Tentang Bulan Sya’ban

 

masjid raya medan foto by nanda koswara

Hello Chairman!

Postingan ini adalah jawaban untuk tanya seorang kawan. Lanjutan dari pembahasan keutamaan Bulan Sya’ban, setelah Aplikasi BBM tak menyediakan ruang yang cukup luas untuk membahasnya lebih jauh. Diambil dari goresan seorang ulama di akun twitter nya. Alasan kenapa mengambil darinya adalah, yang pertama ulama tersebut mengambil dari Hadits yang sangat jelas asal-usulnya. Alasan kedua tidak begitu diperlukan sejak alasan pertama sudah begitu kuat.

Silahkan disimak sepuasnya, via @salimafillah di Twitter

1. #Sya‘ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Tentangnya RasuluLlah bersabda:

2. ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ

#Sya‘ban; bulan yang sering dilalaikan insan; antara Rajab & Ramadhan.

3. وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

#Sya‘ban adalah..

4. ..bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Semesta Alam; maka aku suka jika amalku diangkat, sedang aku dalam keadaan puasa. #Sya‘ban

6. Karena itu, berdasar riwayat shahih disebutkan bahwa RasuluLlah SAW berpuasa pada sebagian besar hari di bulan #Sya‘ban. ‘Aisyah berkata:

7. فَما رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وما رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

#Sya’ban

8. “Tak kulihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya dalam sebulan penuh, selain di bulan Ramadan. Dan tidak aku lihat..” #Sya‘ban

9. ..bulan yang beliau paling banyak berpuasa di dalamnya selain bulan #Sya‘ban. (HR Al Bukhari & Muslim)

10. #Sya‘ban: Dalam Shahih Al Bukhari (1970) ada tambahan dari ‘Aisyah: “Tidak ada bulan yang Nabi SAW lebih banyak berpuasa di dalamnya…

11. …selain bulan #Sya‘ban. Sesungguhnya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.”

12. Maksud hadits: beliau berpuasa pada sebagian besar hari-hari bulan #Sya‘ban, sebagaimana banyak riwayat lain yang menyatakan demikian.

13. #Sya‘ban: Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan ‘berpuasa sebulan penuh’ padahal yang dimaksud adalah..

14. ..’berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu.’ Demikian keterangan Ibnu Hajar Al ‘Asqalany dalam Fathul Bari, 4/213. #Sya‘ban

15. Maka berpuasa di bulan #Sya‘ban adalah utama, karena: 1}’Amal-’amal manusia (secara tahunan) sedang diangkat ke hadapan Allah SWT.

16. 2} #Sya‘ban ialah bulan yang disepelekan; beramal & menghidupkan syi’ar di saat manusia lain lalai memiliki keutamaan tersendiri.

17. Selain kedua hal itu, puasa di bulan #Sya‘ban juga dimaknai sebagai: 3} Penyambutan & pengagungan terhadap datangnya bulan Ramadan.

18. #Sya‘ban: Karena ibadah-ibadah yang mulia, umumnya didahului oleh pembuka yang mengawalinya; Haji diawali persiapan Ihram di Miqat, …

19. …Shalat juga diawali dengan bersuci, berwudhu’, dan persiapan-persiapan lainnya yang dimasukkan dalam syarat-syarat shalat. #Sya‘ban

20. Hikmah lain: puasa di bulan #Sya‘ban akan membuat tubuh mulai terbiasa untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan optimal.

21. Sebab sering di awal Ramadhan banyak daya & waktu habis untuk penyesuaian diri; padahal tiap detik bulan mulia sangat berharga. #Sya‘ban

22. Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencantumkan pendapat: puasa #Sya‘ban seumpama sunnah Rawatib (pengiring) bagi puasa Ramadhan.

23. Untuk shalat; ada rawatib qabliyah & ba’diyah. Untuk Ramadhan, qabliyahnya; puasa #Sya‘ban & ba’diyahnya; puasa 6 hari di bulan Syawal.

24. Keutamaan #Sya‘ban bisa kita lihat di: Tahdzib Sunan Abu Dawud, 1/494, Latha’iful Ma’arif, 1/244. Nah, bagaimana tentang Nishfu Sya’ban?

25. Hadits-hadits terkait Nishfu #Sya‘ban ini sebagian dikategorikan dha’if (lemah), bahkan sebagian lagi dikategorikan maudhu’ (palsu).

26. Utamanya hadits yang mengkhususkan ibadah tertentu atau yang menjanjikan jumlah & bilangan pahala atau balasan tertentu. #Sya‘ban

27. Tetapi, ada sebuah hadits yang berisi keutamaan malam Nisfhu #Sya‘ban yang bersifat umum, tanpa mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu.

28. إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ #Sya‘ban

29. “Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu #Sya‘ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik..

30. …atau yang bertengkar dengan saudaranya.” HR Ibnu Majah (1390). Dalam Zawa’id-nya, riwayat ini dianggap dha’if karena… #Sya‘ban

31. ..adanya perawi yang dianggap lemah. TETAPI, Ath Thabrani juga meriwayatkannya dari Mu’adz ibn Jabal dalam Mu’jamul Kabir (215) #Sya‘ban

32. Ibnu Hibban juga mencantumkan hadits ini dalam Shahihnya (5665), begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya (6642). #Sya‘ban

33. Al-Arna’uth dalam ta’liqnya pada dua kitab terakhir berkata, “SHAHIH dengan syawahid (riwayat-riwayat semakna yang mendukung).” #Sya‘ban

34. Al-Albani juga menilai hadits Nishfu #Sya‘ban ini SHAHIH {Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1144), Shahih Targhib wa Tarhib (1026)}

35. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya terdapat KEUTAMAAN.” (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, 291)

36. #Sya‘ban: Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan TABI’IN di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan & Luqman bin Amir…

37. …yang menghidupkan malam tersebut dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu #Sya‘ban.

