BALAS LEBIH PEDIH

Beberapa orang merasakan kemenangan diri yang haqiqi, ketika berhasil untuk menghapus komentar yang sudah di ketik untuk merespon perkataan orang lain.

Baik itu di kolom komentar social media, maupun di grup percakapan. Dan saya sering melakukan hal tersebut, agar hidup saya lebih bahagia.

Saya bisa saja merespon perkataan seseorang yang isinya jauh dari akhlak yang baik. Saya bingung sendiri, bagaimana mungkin pencitraan diri yang ia bangun sedemikian baiknya di ‘muka umum’ menjadi rusak, oleh lidahnya sendiri, oleh sikapnya di depan orang-orang sekitar.

Kembali lagi, saya bisa saja merespon perkataan orang terhadap saya, di kolom komentar, di grup percakapan, tapi jadinya akan sangat menyakitkan. Saya takutnya membalas ucapan orang tersebut menjadi jauh lebih pedih.

Terdengarnya saja sangat menyakitkan.

Mengurungkan kata-kata adalah pilihan yang amat bijaksana, menurut saya.

Kita bisa pura-pura baik, berlagak pintar, bersikap seperti berilmu, tapi perjalanan-perjalanan Bersama akan memperlihatkan semuanya. Kata-kata asli yang keluar secara refleks akan menjelaskan siapa diri kita sebenarnya.

Berhati-hatilah dalam berucap, berkomentar, apalagi ucapanmu adalah kata-kata yang sampai bisa melukai orang lain. Bukankah para ulama yang sering kau hadiri kajiannya menyampaikan demikian?

Kecuali kajian yang kau hadiri hanya demi citra diri baik yang ingin kau dapatkan dari makhluk.

Iklan

Mengolah Rasa Tidak Nyaman

Ketika Anda bekerja untuk orang lain, maka bersiap-siaplah suatu hari Anda akan kebagian tugas harian di bagian bersih-bersih toilet.

Sejujurnya tulisan ini berisi penolakan, jiwa pemberontak yang mengalir dalam jasad sontak mendidih, naluri membunuh menyeruak begitu saja.

(eh, serius kali Nand?)

Engga selebay itu juga sebenarnya. Tapi saya adalah termasuk orang yang menghindari toilet, kecuali itu toilet dirumah.

Maka sebelum berangkat kemanapun, saya termasuk orang yang “menyelesaikan” semua urusan yang berkaitan toilet dirumah.

Ini mungkin gara-gara dulu zaman saya sekolah, toilet umum atau toilet yang ada di sekolah saya selalu dalam keadaan tidak baik ya. Maka saya mengikrarkan diri sendiri untuk tidak pernah datang kesana.

Kecuali emergency.

Dan rasa jijik sama toilet umum itu masih ada sampai sekarang.

Dan pagi ini saya menerima kenyataan, mendapatkan tugas piket harian; bersih-bersih toilet.

Bukannya saya terlalu jijik sama toilet. Dan apalagi ini toilet rumahan. Dan ini juga tidak ada hubungan dengan harga diri ya. Saya sudah “selesai” dengan itu semua.

 

***

 

Saya sudah selesai dengan sebuah konsekuensi, bahwa ketika Anda menjadi pekerja untuk usaha orang lain. Anda duduk dibawah perintah dan peraturan orang tersebut.

Saya sangat pernah menyesali keputusan untuk resign dari tempat saya ngajar. Tapi saya juga sangat pernah bilang “Kalau kita ngga bisa kunjung selesai dalam menyesali sebuah keputusan, bagaimana mungkin Allah akan beri karunia yang baru?”

***

Kembali ke Toilet.

Rasanya saya bisa mengerjakan pekerjaan lainnya dengan sangat bagus, dan saya menerimanya. Bersih-bersih lantai mungkin? Bersih bersih halaman?

Tapi tidak untuk toilet.

Sangat tidak nyaman, pemirsah.

 

Dan baiklah, setidaknyaman bagaimanapun. Kembali ke point yang tadi ya.

Saya bekerja untuk orang lain.

 

Maka kalau Anda tidak ingin terus dapat tugas piket harian bersih-bersih toilet.

Persiapkan diri baik-baik.

Lalu pergi dari sana dengan cara terbaik.

 

Hidup terlalu indah untuk mengutuk keadaan.

Lagian, ini tidak terlalu buruk.

 

Saya bisa melakukannya,

saya bisa mengolah rasa tidak nyaman ini.

 

#YourNansky

 

 

 

 

Masih Perlukah Kita Bersenda Gurau?

4

Tidak ada yang bisa disalahkan dari angin yang bertiup mengantarkan sendu. Walaupun itu adalah sebuah kabar kurang sedap. Ramadhan persis beberapa jam lagi akan usai, tutup buku, sampai jumpa tahun depan.

Kami mengitari Jln. Sutomo dengan tenang dan langkah yang sebisa mungkin dipelankan. Kami ingin mencercap ini perlahan, sebuah kelezatan akan semakin “eughhh..” jika kau menikmatinya pelan-pelan.

Barangkali apa yang dilakukan Nek Jusna adalah yang seperti pedagang lain lakukan; tetap buka di satu hari sebelum hari raya. Ia masih disana, duduk termangu dibawah tenda terpal plastiknya yang rapuh. Menjagai barang dagangan yang ditutupi plastic bening, menghindari serbuan debu.

“Kenapa Nek Jusna harus kita bantu?” tanya seorang kawan.

“Karena Ia menjual buku tuntunan shalat.”

“Apakah kamu punya alasan yang lebih masuk akal, Nand?”

“Karena Ia sudah sangat tua ..

