Masih Perlukah Kita Bersenda Gurau?

4

Tidak ada yang bisa disalahkan dari angin yang bertiup mengantarkan sendu. Walaupun itu adalah sebuah kabar kurang sedap. Ramadhan persis beberapa jam lagi akan usai, tutup buku, sampai jumpa tahun depan.

Kami mengitari Jln. Sutomo dengan tenang dan langkah yang sebisa mungkin dipelankan. Kami ingin mencercap ini perlahan, sebuah kelezatan akan semakin “eughhh..” jika kau menikmatinya pelan-pelan.

Barangkali apa yang dilakukan Nek Jusna adalah yang seperti pedagang lain lakukan; tetap buka di satu hari sebelum hari raya. Ia masih disana, duduk termangu dibawah tenda terpal plastiknya yang rapuh. Menjagai barang dagangan yang ditutupi plastic bening, menghindari serbuan debu.

“Kenapa Nek Jusna harus kita bantu?” tanya seorang kawan.

“Karena Ia menjual buku tuntunan shalat.”

“Apakah kamu punya alasan yang lebih masuk akal, Nand?”

“Karena Ia sudah sangat tua ..

.. dan sendirian.”

Kemudian kawan tersebut menyerahkan beberapa lembar uang warna merah.

Kamu tidak boleh membincangkan soal kesendirian, walaupun itu sebuah pendapat, apalagi sekedar asumsi. Kesendirian tidak untuk dibincangkan, ia hanya boleh dicercap dan ditenun dalam sunyi. Ia adalah kondisi yang sesaat setelah purna akan menjadi baris do’a, untaian puisi, isak tangis dan bahkan rindu.

“Tapi Nek Jusna tinggal bersebelahan dengan anaknya, Delva.” kataku.

“Tidak akan ada cinta yang seperti suaminya.”

“Tapia da banyak yang seperti dia, ribuan juta banyaknya.”

“Kita tidak bisa membahagiakan banyak orang, bahagiakan yang terdekat dulu.”

Lalu saya tidak bicara apa-apa lagi.

Kami mengitari Jln. Sutomo dengan tenang dan langkah yang sebisa mungkin dipelankan. Sengaja memakirkan kendaraan agak jauh supaya bisa jalan kaki lebih lama. Sudah lama sekali kita hanya naik kendaraan dan duduk didepan meja kerja, pulang naik kendaraan dan hanya jalan-jalan-kaki sedikit disekitaran rumah. Ternyata melakukan sesuatu yang jarang itu menyenangkan, walaupun hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru.

Ia masih disana, duduk termangu dibawah tenda terpal plastiknya yang rapuh. Menjagai barang dagangan yang ditutupi plastic bening, menghindari serbuan debu. Matanya terbuka lebar menyambut kami datang dan senyumnya perlahan mekar sambil menerima bingkisan lebaran. Kawan, kau tahu hanya butuh hal-hal sederhana agar bisa membuat orang lain bahagia; ada bingkisan hari raya dan enam buah lembaran uang merah terlipat rapi di amplop putih. Semuanya untuk Nek Jusna, satu hari sebelum hari raya adalah hari untuknya.

Berlima kami melaju pulang; Bang Suhardi, Bang Arif, Bang Bayu, Pak Heri dan dr. Indra, dua bapak-bapak mengawal empat bujang agar pulang kerumah, mandi yang bersih, jangan melulu mengurusi orang lain, bersiap-siap, karena besoknya sudah hari raya.

Disela perjalanan pulang, sambil merenungi Ramadhan yang kian dekat waktu kepergiannya masuk notifikasi WhatsApp. Dari seorang kawan yang ingin menyemangati komunitas kami dengan berbagai cara; menggalang dana sedekah di kantor tempat Ia bekerja, mendorong kami agar membuat draft dan program kerja, sampai sedikit memaksa halus agar laporan-demi-laporan dibuat sistematis.

Diakhiri dengan dua baris kalimat.

“Kan Rasulullah udah nitipin pesan buat kita.”

“Untuk menjaga orang lemah diantara kita.”

Dua baris, cukup dua baris kalimat yang menyengat semangat. Karena banyak sekali rintihan sakit yang menunggu sahutan tangan-tangan yang ikhlas menolongnya. Banyak sekali pekerjaan, kebajikan dan cinta yang bisa dihantar-jemput kerumah-rumah mereka, para rentah yang rindu diperhatikan.

Terlalu banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan bersama-sama.

Lantas, masih perlukah kita bersenda gurau?

 

Your Nansky

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s