38. Dari merekalah kaum muslimin mengambil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini BUKAN BID’AH!” #Sya‘ban

39. ‘Ulama Syam lain, di antaranya Al-Auza’i, TIDAK MENYUKAI perbuatan berkumpul di masjid untuk shalat & berdoa bersama di Nishfu #Sya‘ban

40. Tetapi beliau -dan ‘ulama yang lain- MENYETUJUI keutamaan shalat, baca Al Quran dll pada Nishfu #Sya‘ban jika dilakukan sendiri-sendiri.

41. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al-Hanbali (Latha’iful Ma’arif, 151) & Ibn Taimiyah (Mukhtashar Fatawa Al Mishriyah, 292) #Sya‘ban

42. Adapun ‘ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, & para pengikut Imam Malik menganggap hal terkait Nishfu #Sya‘ban sebagai bid’ah.

43. Tapi kata mereka; qiyamullail sebagaimana tersunnah pada malam lain & puasa di siangnya sebab termasuk Ayyamul Bidh ialah baik. #Sya‘ban

44. Demikian agar perbedaan pendapat ini difahami & tak menghalangi kita untuk melaksanakan segala ‘amal ibadah utama pada bulan #Sya‘ban.

45. Bulan #Sya‘ban adalah juga kesempatan tuk meng-qadha’ hutang puasa Ramadhan kemarin sebelum datangnya Ramadhan berikut. ‘Aisyah berkata:

46. كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فما أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شعبَان، الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ

#Sya’ban

47. Aku punya hutang puasa Ramadan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan #Sya‘ban, karena sibuk melayani Nabi. (HR Al Bukhari-Muslim)

48. #Sya‘ban: Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 8/21) & Ibn Hajar (Fathul Bari, 4/189) menjelaskan; dari hadits ‘Aisyah ini disimpulkan:

49. Jika ada ‘udzur, maka qadha’ puasa bisa diakhirkan sampai bulan #Sya‘ban. Tanpa ‘udzur, menyegerakannya di bulan Syawal dst lebih utama.

50. #Sya‘ban: Bagaimana jika lalai; tanpa ‘udzur, hutang puasa belum terbayar, tapi Ramadhan baru telah datang? Jumhur ‘ulama berpendapat:

51. Dia harus beristighfar atas kelalaiannya pada kewajiban itu & harus bertekad untuk segera meng-qadha’-nya setelah Ramadhan ini. #Sya‘ban

52. Menurut mereka, tiada kewajiban khusus selain hal itu. Tetapi sebagian ‘ulama berpendapat agar si lalai menambahkan 1 hal lagi. #Sya‘ban

53. Yakni mengeluarkan 1/2 Sha’ makanan pokok (+/- 1,5 kg) untuk tiap hari yang terlalai belum dibayar hutang puasanya tahun lalu. #Sya‘ban

54. Ini sebagai pengingat atas kelalaiannya & dia harus tetap mengganti puasa yang terlalai diganti tahun ini pada tahun depannya. #Sya‘ban

55. Ini berdasar ijtihad beberapa sahabat Nabi SAW. Tak ada nash khususnya, tetapi ijtihad ini dianggap baik. (Fathul Bari, 4/189) #Sya‘ban

56. Jika masuk bulan #Sya‘ban, hendaknya kita saling mengingatkan (juga terutama pada kaum wanita) yang punya hutang puasa agar ditunaikan.

57. Sehari atau 2 hari terakhir #Sya‘ban dinamakan Yaumusy-Syakk (hari keraguan), sebab ketidakjelasan apa sudah masuk Ramadhan atau belum.

58. #Sya‘ban. Nabi bersabda: لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ ، إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ

59. “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang… #Sya‘ban

60. …yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” {HR Al Bukhari & Muslim} #Sya‘ban

61. Maknanya; terlarang tuk sengaja mengkhususkan berpuasa pada Yaumusy Syakk. Tetapi boleh bagi yang HARUS (nadzar, qadha’, dll).. #Sya‘ban

62. ..dan boleh juga yang BIASA (karena puasa Dawud, bertepatan Senin/Kamis, dll). Hikmah pelarangan itu sekedar sebagai pemisah..#Sya‘ban

63. …antara puasa Ramadhan yang fardhu dengan puasa sebelum/sesudahnya yang sunnah. (Syarh Muslim 7/194, Latha’iful Ma’arif 151) #Sya‘ban

64. Demikian Shalih(in+at) bincang kita tentang #Sya‘ban.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَعْبَانَ وَوَفِّقْنَا فِيهِ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Jazakallah Khayran Ustadz Salim A Fillah. Mohon maaf untuk setiap huruf yang tak ter-copy-paste secara utuh. Dan setelah menghijrahkan satu persatu dari ke 64 tweetnya ke dalam blog ini, rasanya saya akan sedikit memaksa kawan saya tersebut untuk membuat akun twitter.