.. dan sendirian.”

Kemudian kawan tersebut menyerahkan beberapa lembar uang warna merah.

Kamu tidak boleh membincangkan soal kesendirian, walaupun itu sebuah pendapat, apalagi sekedar asumsi. Kesendirian tidak untuk dibincangkan, ia hanya boleh dicercap dan ditenun dalam sunyi. Ia adalah kondisi yang sesaat setelah purna akan menjadi baris do’a, untaian puisi, isak tangis dan bahkan rindu.

“Tapi Nek Jusna tinggal bersebelahan dengan anaknya, Delva.” kataku.

“Tidak akan ada cinta yang seperti suaminya.”

“Tapia da banyak yang seperti dia, ribuan juta banyaknya.”

“Kita tidak bisa membahagiakan banyak orang, bahagiakan yang terdekat dulu.”

Lalu saya tidak bicara apa-apa lagi.

Kami mengitari Jln. Sutomo dengan tenang dan langkah yang sebisa mungkin dipelankan. Sengaja memakirkan kendaraan agak jauh supaya bisa jalan kaki lebih lama. Sudah lama sekali kita hanya naik kendaraan dan duduk didepan meja kerja, pulang naik kendaraan dan hanya jalan-jalan-kaki sedikit disekitaran rumah. Ternyata melakukan sesuatu yang jarang itu menyenangkan, walaupun hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru.

Ia masih disana, duduk termangu dibawah tenda terpal plastiknya yang rapuh. Menjagai barang dagangan yang ditutupi plastic bening, menghindari serbuan debu. Matanya terbuka lebar menyambut kami datang dan senyumnya perlahan mekar sambil menerima bingkisan lebaran. Kawan, kau tahu hanya butuh hal-hal sederhana agar bisa membuat orang lain bahagia; ada bingkisan hari raya dan enam buah lembaran uang merah terlipat rapi di amplop putih. Semuanya untuk Nek Jusna, satu hari sebelum hari raya adalah hari untuknya.

Berlima kami melaju pulang; Bang Suhardi, Bang Arif, Bang Bayu, Pak Heri dan dr. Indra, dua bapak-bapak mengawal empat bujang agar pulang kerumah, mandi yang bersih, jangan melulu mengurusi orang lain, bersiap-siap, karena besoknya sudah hari raya.

Disela perjalanan pulang, sambil merenungi Ramadhan yang kian dekat waktu kepergiannya masuk notifikasi WhatsApp. Dari seorang kawan yang ingin menyemangati komunitas kami dengan berbagai cara; menggalang dana sedekah di kantor tempat Ia bekerja, mendorong kami agar membuat draft dan program kerja, sampai sedikit memaksa halus agar laporan-demi-laporan dibuat sistematis.

Diakhiri dengan dua baris kalimat.

“Kan Rasulullah udah nitipin pesan buat kita.”

“Untuk menjaga orang lemah diantara kita.”

Dua baris, cukup dua baris kalimat yang menyengat semangat. Karena banyak sekali rintihan sakit yang menunggu sahutan tangan-tangan yang ikhlas menolongnya. Banyak sekali pekerjaan, kebajikan dan cinta yang bisa dihantar-jemput kerumah-rumah mereka, para rentah yang rindu diperhatikan.

Terlalu banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan bersama-sama.

Lantas, masih perlukah kita bersenda gurau?

 

Your Nansky

Buku-Buku Baik Budi

Jalan Kembali

Nek Jusna langsung mengambilkan saya buku legendaris terbitan PT. Karya Toha Putra Semarang tersebut. Dia amat professional, meski saya hanya sekedar formalitas, pura-pura beli.

“Ini buku bagus.” Ujar Nek Jusna pelan.

Dalam hati aku ngobrol sendiri, “Ya tentu saja, buku ini menunjukkan kepada kita cara-cara bagaimana seharusnya kita Shalat.”

Saya belum berhenti.

“Buku semacam itu bukan hanya dikategorikan buku bagus, tapi lebih kepada buku baik budi.”

Saya kemudian berjalan mengitari lapaknya yang sederhana. Melihat benda apa saja yang Ia jual. Nek Jusna berjualan persis mengemper di depan pintu samping sebuah ruko, yang sepertinya jarang digunakan oleh pemiliknya.

Beliau persis dipinggir jalan, pintu samping ruko tersebut ada semacam teras kecil yang bisa dipakai Nek Jusna duduk. Sambil mengelap perkakas dagangannya.

“Nenek puasa?” saya bertanya sambil formalitas buka-buka lembaran buku. Dan kemudian Ia jawab “Iya, puasa.”disertai dengan anggukan kecil.

4

Saya masih ingin mengobrol dengan Nek Jusna, tapi sepertinya beliau type orang yang sedikit bicaranya.

Lalu-lalang kendaraan menyebabkan bising. Sinar matahari masih juara bertahan, ditengah sejuknya Ramadhan. Orang-orang ini melaju dengan hajatnya masing-masing. Angkot-angkot, becak-becak, sepeda motor dan mobil pribadi memenuhi Jln. Sutomo Lubuk Pakam. Sementara Nek Jusna ndepipis dibawah tenda terpal di ujung Jln. DR Cipto, menunggu dagangannya laku.

Kami disambangi tukang jahit sandal yang lapaknya tepat di sebelah Nek Jusna, Pak Delva namanya, usia 45 tahun.

Ia adalah anak semata wayang Nek Jusna, ayahnya sudah 25 tahun meninggal. Delva setiap hari membonceng ibunya naik becak barang dari Jln. Ampera rumahnya menuju Jln. Dr Cipto lapak mereka berdua, tempat menanti nafkah.

