duduk. Sambil mengelap perkakas dagangannya.

“Nenek puasa?” saya bertanya sambil formalitas buka-buka lembaran buku. Dan kemudian Ia jawab “Iya, puasa.”disertai dengan anggukan kecil.

4

Saya masih ingin mengobrol dengan Nek Jusna, tapi sepertinya beliau type orang yang sedikit bicaranya.

Lalu-lalang kendaraan menyebabkan bising. Sinar matahari masih juara bertahan, ditengah sejuknya Ramadhan. Orang-orang ini melaju dengan hajatnya masing-masing. Angkot-angkot, becak-becak, sepeda motor dan mobil pribadi memenuhi Jln. Sutomo Lubuk Pakam. Sementara Nek Jusna ndepipis dibawah tenda terpal di ujung Jln. DR Cipto, menunggu dagangannya laku.

Kami disambangi tukang jahit sandal yang lapaknya tepat di sebelah Nek Jusna, Pak Delva namanya, usia 45 tahun.

Ia adalah anak semata wayang Nek Jusna, ayahnya sudah 25 tahun meninggal. Delva setiap hari membonceng ibunya naik becak barang dari Jln. Ampera rumahnya menuju Jln. Dr Cipto lapak mereka berdua, tempat menanti nafkah.

Delva adalah type laki-laki yang meminta ibunya untuk tetap tinggal dirumah saja, beristirahat. Dan Jusna adalah type ibu-ibu yang menolak diam, dia ingin terus berjualan, bergerak, bahkan makanannya sehari-hari, ia mau ia sendiri yang masak.

Ini mungkin melihat anak yang ditanggung Delva jumlahnya 8 orang. Atau mungkin memang Ia adalah type ibu-ibu kebanyakan.

Seperti ibunya ibu saya, sampai sekarang selalu menolak ajakan untuk tinggal dirumah ibu saya. Ia lebih memilih di kampung, menggarap ladang.

Suara-suara obrolan Delva lindap ditelan suara kendaraan yang lalu-lalang, atau ibu paruh baya di toko seberang yang sedang menawar-nawar selendang, minta kurang harga dia. Meskipun begitu, saya masih mendengar dengan jelas, betapa Nek Jusna amat-sangat-jarang-sekali mendapat bantuan dari pemerintah.

“Entah itu beras raskin, BLT, atau apa, nggak pernah.” Lapor Delva kepada saya.

Sementara yang dilapori cuma bisa mengangguk berulangkali, mencoba mendengarkan betapa pemerintah ini lucu sekali. Kelucuan yang ada pada tingkat suka bikin rakyatnya kesal.

Selesai dengan Delva saya kembali ke ibunya, membawa 2 buah buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap yang ditulis Drs. Moh. Rifa’I nan legendaris tersebut, membayarnya, dan beranjak.

Siang itu saya harus beranjak karena jam istirahat sudah hampir habis, rekan kerja saya suka menegur agar saya jangan indisipliner, jangan melebih-lebihkan jam istirahat, Karena kita ini karyawan, bekerja untuk orang lain. Dan rekan kerja saya adalah termasuk yang disiplin. Ia yang memberitahu jam makan siang sudah tiba (diluar Ramadhan), Ia yang kasih tahu jam makan siang sudah usai, Ia yang mengingatkan waktunya shalat ashar, Ia yang woro-woro bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk pulang, dan masih banyak lagi aturan-aturan yang Ia ingatkan kembali kepada saya. Dan Ia juga yang suka membangunkan saya ketika kebablasan ketiduran di Masjid lepas dzuhur.

Saya kemudian memacu kemudi, belok kiri menuju Jln. Sutomo dan beberapa meter ambil kanan di Jln. Serdang.

Matahari bersinar cerah, menerangi jalan raya untuk orang-orang yang pergi dan pulang, beberapa diantaranya mungkin ingin berbelanja kebutuhan lebaran; baju baru, sepatu baru, tepung terigu.

Mengingat tentang baju baru, saya terhenyak, mengingat bagaimana lebaran versi Nek Jusna, Delva dan 8 orang anaknya. Apakah mereka memakai baju baru? Apakah di meja makan mereka tersedia kue-kue lezat?

Pertanyaan-pertanyaan random tersebut hilir-mudik dikepala saya.

Setibanya di tempat kerja, saya kemudian duduk menyepi didepan meja kerja.

Membuka-buka social media, lalu menemukan ini:

>> https://kitabisa.com/THRNekJusna <<

Untitled-2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s