Your Nanda Koswara

Iklan

Tempat dan Jeda yang Tidak Penting Untuk Ditulis

Medan City taken from 21th floor of JW MARRIOTT by SONY Xperia E1

Bagi saya yang mulai terbiasa melihat dari sudut pandang orang kelima, adalah sesuatu yang menyenangkan sekaligus aneh, dan pada kenyataannya memang seperti itu ketika Anda mulai mengenal seseorang yang punya latar belakang pendidikan ke selatan, lalu ketika dewasa melakukan sesuatu yang mengarah ke utara. Hidup adalah jungkir balik, semakin Anda dibuat sakit kepala sebelah dibuatnya, itu semakin bagus untuk proses menjadi dewasa. Segala sesuatu memang tidak beraturan dan biasanya tidak terletak pada tempat semestinya ia berada. Tidak harus ikut jungkir balik dan menjadi gila, Anda hanya harus sedikit membiasakan diri menanggapinya.

Anggap ini adalah sebuah catatan kaki dari kejadian yang tidak penting untuk ditulis. Untuk saya, dan mungkin bagi sebagian yang lain, berjumpa dengan orang-orang adalah saat dimana kita harus menjadi pendengar yang baik. Terlebih itu adalah duduk satu meja dengan kursi yang melingkar dan menghabiskan waktu yang lama. Anda harus mendengarkan, menghargai setiap giliran dari mereka yang berbicara, untuk selanjutnya menuliskan setiap kalimat dari omongan itu menjadi sebuah naskah pelajaran jika memang ada inspirasi disana. Dan pilihan selanjutnya adalah mendengarkannya saja sebagai syarat kesopanan lalu melupakannya tak peduli.

Seusai Dzuhur waktu setempat kala itu, bagi saya tetap yang lebih menarik bukan deretan meja dan kursi yang terbuat dari fiber ini, tapi disudut sana, pada sisi luar cafe yang bahannya terbuat dari kayu. Dan kesemuanya bisa ditoleransi sejak seseorang duduk dan memesan coklat panas yang katanya lebih mirip susu sachet. Sejak langit setengah jingga setengah mendung secara resmi digantikan hujan yang turun dengan deras. Saat suaranya yang selama duduk disana bagi saya adalah siksaan untuk detak jantung yang tiba-tiba jadi tak beraturan, dan itu melelahkan ketika Anda masih saja merasakan ketika menuliskannya.

Saya hampir terpejam untuk melantunkan do’a agar semua ini segera selesai dan bisa pamit untuk pulang. Tapi digagalkan ketika seseorang mengomentari kakak-kakak pejalan kaki yang payungnya lepas dihembus angin, jadilah ia yang mengejar benda yang harusnya melindunginya sejak tadi itu jadi kuyup kebasahan. Itu adalah seperti pertunjukan, kendaraan yang berlalu lalang itu juga pertunjukan, lampu pada tiang pinggir jalan yang mulai dinyalakan juga pertunjukan. Mereka yang kerepotan menyelimuti property cafe dengan terpal agar tak kehujanan juga pertunjukan. Pertunjukan yang membuat detak jantung tak beraturan menjadi samar-samar bisa dilupakan.

Terlalu banyak yang harus didengarkan, lelucon yang membuat tertawa dan kudapan diatas meja. Dan itu jadi tambah melelahkan saat seseorang yang sejak tadi duduk di meja yang sama juga menuntut harus didengarkan. Kita sama-sama tau bahwa ini adalah sesuatu yang kurang menyenangkan. Malam segera datang menyelamatkan, saat waktu menunjukan saat yang tepat untuk bubar, saat satu sama lain mulai mengucapkan pamit dan hujan menyisakan rintik-rintik kecil, membias dan jatuh tepat dibawah sorotan lampu tiang pinggir jalan. Malam yang menyesakkan, mendadak jadi tambah bikin kesal.

Percayalah itu semua bisa diatasi, dengan banyak hal terutama menjadi orang asing baginya. Jadi manusia dengan sudut pandang orang kelima tunggal. Meskipun sampai coklat panas yang katanya lebih mirip susu sachet jadi tandas, hal itu masih belum berhasil dilakukan. Satu-satunya yang benar-benar menyadarkan adalah saat seseorang mengayunkan langkah hati-hatinya diatas trotoar yang basah, diterangi lampu tiang tepi jalan yang megah, dan rintik kecil sisa hujan yang semua itu membuat Anda setengah gila.

Saya harus membuat segalanya terjaga dengan sebisanya menahan kata-kata. Tidak ada puisi yang mewakili apapun. Tidak ada daftar menu untuk percakapan yang boleh dan percakapan yang tidak boleh dilakukan. Tidak ada alasan untuk mengucapkan apapun. Tidak ada lirik dari lagu bodoh yang dinyanyikan didepan siapapun. Anda hanya harus memakai jaket yang tebal, pelindung kepala yang mahal, dan berkendara dengan cara yang benar untuk pulang. Itu sudah cukup, lebih dari cukup.

Arawsok Adnan (baca jungkir balik)

 

Berjumpa Rehmalemna dan Langit yang Sedang Tersenyum

nanda koswara foto taken by sony xperia e1

Perjalanan menghantarkan kembali pada padang ilalang dan riuhnya kawanan unggas dalam iringan menuju pulang. Sesuatu yang membuat mata terbuka dan dilanda perasaan senang, kesekian kali kesini, tak pernah rasanya berubah. Ini adalah Sinembah Tanjung Muda Hulu dengan rute berbeda, yang ditempuh sendirian. Tiba nanti saatnya jika Anda tak lagi punya kawan yang bisa diajak untuk sebuah perjalanan, mengunjungi tempat yang jauh, carilah seseorang untuk Anda nikahi, menantu untuk Ibu Anda, Teman Hidup kemanapun Anda pergi.