Delva adalah type laki-laki yang meminta ibunya untuk tetap tinggal dirumah saja, beristirahat. Dan Jusna adalah type ibu-ibu yang menolak diam, dia ingin terus berjualan, bergerak, bahkan makanannya sehari-hari, ia mau ia sendiri yang masak.

Ini mungkin melihat anak yang ditanggung Delva jumlahnya 8 orang. Atau mungkin memang Ia adalah type ibu-ibu kebanyakan.

Seperti ibunya ibu saya, sampai sekarang selalu menolak ajakan untuk tinggal dirumah ibu saya. Ia lebih memilih di kampung, menggarap ladang.

Suara-suara obrolan Delva lindap ditelan suara kendaraan yang lalu-lalang, atau ibu paruh baya di toko seberang yang sedang menawar-nawar selendang, minta kurang harga dia. Meskipun begitu, saya masih mendengar dengan jelas, betapa Nek Jusna amat-sangat-jarang-sekali mendapat bantuan dari pemerintah.

“Entah itu beras raskin, BLT, atau apa, nggak pernah.” Lapor Delva kepada saya.

Sementara yang dilapori cuma bisa mengangguk berulangkali, mencoba mendengarkan betapa pemerintah ini lucu sekali. Kelucuan yang ada pada tingkat suka bikin rakyatnya kesal.

Selesai dengan Delva saya kembali ke ibunya, membawa 2 buah buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap yang ditulis Drs. Moh. Rifa’I nan legendaris tersebut, membayarnya, dan beranjak.

Siang itu saya harus beranjak karena jam istirahat sudah hampir habis, rekan kerja saya suka menegur agar saya jangan indisipliner, jangan melebih-lebihkan jam istirahat, Karena kita ini karyawan, bekerja untuk orang lain. Dan rekan kerja saya adalah termasuk yang disiplin. Ia yang memberitahu jam makan siang sudah tiba (diluar Ramadhan), Ia yang kasih tahu jam makan siang sudah usai, Ia yang mengingatkan waktunya shalat ashar, Ia yang woro-woro bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk pulang, dan masih banyak lagi aturan-aturan yang Ia ingatkan kembali kepada saya. Dan Ia juga yang suka membangunkan saya ketika kebablasan ketiduran di Masjid lepas dzuhur.

Saya kemudian memacu kemudi, belok kiri menuju Jln. Sutomo dan beberapa meter ambil kanan di Jln. Serdang.

Matahari bersinar cerah, menerangi jalan raya untuk orang-orang yang pergi dan pulang, beberapa diantaranya mungkin ingin berbelanja kebutuhan lebaran; baju baru, sepatu baru, tepung terigu.

Mengingat tentang baju baru, saya terhenyak, mengingat bagaimana lebaran versi Nek Jusna, Delva dan 8 orang anaknya. Apakah mereka memakai baju baru? Apakah di meja makan mereka tersedia kue-kue lezat?

Pertanyaan-pertanyaan random tersebut hilir-mudik dikepala saya.

Setibanya di tempat kerja, saya kemudian duduk menyepi didepan meja kerja.

Membuka-buka social media, lalu menemukan ini:

>> https://kitabisa.com/THRNekJusna <<

Untitled-2

Sepeda Jengki Wak Min

sepeda jengki wak min BLOG

Wak Min (70), merupakan seorang merbot di Masjid Raya Petumbukan, di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.Wak Min punya senyum khas yang selalu ia bagikan kepada seluruh warga Masjid yang ditemuinya.Setiap berjumpa dan berpapasan dengan orang lain di lingkungan Masjid, Ia selalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. tak peduli apakah orang itu tua ataupun muda.

Wak Min marbot masjid kami punya tempat parkir khusus untuk sepeda Jengki miliknya, yang sepertinya sudah harus pensiun. Yaitu tepat didepan sekretariat remaja masjid yang merangkap sebagai ruangan tempat menyimpan keranda mayit. Tidak ada yang berani untuk parkir disana, meskipun tidak ada plang khusus yang bertuliskan ‘Parkir Khusus Marbot’. Ini murni penghormatan warga untuk seseorang yang punya jasa besar bagi keberlangsungan sebuah peradaban islam.

Wak Min dan pekerjaannya adalah sejoli. Wak Min dan sapu ijuk adalah serasi, dengan sapu lidi pun kekasih. Tidak ada yang berani memisahkan keduanya dalam mengarungi hari-hari bersama menjadi seorang Marbot. Tak hanya itu, beliau dengan keahliannya menghidupkan genset merupakan sosok krusial saat tiba-tiba listrik padam sesaat sebelum shalat berjamaah dimulai. Menyalakan sound system tidak diragukan lagi Wak Min ahlinya, kepiawaiannya menekan nuts-nuts amplifyer bak seorang profesional. Semoga Allah SWT merahmatinya.

Pada waktu I’tikaf di 10 terakhir Ramadan yang lalu, saya mencatat beberapa point spesial tentang Wak Min. Beberapa diantaranya adalah tentang beliau yang datang paling awal ketika rekan sejawat sesama marbot belum datang. Jam 3.00 WIB dinihari Wak Min sudah pegang itu namanya sapu ijuk. Bersih-bersih dia punya karpet. Lap-lap dia punya jendela. Jelang shubuh dia ikut sahur bareng kami dan cabut duluan untuk mengurusi kamar mandi masjid. 24 Jam hari-hari Wak Min kebanyakan dihabiskan di Masjid. Sangat sedikit waktu yang dia luangkan untuk pulang menengok isteri dan juga cucu.