Sebagaimana mestinya tulisan ini hadir lebih awal. Tapi Sinembah Tanjung Muda Hulu adalah kesenangan yang berbeda, sepulang dari sana, saya meriang. Tak enak tidur, tak enak makan, kecuali pakai telur yang di dadar pakai sayur mayur. Itu adalah wortel dan kol yang dicincang halus, dicampur telur, cabai rawit dan tentu saja bawang, ditambah sedikit garam. Ibu Suwarni tak pernah kehabisan akal dalam inovasi soal masakan. Adalah sulit untuk tidak mencintai apa yang dibuatnya dengan sepenuh hati.

Ini adalah kali kedua saya silaturahim kerumahnya, Desa Rumah Rih, kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu, Deli Serdang. ini adalah cerita yang kaitannya ada pada tulisan di postingan sebelumnya. Tentang pendar hidayah dari langit dan menghujam ke bumi, tentang taqwanya seorang isteri, tentang mengapa saya jadi begitu muak dengan diri saya sendiri dalam memaknai syukur dan sabar, tentang Rehmalemna, dan lelaki yang terus tersenyum.

Kak Susilowati berkabar kalau Rumah Zakat meluluskan permohonan bantuan perobatan yang saya ajukan untuk Syahrial Tarigan. Titah beliau adalah saya akan dihubungi Budi Syahputra, seseorang yang mengepalai Rumah Zakat di Medan. Dan hari menyenangkan itu datang, mereka meminta untuk ke kantornya di Jalan Setia Budi, depan Masjid Muhtadin, sebelum tikungan yang mengarah ke Mie Aceh Titi Bobrok, dimana hari itu langit tersenyum.

Sampai di Rumah Zakat Medan, setelah menunggu untuk hal-hal yang penting, saya segera diurusi. Menyampaikan kabar terkini soal Syahrial Tarigan, juga tentang “Kabarnya beliau mualaf ya?” “betul pak, sudah sejak lima belas tahun yang lalu” Lalu Pak Budi menimpali “Itu bukan mualaf lagi, Anda tidak bisa menyebut seperti itu pada orang yang telah memeluk islam selama lima belas tahun”. Tapi Syahrial adalah kasus berbeda, sekelilingnya masih gulita, dan sejak kemuslimannya dia tidak pernah merasakan betul-betul apa itu nikmatnya kesehatan.

Setelahnya ada dua pilihan untuk menyampaiakan amanah dari kawan-kawan dan Rumah Zakat ini. Pertama adalah menyampaikannya langsung hari itu juga, sore pukul tujuh belas. Pilihan selanjutnya adalah menunda untuk hari selanjutnya yang lebih lapang, pulang dulu ke Galang, karena sore buru-buru datang. Alhamdulillah pilihan jatuh pada yang pertama, ada Pak Asral Sinaga yang dalam urusan niaga kebetulan sedang di Sinembah Tanjung Muda Hulu, beliau adalah penjual sandal sepatu di pasar pekanan yang saya dulu pernah dibolehkan magang jualan bersamanya. Pulang dari pekanan waktu itu saya diberi gaji dua puluh ribu, waktu itu cukup untuk dua bungkus apem balik.

Pak Asral menerangkan tentang rute dan kemungkinan waktu tempuh untuk berangkat dari sana. Itu artinya Anda tak perlu mencapai Syahrial via Galang. Menyusuri Setia Budi, Tri Tura lalu belok ke kanan simpang Titi Kuning, mengarah ke Deli Tua. Saya menutup ponsel dan segera pergi, “Lari-lari delapan puluh kilo per jam, Nand..” titah Pak Asral, “Kalau memang bisa seperti itu, Kau cuma perlu dua jam untuk sampai sini.” Itu adalah hitungan diluar jalan macet, lampu merah tujuh belas tiang, sesuka-sukanya supir angkot dan abang becak di Medan yang mengemudi seperti jalan raya ini dibangun oleh kakak ipar nya.

Pak Asral selalu terhubung, beliau selalu menelefon menanyakan sudah dimana saya sampai, membantu saya menentukan rute, menemukan jalur-jalur yang tepat menuju Syahrial, bijaksana sekali. Oh betapa lelaki awet muda ini punya banyak keahlian, jika waktunya olahraga beliau adalah seorang libero, bertindak sekaligus sebagai dirijen lapangan tengah tim kami, menyuplai bola-bola matang untuk striker Saiful Bahri Barus. Jika waktunya memancing ke laut, beliau adalah yang dengan benang dua mata pancing mengangkat ikan kerapuh di kedua-duanya ke atas kapal kami. Lalu ikan itu disulap jadi sesuatu yang lezat diatas kapal yang membelah Selat Malaka. Jika waktunya berpergian, yang paling faham peta jalan adalah Pak Asral.

 nanda koswara foto taken by pocket camera on march 24 2013

Berjalan sudah lumayan lama, akhirnya saya sampai di Deli Tua, sudah termasuk bertanya jalan ke abang becak yang dijawab dengan gaya menyebalkan,

“Oh, gampang boi.. Ini Deli Tua, ini kau lurus aja, pokoknya lurus aja dulu”

“Lurus aja bang?”

“Iya, jumpa simpang tanya orang lagi, masih jauh kali yang kau bilang apa itu namanya tadi?”

Anda tidak perlu menjawab, dan buru-burulah mengucapkan terima kasih sambil tersenyum ala Gatot Pujo Nugroho, kita tau pria ini senyumnya kurang simetris, cocok untuk abang becak barusan, sesuai.

nanda koswara foto taken by sony xperia e1 (2)

Sampai di Rumah Sakit Sembiring saya parkir di depan gerbang nya. Disini Syahrial pernah dilarikan setelah jatuh dari tebing untuk memancing ikan jurung, sajian untuk tamu jauh yang diupayakan sebab tiada lagi yang ia punya untuk menjamu, bertahun yang lalu. Pak Asral mulai bernegosiasi soal hari yang segera gelap. Beliau meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, membuat patokan tempat-tempat yang harus dicapai. Anda tidak bisa bertanya nama jalan, mereka tak punya, bapak-bapak di kedai kopi yang saya tanyai pun menjawab nya dengan sangat handal.

“STM Hulu?”

“Iya, bapak”

“Oh, kira-kira lima batu lagi, nak”

Percayalah ditengah hari yang segera malam betapa saya ingin segera memeluk bapak ini dan menangis. Aduh bapak, saya sudah berkendara hampir dua jam, sekarang sudah gelap, tidak ada petunjuk jelas, Anda berkata lima batu lagi. Ilmu fisika dari mana yang menerangkan suatu keilmuan dengan satuan batu.

Itu adalah rabu sore yang bungah, seseorang mulai diserang perasaan-perasaan aneh. Tapi harus tetap tenang, karena cuma itu caranya supaya bisa tetap tenang. Tak jauh dari ‘bapak lima batu’ Pak Asral menelefon, menanyakan sesuatu yang tak bisa saya jawab. Gelap dan tidak ada tulisan “Selamat Datang di Desa Bapak Lima Batu”. Itu artinya selesai, seseorang harus menemukan jalurnya sendiri. Bertanya kepada lebih dari sepuluh orang mirip orang kesasar, memacu roda dua melewati ladang-ladang mirip orang panik, dan menghajar tujuh belas tikungan mirip Sete Gibernau.

Lega setelah sampai simpang Talun Kenas, Sinembah Tanjung Muda Hilir. Dan lima batu itu adalah jarak yang jauh, kawan. Jangan pernah percaya kalau orang gunung bilang tentang jarak dari sini ke situ yang dekat, dekat bagi mereka itu artinya jauh, jauh bagi mereka itu artinya sangat-sangat jauh. Anda bisa berkendara dengan lebih wajar ketika panik sudah hilang, dan status orang kesasar sudah resmi ditinggalkan. Hanya perlu sedikit kesabaran, sampai ada gereja besar yang tak jauh disebelahnya ada Masjid, artinya selamat, Anda sudah sampai, dan menyentuh garis finish dengan gembira, ini adalah marathon terjauh, ini adalah etape terpanik, ini adalah capaian yang tidak begitu buruk, dua jam lebih tiga puluh menit.

Memacu roda dua ke tempat yang jauh, sendirian, menimbulkan sensasi. Inspirasi lain juga datang dari akun instagram yang saya lupa namanya apa, yang melintasi beberapa Provinsi dengan kuda besinya. Mungkin itu adalah defenisi bahagia, bagi orang yang ingin “menghilang” sejenak dari kehidupan, mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Itu adalah kisah yang memicu Anda untuk segera merencanakan touring ke tempat yang berjarak lebih panjang, berhari-hari, dengan niat tujuan yang lebih mulia, sambil menyanyikan ‘Ingin Pulang’ nya Sheila On Seven sebagai backsound. Meninggalkan keluarga dirumah yang hangat untuk kemudian setengah mati Anda rindukan.

Saya sampai ke Pak Asral saat beliau selesai packing barang dagangan dan ada truck khusus yang mengangkutnya ke Galang. Sambil menuju Desa Rumah Rih, saya menanyakan beberapa hal penting ke Pak Asral, sangat penting, seperti dimana sebaiknya kita makan malam, apakah disini ada warung yang menjual makanan halal dan lain sebagainya. Sisanya tentang betapa Medan-Sinembah Tanjung Muda Hulu via Deli Tua, Sibiru-Biru dan hutan belantara itu sangat bikin panik. Lelaki awet muda itu di boncengan belakang menanggapinya dengan tertawa. Saya kelaparan.

Miles for Smile

Syahrial tertidur miring mirip orang kedinginan di ruang tengah rumahnya, beralaskan ambal tipis ketika kami datang, belum apa-apa dia sudah bikin saya marah-marah dengan kelakuan nya seperti itu. Dan memang sejak dikabari bahwa akan datang pihak Rumah Zakat, beliau menungguinya sejak pagi, dengan sweater kuning dan kopiah hitam, lelaki ini punya selera fashion juga ternyata meskipun warna kedua benda tersebut sudah, tentu saja, pudar dimakan usia. Kami ditanyai apakah mau minum Teh Botol Sosro, biar dibelikan di warung dekat rumahnya. Kami menolak dengan alasan tak berlama-lama, walaupun alasan sesungguhnya yang kami perlukan adalah, karbohidrat.