Bakdiyah Isya, Wak Min lagi-lagi jadi benteng pertahanan terakhir disaat rekan-rekan sejawat sesama marbot sudah pulang duluan. Ia adalah sosok yang memeriksa seluruh jendela dan menitip kunci pintu masjid kepada peserta I’tikaf. Tidak berlebihan jika mau dibilang, peran Wak Min menyamai urgent nya peran seorang Imam Masjid.

Beliau adalah Marbot dengan dedikasi tinggi, menjelma menjadi sosok yang seolah-olah mendapat pelatihan khusus dari instruktur nasional, dalam mengurusi masjid.

Tapi Anda akan terharu melihat kesusahpayahan Wak Min menggowes sepedanya yang butut. Hanya itu kendaraan yang ia punya. Wak Min sudah tua, senja dan renta. Sisa akhir hidupnya dihabiskan dan didedikasikan untuk mengurusi Masjid.

Ramadan lalu saya kefikiran untuk kasih hadiah buat beliau. Sesuatu yang bisa jadi adalah bentuk penghargaan kepada sosok penting bagi berlangsungnya sebuah peradaban Islam. Setelah diskusi dengan seorang kawan, saya ingin kasih hadiah sepeda baru, pengganti kereta-angin nya yang butut. Suatu hari akan ada kejutan, saat sepeda bututnya berganti sepeda baru. Lalu ada plang bertuliskan ‘Parkir Khusu Marbot’ di depannya. Dan ada tulisan kecil dibawahnya; ‘Terima Kasih karena sudah mengurusi Masjid’. Yakin bahwa itu akan jadi hari yang tak terlupakan oleh Wak Min.

Saya menggalang dana untuk sepeda baru Wak Min di sini

Mari jadi bagian dari senyum seseorang yang mengurusi rumah Allah SWT.

 

#YourNansky

 

Cantik yang Punya Tata Krama

nansky potoworks

Aku tidak sedang mengenang masa lalu yang menyebalkan. Ketika rintik-rintik hujan membasahi sesuatu yang bisa diduduki manusia. Dan langkah-langkah-kecil mu menuju pulang perlahan menjauhi ku.

Selalu ada yang menjagamu dengan mata yang awas, takut diserempet mobil, kau itu kan gendut. Dan tapak-pijak-hati-hati karena trotoar terlalu licin untuk seseorang yang menawan, karena bukan hanya gerimis, bahwa lampu pinggir jalan yang jingga tak mau mengalah untuk juga menyirami-mu dengan cahaya.

Tersenyumlah, Nona. Ketika pagimu membaca ini semua. Meskipun aku sedang engkau benci dan dunia sedang tak enak hati. Ini adalah rindu. Seperti saat kita duduk ramai satu meja dan hanya mengunyah kudapan lalu bicara semaunya.

Ini tidak seharusnya ditulis dan dibaca semua orang. Tapi biarlah. Aku lahir di Sumatera. Terbiasa membereskan hal-hal dibelakang perkara. Sesuatu tentang rindu, harus dibiarkan mengudara, berubah jadi reaksi kimia, lalu pergi menemuimu yang sedang telungkup sambil membaca buku sastra.

Ini kutahu soal malu. Wajah-wajah yang aku lihat di seberang meja tak-kan sanggup kupadang lama. Itu adalah kau dan beberapa lainnya yang banyak bicara. Sesekali benda-benda diatas meja yang seharusnya milik-ku, kau ambil seenaknya. Hey, kau sedang ingin mengganggu-ku ya. Itu adalah cara kita berkomunikasi.

Cara berkomunikasi orang-orang yang sedang jatuh cinta, adalah dengan berkelahi.

Aku ingin sebaris barusan diketik pada sebuah lembar kerja, dengan font yang bagus dan diunggah ke instagram. Bubuhi namaku dibawahnya dengan jenis huruf yang sesuai. Iya, aku sedang bercanda. Tidak ada yang ingin membaca semua itu.

Tersenyumlah, Nona. Bahkan ketika sore mu pun ikut menyebalkan. Berdo’alah dengan bait-bait yang kau mau. Seperti saat kau mengucapkan apapun. Dengan logat yang aneh dan kadang bikin ngilu. Juga bikin rindu.

Tersenyumlah, Nona. Bahkan ketika itu terlihat menjijikan. Tapi yakinilah bahwa itu adalah sebuah alasan, ungkapan syukur dan juga katanya bikin sehat.

Karena senyum adalah tenaga, senyum adalah cahaya di wajah, cantikmu jadi punya tata krama.

Aku ingin sebaris barusan diketik pada sebuah lembar kerja, dengan font yang bagus dan diunggah ke instagram. Bubuhi sebuah nama, yang kadang mampir dalam do’a-do’a.

Saya Blunder di Muqaddimah

 

nansky

Tiba-tiba saya ada di SMP Islam Terpadu Ali Bin Abi Thalib Tanjung Morawa. Ditengah anak-anak murid yang gaduh. Di jum’at yang berjalan pelan. Sekolah ini baru tahun ketiga mulai menerima siswa untuk diajari ilmu. Mereka punya kue-kue enak dan gedung belajar yang dibangun diatas tanah diagonal. Menurun begitu, seperti turunan jalan. Bukan menanjak begitu, seperti harga-harga kebutuhan pokok yang bikin ibu-ibu merepet. Bukan begitu.

Ceritanya ada majelis taklim di sekolah ini yang punya agenda bulanan untuk kajian umum. Diluar mentoring pekanan yang mereka ikuti. Tema kajian jum’at pagi yang gaduh tadi, 18 Desember 2015 adalah tentang cinta. Aduh, temanya menantang sekali. Bukankah ini persoalan yang tak ada habisnya. Ini sungguh menegangkan. Seperti saat Anda harus menyelesaikan teka-teki silang dalam tempo cepat dan diliput televisi nasional dalam siaran langsung. Oke, pengibaratannya terlalu menyedihkan.

Saya kirim WhatsApp ke mba Vienna dalam rangka konsultasi. Seorang kawan yang baik hati. Dia mengirimi 4 file persentasi tentang Cinta. Sambil kasih wejangan singkat, “Cinta itu fitrah, tapi kalau ngga punya ilmu dan lingkungan yang baik, jadi problem”. File yang beliau kirim saya coba cerna, dalam-dalam, karena Anda tidak bisa memberi materi yang biasa diberikan untuk mahasiswa/ dewasa kepada bocah-bocah yang tahun ajaran kemarin baru lulus SD.

Saya putar video pendek, yang kemudian saya bilang akan berkaitan dengan materi. Video ketika Walter Mitty yang diperankan Ben Stiller mengejar satu-satunya sepeda untuk berebutan dengan para pelaut yang ingin pergi maksiat. Walter berhasil mengejar sepeda dan ditengah perjalanan mengejar Sean O’Connel, sementara itu di langit sebelah kanan nya yang menawan itu, datanglah kawanan burung yang terbang membentuk formasi wajah Cherryl Melhoff, seseorang yang ditaksirnya, yang mendiami hatinya. Terpesona dan fokus pada formasi burung, membuat sepeda Walter menabrak tiang rambu lalu lintas dan dia yang malang terjungkal ke jurang. Ini satu-satunya materi yang membuat mereka, anak-anak yang super itu tertawa.

Postingan ini sekaligus pelengkap, mohon maaf saya lupa membahas makna dari cuplikan video dan menghubungkannya dengan materi yang disampaikan. Begini, cinta itu… sesuatu yang kuat dan menggerakan. Tapi kadang kala jika sudah melewati batas-batas syariat, itu akan membuat Anda terjungkal. Ke lembah yang buruk.

Menyedihkan sekali mengenang masa lalu. Untuk hari ini yang seperti menampar diri sendiri melalui celoteh yang keluar dari mulut sendiri. Masa dimana Anda menjadi seorang yang buruk. Masa dimana dunia adalah segala-galanya. Waktu-waktu yang berjalan dengan kesenangan sesaat. Menyedihkan jika mengingat bahwa itu semua akan dipertanggungjawabkan. Pada hari dimana semua boleh bicara, kecuali mulut.

Menyedihkan ketika hidayah itu pun sudah hadir. Anda masih mengotorinya dengan sesuatu yang tidak pantas. Anda terlalu mengagumi makhluk dari sesuatu yang terlihat saja, padahal banyak sekali hal buruk yang terkolase pada tiap-tiap manusia. Lalu membayangkan hal-hal indah, merancang skenario hidup yang  sudah jelas di siang bolong adalah kuasa Allah SWT semata. Dan hari ini kepada kawan-kawan saya di SMP IT Ali Bin Abi Thalib, terucap sebuah kalimat sederhana. “Cinta itu tidak diucapkan”

Kawan, beda sekali antara kagum, suka, nafsu, syahwat. Beda. Cinta adalah sesuatu yang fitrah, tapi kalau rasa ingin memiliki sudah hadir, maka ia sedang berubah jelma menjadi nafsu. Seperti apa yang telah diungkapkan Ibnu Qayyim Al-Jauziah, “Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperlihatkan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian” kemudian disambungnya “ Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah.”

Cinta itu tidak diucapkan, tidak sebelum batas syariat dibuat menjadi halal melalui perjanjian yang agung melalui akad pernikahan. Bukankah Ali tidak mengatakan cinta kepada Fatimah sebelum mereka menikah? Jika kata-kata cinta, antara makhluk bernama laki-laki dan perempuan, sudah diucapkan dan menghias linimasa, itu bukan cinta, sebab kefitrahan cinta datang dari Allah. Dan Dia Azza wa Jalla tidak mengkehendaki zina dan yang mendekati zina. Maka perasaan itu bernama nafsu, syahwat, cinta palsu yang sedang ditunggangi syaitan penggoda. Duh, Saya sedang menampar diri sendiri.

Pernahkah Anda berbicara didepan banyak orang, petantang-petenteng sok jagoan, tapi didalam hati merasa malu? Sangat malu. Itulah yang sedang mendera perasaan seharian.

Tapi sekarang jalan yang sebenarnya, terbentang didepan. Saatnya untuk mengatur ulang settingan hidup menjadi lebih baik. Kita bukan insan pemilik mesin waktu yang bisa mundur ke belakang lalu memperbaikinya. Tapi selalu ada masa depan, masa nanti yang menunggu untuk dibuat baik. Bukan hidayah atau apapun yang terlambat untuk datang, sungguh bukan. Karena Allah mengatur segalanya serba tepat waktu. Kita cuma hamba, tak punya kuasa apa-apa.

Ini lucu. Karena yang berbicara didepan forum bukan ustadz, bukan motivator, bukan pembicara lintas seminar. Karena yang berbicara tadi cuma seorang bergajulan yang sok jago, tak luas ilmunya, tak dalam pengetahuannya. Maka blunder itupun datang.

“Kamma shalaita alaa Muhammad..” adalah bacaan untuk tahyat akhir dalam shalat. Betul, nan.. bahkan kodok pun mengetahuinya. Iya, entah kenapa kalimat itu meluncur seenaknya waktu saya baca Muqaddimah, do’a-do’a pembuka. Iya, saya blunder diawal-awal bukan ditengah-tengah ataupun pinggir-pinggir. Saya blunder di Muqadimah. Mereka anak-anak yang mendengar asli mengernyitkan dahi, memandang dengan raut wajah aneh seraya berkata.