Seseorang yang keluar dari pintu dapur rumahnya sukses bikin saya gugup. Berjalan sambil tertunduk, tidak bicara sepatah kata pun, tidak seperti inang-inang yang kami jumpai di sekitar rumah syahrial, perempuan ini berjilbab rapi. Ia adalah yang saya telah menuliskan pada postingan sebelumnya, Ia adalah yang dinaungi pendar hidayah itu, Ia adalah yang pergi ke ladang setiap hari membawa serta anak-anaknya, demi melanjutkan hidup karena sang suami di dera sakit, Ia adalah yang melantunkan ayat-ayat suci dan membuat Al-Qur’an tersusun rapi di sudut rumahnya, sementara tetangga sebelahnya memutar musik barat. Ia adalah Rehmalemna Boru Karo, beranjak duduk di sebelah Lelaki yang terus tersenyum.

Lihatlah perempuan ini begitu sabar, begitu syukur. Lihatlah tidak sepatah katapun keluar darinya, semua diwakilkan pada sang suami. Dan selanjutnya amanah pun disampaikan, tentang salam-salam, tentang dukungan semangat dari kawan-kawan, tentang biaya perobatan, tentang jalan pengobatan alternatif ruqyah yang disarankan Kak Ncuss untuk Syahrial. Tentang do’a-do’a. Kami buru-buru pamit setelah menyadari jalur pulang ke Galang lebih gelap, lebih hutan belantara, lubang di jalan nya lebih banyak dan tikungan nya lebih liku dari yang tadi. Ingin sekali berlama-lama disana, tapi kondisi membuat itu tidak bisa dipaksakan, karena Saiful Bahri Barus pernah bilang bahwa segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik, hal-hal yang bisa dipaksakan adalah hal-hal seperti menikah.

Sebelum pulang Pak Asral meminta untuk mampir dulu ke SDIT Peduli Ummat nya Ustadz Amal Lubis untuk shalat Isya dan menjamak maghrib di Mushala nya. Pak Asral belum juga shalat maghrib karena air bersih jadi sesuatu yang langkah, bahkan di Masjid dekatnya berjualan tadi. Adalah info mengenai Syahrial ini Ust. Amal orang yang mengunggahnya ke Media Sosial. Itu mengapa jaringan internet sangat berjasa di tempat pelosok yang belum pernah dikunjungi Bupati ini.

Kami pulang saat langit bertabur bintang dan mentari pergi sebentar ke dunia yang lain. Anda harus merasakan senang setelah selesai melakukan sesuatu dan merayakannya sambil mengucapkan hamdallah. Terima Kasih Ust. Amal Lubis dan  Pak Asral Sinaga. Terlebih, Jazakillah khayran ahsanul Jazza Kak Susilowati a.k.a Susie Ncuss! Yang mau-maunya ngurusin semua-muanya di Rumah Zakat Pusat, sampeyan terbaik pokoknya kak. Juga Pak Budi Syahputra di Rumah Zakat Medan, salam dari Pak Syahrial dan ungkap terima kasih beliau lewat senyum yang terus menghias wajahnya.

Sebentar jadi terngiang kalimat seorang kawan, “Nand, berbuat saja, biar Allah yang sempurnakan amal, libatkan Dia dalam setiap langkah, libatkan Dia dalam setiap kebaikan”.

Saya mempercayai dahsyatnya do’a dalam safar, untuk dilancarkan, untuk dijaga, untuk dilindungi dan langkahnya dipenuhi Ridha Ilahi Rabbi. Do’a yang sebaris, Do’a yang dibisikan sambil memejamkan mata ketika panik dan kesasar.

“Yaa Rabb, tolonglah hamba untuk menolong orang lain”

Dikabulkan Nya, perjalanan kami dilancarkan, disehatkan, sentausa. Hanya seusai Bangun Purba, sedikit lagi mencapai Galang, rantai gear yang menggerakan roda belakang putus waktu ngebut, nyangkut, motor tak bisa jalan. Pak Asral mengusahakannya agar bisa dituntun ke warung makan terdekat, karena ada sesuatu yang lebih penting dari gear motor, yaitu asupan nutrisi.

Selagi saya bertugas mengurusi buku menu, Pak Asral menelefon Pak Ruslan Purba, seseorang lainnya yang baik hati untuk mengirimkan bala bantuan. Datang dengan motor berbeda bersama Bang Abdi, binaan saya di ta’lim Pemuda Al-Ikhlas. Setelah perut aman, dan pandangan mata sudah jelas. Kami bergegas, bang Abdi mendorong motor saya sampai rumah dengan kaki kanan nya. Pak Ruslan mengamankan Pak Asral dengan motor yang lain. Malam itu sekali lagi langit yang gelap serasa tersenyum lewat terangnya rembulan. Senyum yang manis sekali.

“Malam memeluk relung yang kalut,

Tabur bintang redakan hati yang takut.

Jalan pulang dihiasi rembulan yang syahdu,

Demi mengenangnya setengah mati hatiku rindu.”

Your Nanda Koswara!

Rehmalemna dan Lelaki yang Terus Tersenyum

Gadis Berjilbab dan Lelaki yang Terus Tersenyum

Rehmalemna Boru Karo panik bukan main, pasalnya sang suami yang pamit sejak pagi belum juga pulang. Tak biasanya Syahrial Tarigan pulang malam-malam kalau pergi memancing. Waktu sudah hampir gelap, inang-inang tetangga dekat rumhahnya ikutan cemas, mereka berkerumun di ambang pintu rumah dinding papan milik keluarga Syahrial, sebagian dari mereka mencoba menenangkan Ibu Rehmalemna, sebagian lain sedang khusyuk mendiamkan anak bayinya yang rewel digendongan, sebagian lagi menikmati senja sambil menyuntil sirih.

Kaum lelaki, para suami dari inang-inang tadi coba menelusuri tempat biasa Pak Syahrial memancing ikan. Jenis makhluk berinsang yang dipancing Pak Syahrial ini adalah ikan jurung. Bukan main, ini adalah ikan yang untuk memancing nya kita harus menuruni tebing dengan kemiringan hampir sembilan puluh derajat. Belum selesai sampai disitu, perlu teknik khusus sebab untuk melempar kail ke sungai yang hampir tak kelihatan karena sempit dan penuh belukar, tangan satunya lagi harus berpegangan pada akar dan gulma. Sungai tempat ikan-ikan itu hidup berada di dua puluh meter, jauh dibawah dari tempat kaki bisa berpijak. Kesulitan untuk memancing jurung bukan tanpa alasan, ditempat yang curam dan dipedalaman hutan itulah lubuk ikan tersebut berada.

Sampai maghrib Pak Syahrial tak berhasil ditemukan, telepon genggam nya aktif tapi tak ada jawaban. Kaum lelaki, para suami dari inang-inang tadi hampir tak bisa menghadapi kenyataan bahwa mereka harus menyusur hutan malam hari, gelap-gelap, tapi tak menemukan apa-apa selain keputus-asa-an. Salah satu warga yang ikut mencari Syahrial sempat teringat kejadian beberapa bulan silam, ketika ada salah satu warga di desa mereka yang juga hilang. Kembali pulang setelah tiga hari berlalu.

“Ini mungkin kejadian macam si fulan, disembunyikan orang bunian” katanya memprediksi.

“Kita biarkan saja Syahrial ini, tak usah dicari, nanti juga balik lagi” imbuhnya pesimis.

Sehari kemudian setelah pencarian bersama warga desa tak membuahkan hasil, Pak Amal Lubis menghubungi komandan grup Pandu Keadilan Deli Serdang. Setengah pleton turun ke Sinembah Tanjung Muda Hulu mencari keberadaan Pak Syahrial. Warga yang ikut di hari kedua pencarian sempat dilanda putus asa yang kedua, rasanya macam patah hati untuk kesekian kali karena cinta. Pasalnya mereka yakin sekali zona yang disusur pasukan dari Pandu Keadilan itu sudah mereka susur di hari sebelumnya. Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala bentuk pertolongan Nya, bertepatan dengan masuknya waktu Ashar waktu setempat, Syahrial Tarigan Bin Nampung Tarigan, putra tercinta Ibu Sangap Boru Sitepu ditemukan dalam kondisi masih bernyawa.

“Macam mana bisa jumpa, kami yakin betul sudah cari kesini semalam itu” tutur warga.

Bapak empat anak ini tersangkut batu padas di sekitaran tebing curam, dari kepalanya terlihat jelas linangan darah, tulang selangkanya patah, luka disini dan disana. Tandu ambulans untuk membawa Syahrial ke atas tak banyak bisa membantu, hutan yang dipenuhi semak dan pepohonan jelas-jelas-terang-terangan di siang bolong sungguh menyulitkan. Akhirnya muncul gagasan untuk membawanya dengan sarung yang direntang batang pohon.Warga setempat bersama dengan pemuda gagah dari Pandu Keadilan tadi berbaris diagonal disepanjang tebing, memindahkan Syahrial Tarigan yang koma tak sadar dengan cara estafet. Beliau saat itu juga langsung dilarikan ke rumah sakit Sembiring, Deli Tua, Deli Serdang, Sumatera Utara dan siuman lima hari setelahnya.

Pak Syahrial Tarigan ditemani putrinya Nurhayati Boru Tarigan saat menceritakan kejadian lima tahun lalu tersebut pada kami. Tak banyak yang beliau berhasil ingat, pembekuan darah dan gangguan syaraf di kepala mungkin jadi sebab. beruntung kisah ini sudah kami dengar dari dua sumber berbeda, dua orang kawan kami yang ikut dalam tim penyelamatan dramatis lima tahun lalu itu. Ceritanya mungkin tentang musibah, tapi lelaki kurus masai yang susut badannya ini tak berhenti tersenyum. Indah bukan main. Beliau menyambut kami dengan sangat hangat, menggelarkan tikar diatas semen basah yang baru saja di pel putrinya.

Aku menuju rumahnya di Desa Rumah Rih, Kecamatan STM Hulu, Deli Serdang, bersama Muhammad Rinjani Mufarif. Menumpang roda dua dengan hati berbunga. Selalu menyenangkan kalau sudah melakukan perjalanan ke Sinembah Tanjung Muda Hulu, udara segar khas pegunungan, barisan air terjun dan danau, juga rasa senang karena bejumpa saudara se-per-jalan-juang-an. Kalau sudah sampai di Desa Tiga Juhar ibukota kecamatan, maka menguaplah bagaimana rasa panasnya pantat berkendara selama dua jam, diatas aspal yang penuh lubang menganga, sangat berbahaya. Bupati boleh saja berganti, waktu kampanye pun boleh lah dia berkoar macam-macam, tapi akses jalan yang rusak dan tak kunjung diperbaiki dari masa ke masa ini adalah bukti kongkrit atas sebuah senandung; Janji tinggal Janji.