“Hey, apa yang kau lakukan?”

“Hey, kawan. Sudah sarapan kau tadi, ha?”

“Bicara apa anak ini?”

Dan ketika satu demi satu kalimat yang saya punya dikeluarkan. Saya berjumpa dengan satu pelajaran yang mewah. Kepada yang kau kagumi dan sedang menghuni hatimu, membuat hari-harimu menjadi penuh semangat, membuat akalmu menjadi waras, dan relungmu menjadi luas. Seseorang yang bikin selera makan, dan sebab mencintainya karena Allah kau memperbaiki diri dengan ketaqwa’an.

Sungguh Cinta itu tidak perlu diucapkan.

 

 

Your nansky.

Gedung Menyebalkan dan Gembira Menjadi Pelayan

atmosphere in my classroom by nansky

 

Saya sungguh menikmati hari-hari menjadi seorang guru. Ah, tidak saya sedang berbohong karena ini semua menyebalkan. Pada kenyataannya gedung putih biru yang monoton itu menyebalkan, anak-anak yang bau amis itu menyebalkan, kadang ingusan dan bapaknya lupa bawain sapu tangan. Toiletnya buruk, lantainya selalu kotor, kantor guru berantakan, anak-anaknya bergajul. Ini semua sungguh menyebalkan untuk ukuran orang yang baru datang dan pergi mengajar. Tapi tunggu dulu, bukankah saya sudah bertahan selama enam tahun? Six year! Dan semuanya masih menyebalkan? Tidak.

Tahun-tahun kedua menjadi guru, Anda akan mulai menerima ingus dan bau amis. Menerima bahwa semua itu adalah bagian dari yang tidak terpisahkan dari mereka, laskar penggemar bakso goreng. Gedung putih biru menjadi tidak masalah, toh laskar yang sama barusan sukses menghiasinya dengan aneka coretan pensil dan bekas pantulan bola kasti, semakin indah. Toilet buruk biasa saja, dulu waktu SD dan masih juga ingusan, toilet di sekolah saya kondisinya jauh lebih buruk dan berbau, yang sekarang aroma baunya sudah tidak terlalu kuat.

Tahun ketiga Anda mulai merasa bahwa ini adalah sesuatu yang baik. Mengajarkan aneka macam ilmu kepada bocah-bocah penerus. Anda akan merasa bahagia, sebahagia orang yang baru datang dari menjelajahi planet Venus dan mendarat ke bumi, lalu dijemput keluarganya di parkiran. Anda akan menjumpai murid seperti Yoga.

“Yoga, kenapa kamu tak mau duduk sebangku sama Cempluk?”
“Soalnya dia bau, Pak Nand”
“Kalau dia sudah wangi, apakah kau mau duduk sama dia?”
“Ndak mau, Pak Nand”
Saya mulai kehabisan ide. Dea dari bangku penonton nyeletuk.
“Tadi Yoga juga mukul Cempluk, Pak Nand”
“Saya disuruh sama Rizi”
“Iya, semua anak laki-laki dikelas ini nurut sama Rizi”
Dea Yuanda berdiplomasi.
“Rizi dipanggil Boss”
Saya kehabisan nafas. Dalam waktu yang lama. Yoga cuma bilang.
“Pak Nand, ngomong pak”

Manjadi guru, Anda akan belajar menenangkan anak yang menangis. Menjadi pelayan untuk mereka dan itu menyenangkan. Tangisan mereka biasanya disebabkan oleh masalah-masalah yang kecil. Boleh itu karena pensilnya hilang, bisa jadi karena berantam, atau karena lapar. Ya ampun, Anda akan belajar menjadi problem solver, pensil yang hilang diganti dengan pensil yang Anda ambil dari saku kemeja, masalah selesai dan Anda harus beli pensil baru. Nangis karena berantam, Anda harus menjadi Jusuf Kalla yang mendamaikan Aceh dan NKRI di Finlandia. Masalah selesai dan Anda menjadi wakil presiden kembali bersama orang yang sebelumnya Anda kritik. Nangis karena lapar, Subhanallah Anda harus mengajaknya ke kantin sekolah, karena ternyata Anda juga lapar.

Anda jadi orang yang sangat sabar di suatu saat dan saat lainya perlu memberikan “pelajaran” diluar kelas. Seperti apa yang dialami Siti Aisyah.

“Kamu belum siap PR?”
“Iya, Pak Nand”
“Kamu sibuk banyak kerjaan?”
“Saya lupa kalau punya PR, Pak Nand”
Siangnya sepulang sekolah.
“Pak Nand, bonceng pak”
“Kamu siapa?”
“Siti Aisyah, murid bapak”
“Oh, saya lupa kalau punya murid macam kamu”

Jangan paksa saya bicara soal teman sejawat. Karena segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Hal-hal yang bisa dipaksakan adalah hal-hal seperti menikah. Guru-guru di sekolah tempat saya mengajar sudah bekerja dengan sangat baik. Baik sekali. Bukan main. Mereka adalah orang-orang yang menulis RPP dan Silabus canggih dengan perhitungan standar kompetensi yang matang. Disesuaikan dengan apapun yang ada di kampung tempat tinggal Laskar penggemar bakso goreng. Mereka adalah orang-orang yang betah mengajar di dalam kelas, istimewa sekali. Bahkan tidak akan keluar kelas untuk hal-hal yang remeh, seperti belanja cemilan atau pergi ke warung di jam pelajaran, tidak akan. Menjaga anak-anak dengan penuh perhatian, menuntun mereka masuk kedalam materi-materi yang semestinya dikuasi dengan penuh kesabaran.

Guru-guru ditempat saya mengajar tidak pernah teriak dan pukul-pukul meja untuk membuat para bergajul diam dan tenang di dalam kelas. Mengagumkan. Wajah mereka adalah yang cemberut karena memikirkan masalah dan metode yang pas untuk peserta didik. Wajah mereka adalah yang ceria sumringah karena mengajari ananda dengan penuh kecintaan sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Kantor akan selalu sepi, karena mereka sibuk mengajar di dalam kelas. Tidak ada rumpa-rumpi menceritakan kehidupan rumah tangga orang lain. Meja di kantor tidak pernah berserakan bekas bungkus jajanan, disana kalau tidak bertebaran RPP, ya sudah pasti bertebaran buku-buku tugas yang belum selesai di koreksi.

Sebentar. Saya kehabisan nafas. Ternyata menuliskan sesuatu yang tidak benar-benar terjadi itu melelahkan ya.

Your Nansky.

Sebuah Rumah dan Kata yang Urung Sampai

Jalan Kembali

Nama yang kami kenal dari dulu dari perempuan itu adalah Nenek Metty. Sering selama bulan Ramdhan Ibu Suwarni suka nyuruh-nyuruh kasih kolak pisang ke beliau. Biasanya pakai rantang warna putih atau mangkuk dari beling. Kolak pisang bulan Ramadhan versi Ibu Suwarni biasanya dilengkapi kolang-kaling, kuahnya dibuat agak banyak supaya bisa kasih-kasih ke jiran. Anak-anaknya ditugasi beli gula aren ke warung, atau dimintai untuk parut kelapa. Dibuat setelah tidur siang minimal satu jam, sisa-sisa tenaga bulan puasa. Kemudian hari setelah dewasa dan tahu sedikit saya menyampaikan ke ibu saya, kalau selama bulan puasa pahala buat beliau melimpah ruah karena membangunkan sahur, menyiapkan sahur, menyuruh mandi dan menyiapkan sajian berbuka.

Dirumah Nenek Metty, sudah biasa kalau yang menyambut duluan adalah Kakek Amin, beliau ini kekasih hati, senandung jiwa, suami dari Nenenk Metty, dan keduanya sudah sepuh. Kakek Amin berpenghasilan dari profesi berjaga malam di sebuah rumah dinas perkebunan. Cukup buat makan, minum dan hidup. Nenek Metty punya sedikit keahlian memijat. Sejak dulu kami berjiran dan dipisah tembok perkebunan, sampai sekarang kami pindah ke tempat agak jauh dari rumahnya, Ibu Suwarni suka panggil-panggil Nenek Metty buat minta dipijat. Lumayan katanya, tidak kalah dibandingkan dengan dua Nenek tukang pijat lainnya. Iya, Ibu ku punya tiga orang langganan tukang pijat.

Dan sejak dua tahun lalu, kebersamaan Kakek Amin dan Nenek Metty dipisahkan sebuah garis. Garis tersebut bertransformasi menjadi lekuk, rentang dan bentuk. Sebuah bentuk-bentuk huruf, yang menuliskan sebuah kata: Rindu. Kakek Amin jatuh sakit, anak-anaknya di tempat yang jauh datang menjemput untuk kemudian meminta agar ayahnya itu dirawat dirumah mereka saja. Nenek Metty tidak bisa ikut, sampai sekarang beliau yang sepuh masih tinggal terpisah dari suaminya, belahan jiwanya, kidung sedih dan gelak tawanya.

Suatu hari sambil memijat Ibu Suwarni, sayup-sayup dari luar kamar aku dengar percakapan mereka. Ibu tanya-tanya kabar Kakek Amin. Dan jawaban yang keluar dari Nenek Metty membuat yang mendengarnya merasa nyeri.

“Aku tak tahu sekarang bagaimana dia”

“Apakah sehat”

“Apakah nyenyak tidurnya”

“Apakah kenyang makannya”

“Malang nya aku..”

Lama sejak percakapan itu, malam ini sepulang dari mengajar kujumpai lagi Nenek Metty sedang duduk diteras istananya. Sekarang kondisinya agak lumayan, dindingnya dari sudah terbuat dari bata dan semen. Meskipun atapnya masih daun aren dan lantainya masih tanah. Nenek Metty duduk di teras nya yang remang, di usia yang senja dan raut yang resah. Merindu Kakek Amin yang renta, merindu kabarnya yang menahun bersama. Ingin bertanya kabar ia tak punya sarana, ingin menemui cinta nya ia tak punya daya. Nenek Metty sedang duduk diteras istananya yang remang, di usianya yang senja. Menatap kosong ke barat daya tempat matahari menyembunyikan cahaya. Menyirat sebuah kata yang urung sampai kepada Kakek Amin.

My October, Nansky

Berjumpa Sunyi dan Surga yang Dilukai

DSC03608

Kesalahan saya membuat janji pukul 5.30 Waktu Indonesia Bagus, mereka masih berkolor, belum mandi, malah ada yang masih tidur. Seseorang yang masih berkolor adalah yang menuliskan “Ada satu cara untuk melihat seseorang berharga yaitu dengan melihatnya menghargai waktu”. Dan seseorang yang masih tidur padahal seharusnya dia sudah harus di titik temu pada jam segitu adalah yang menuliskan “Waktu adalah salah satu cara yang dilihat untuk menghargai seseorang”. Keduanya menuliskan di ‘BBM Meeting Chat’ dengan meyakinkan pada malam hari sebelum pertemuan, saya takjub begitu membacanya, dan hampir menangis sewaktu menghadapi kenyataan sesungguhnya pada keesokan harinya.

Setelah mengomel, disuguhi sarapan lontong sayur dan setoples kue nastar kami pun berangkat dengan mengucaplafadzh  basmallah, pukul 7.30 Waktu Indonesia Berdaya, dua jam lebih dari waktu yang disepakati. Lalu sepanjang perjalanan kami semua mengomel, “Bagaimana negara ini mau maju? Masih suka telat begini” lalu yang lain menimpali “Bagaimana negeri ini bisa maju? Orang-orang masih suka buang sampah sembarangan” satunya lagi membalas “Bagaimana Indonesia bisa bagus? Orang-orang tak mau mengutip sampah yang dibuang sembarangan ini”. Orang terakhir cuma bisa diam sambil sibuk membaguskan posisi kaca mata dan jaket Manchester United kesayangannya.

Kawah Putih Tinggi Raja baru bersedia didatangi, setelah hari-hari yang lalu banyak cerita tentangnya yang mampir kepada kami. Lebaran adalah moment yang cocok untuk main-main, setelah masing-masing sibuk dengan hidupnya pada waktu selain lebaran. Naik sepeda motor dari Desa Petumbukan ke Silindak tak masalah, jalannya mulus delapan puluh persen. Lewat Silindak sedikit pun lebih mulus lagi, Serdang Bedagai betul-betul serius mengurusi infrastrukturnya. Setelah sampai di Simalungun, setang kemudi belok ke arah kiri dan kami disambut sama opung-opung yang duduk di warung kopi.

“Mau kemana kalian?”

“Kawah putih, pak”

“Oke, lanjutkan”

Jarak dari simpang terakhir yang ber-aspal sampai ke lokasi kawah putihnya adalah 10 Km. Ini adalah jalan berbatu, berlubang dan kadang berduri. Hati-hati ya adik-adik kalau kesini, banyak jalan yang kena erosi dan longsor, kanan-kiri banyak tebing curam. Tanjakan dan penurunannya pun sukses bikin meriang. Belum lagi becek-beceknya, jangan kau tanya lagi soal ini. Maka sebelum semuanya pergi, penting sekali untuk menyiapkan kendaraan dan mental. Terutama mental untuk menghadapi premanisme pemuda sekitar yang dengan arogan memunguti siapa saja yang bertujuan ke kawah putih dengan 10 ribu rupiah untuk setiap sepeda motor.

“Kena pungli 3 kali itu masih sedikit, nak”

“Biasanya kena berapa, ya nek?”

“Lebih sering orang kena 6 kali kutipan”

Terang nenek pemilik warung yang sekaligus rumah tinggalnya ditengah ladang duku di pinggir jalan yang kami singgahi untuk numpang buang hajat tersebut. Benar saja, didepan masih ada kutipan lagi. Kata mereka pemuda-pemuda dan bapak-bapak pelaku pungutan liar, kutipan ini ditujukan untuk perbaikan jalan desa mereka. Tapi pernyataan tersebut disangkal abang-abang pemilik warung di lokasi kawah putih.

“Itu tidak benar”

“kutipan itu untuk mereka sendiri”

“tidak untuk perbaikn jalan”

Tidak ada karcis masuk seperti yang ada pada lokasi wisata lainnya. Tidak ada pengelola dan manajerial untuk pemeliharaan kawah putih anugerah Allah Yang Maha Kuasa. Sampah dibuang seenaknya, parkir sepuluh ribu rupiah satu kereta, nyebrang pakai titi bambu bayar seribu rupiah untuk satu manusia bernyawa, jangan kau tanya soal harga air mineral dan harga mie instan cepat saji siram air panas, soal numpang foto di anjungan bambu, soal bibik-bibik yang dengan gampang minta bekal kue yang kami bawa, soal suhu air panas di kawah putih itu. Jangan kau tanya, kami tak bawa termometer.

nanda koswara

Hal yang menyenangkan adalah bahwa kesusahpayahan mencapai ini semua terbayar dengan lunas melalui hamparan alam yang cantik, udara yang bersih dan syukur yang menyala. Berjalan beberapa kilometer dari kawah putih, akan bisa dijumpai sungai yang disana kita bisa ambil air wudhu karena airnya jernih, bersih dan bisa langsung diminum. Menyenangkan karena sesiang itu kawah putih dan sekitarnya meskipun banyak sampah berserakan, kondisinya belum terlalu ramai. Kami sebebas-bebasnya menikmati kesunyian, sebebas-bebasnya mengomel, sebebas-bebasnya berkelahi satu sama lain, mirip saudara jauh yang lama tidak berjumpa. Bergelut seperti anak kucing yang mencandai anak dari induk yang juga melahirkan nya.

Diksi ku sederhana saja. Perjalanan yang sejadi-jadinya menyebalkan oleh jalan desa yang rusak, pungutan liar yang … liar, dan sampah yang dibuang sembarangan. Akan lunas oleh syukur tentang apapun; kebersamaan, kesunyian, dan keindahan.Waktu amat begitu singkat, kami telah saling merindukan bahkan sebelum berpisah satu sama lain. Waktu amat begitu singkat, sebelum Anda benar-benar mengisi pertemanan dengan prasangka baik dan saling mendo’akan satu sama lain. Waktu begitu singkat, maka semoga tidak ada keluh dan sesal, sebelum hamparan hijau, tebing, ilalang dan kesunyian melindapkan suara dan menyalakan kesyukuran. Sampai jumpa tahun depan, kawan-kawan. Semoga masih ada waktu.

Your Nanda Koswara.