Arif selain bertindak sebagai kawan ngobrol di jalan, punya tugas yang cukup penting dalam perjalanan kali ini. Beliau yang sekarang tampil macho dengan cambang dan brewok mirip peserta kontes dangdut ini punya saran-saran yang cukup baik;

“Aku rasa bijak sekali kalau kita beli lemang bakar untuk bekal di jalan, kawan”

Jadilah selonjor lemang bakar yang sudah di iris-iris jadi menu sarapan Arif hari itu. Kami bungkus dan jadi bekal di jalan. Aku salah mengambil keputusan, karena membiarkannya pegang bungkusan bekal kami satu-satunya, pantas saja sepanjang perjalanan pergi tak banyak kegaduhan di boncengan belakang, kondusif sekali. Rupanya beliau punya aktifitas yang lebih menyenangkan selain mengobrol atau lainnya, dia baru ingat kawan di irisan lemang yang terakhir.

“Jangan lihat lemang yang tinggal seiris, kawan ku”

“Lihat betapa konsep berbagi harus tetap kita junjung, walau tinggal segigit terakhir”

Sebelum sampai di Desa Rumah Rih, kami terlebih dulu ke komplek Sekolah Peduli Ummat Waspada di Desa Tiga Juhar. Disinilah Pak Amal Lubis tinggal, bersama beberapa pejuang pendidikan lain yang mengurusi sekolah bernafaskan islam tersebut. Maksud hati ingin ditunjukan rumah Pak Syahrial oleh Pak Amal, beliau dengan berat hati bilang tak bisa.

“Sebenarnya sangat ingin mengiringi antum berdua kesana”

“Tapi akhi, istri saya mau melahirkan, sudah lewat tanggalnya”

“Tetangga kanan kiri sedang jaulah ke familinya, ini darurat sekali saya”

Pak Amal menggambarkan peta sederhana diatas notes yang kubawa, petunjuk jalan menuju rumah Pak Syahrial, lalu beliau memberi keterangan tambahan soal rute, aku kebingungan membaca peta, Arif tiduran di Mushola. Desa Rumah Rih via Desa Tiga Juhar, jalan kesana tidak seburuk jalan yang kami lalui sebelumnya. Kami melewati padang luas yang ujungnya berbatas bukit barisan, di sisi lainnya tergenang air panas dari Danau Linting, danau yang kabarnya dibawah sana masih aktif dapur magma vulkanik nya, yang belum terukur berapa sebenarnya jarak dari permukaan sampai ke dasar, hamparan ladang milik warga desa, dan pedagang jeruk manis di pinggir jalan.

Sang istri tak dirumah waktu kami berkunjung, Rehmalemna Boru Karo bersama anaknya yang tiga lagi, pergi bekerja di ladang milik orang lain. Tinggalah si kecil Nurhayanti dirumah menjaga sang ayah yang sedang sakit. Beliau buru-buru ke kamar waktu kami datang, dan keluar lagi setelah memakai jilbab. Gadis kecil berjilbab putih ini baru saja selesai mengepel rumah, amanah ibunya sebelum pergi ke ladang pagi-pagi buta. Ruh yang penuh cahaya ini juga bertugas mengurusi sang ayah sebisanya, mengambilkan air, makan dan pengobatan. Sang ibu baru pulang dari ladang jam lima sore nanti, jadilah Syahrial diurusi anaknya yang masih berusia tujuh tahun Nurhayati.

Rehmalemna, yang semoga Allah merahmati perempuan Karo ini, adalah orang yang ta’at pada ajakan suami lima belas tahun yang lalu untuk memeluk islam. Cahaya dari langit dari Yang Maha Tinggi menyeruak ke gang-gang sempit menuju rumahnya. Cahaya itu berpendar untuk sekeliling yang masih gulita belum menadah hidayah. Cahaya itu berwujud langkah kaki sang suami menuju Masjid ketika tetangga kanan kiri muka belakang nya pergi ke gereja. Cahaya itu berinai-rinai menyelendang dalam balutan jilbab yang ia dan putri-putrinya kenakan. Cahaya itu menentramkan sejak gerbang syahadah sampai Allah SWT menurunkan sakinnah ke dalam hati, kehidupan dan keluarganya.

Rehmalemna, yang semoga makhluk mulia disisi Allah Azza Wa Jalla menyebut namanya dengan bangga, adalah cinta didalam cinta. Beliau berangkat pagi buta dan pulang setiap pukul lima semenjak sang suami tak memungkinkan raganya untuk mencari nafkah. Betapa hidayah itu turun dari langit, menyusuri bumi, menuju hatinya dan memendarkan cahaya. Maka semoga Allah juga merahmati saudara muslim terdekatnya, yang bertemu dalam lingkaran sekali sepekan, mengenalkan padanya Qana’ah, mena’atkan cintanya pada Allah saja, memohon pertolongan dan jalan keluar hanya dari Dia semata, Sang Pemilik Semesta.

Suaminya tak kalah indah, lelaki yang terus tersenyum ini berkisah asbab dia memancing sampai musibah menimpa. Adalah seorang kawan, yang pada waktu silam berjumpa di Rumah Sakit Adam Malik Medan, yang sekamar, seperawatan, waktu beliau menjalani siklus satu kemoterapi untuk Tumor Kasinoma, mengabarkan ingin bertamu ke rumahnya. Sontak lelaki sederhana ini bahagia, walau dirumahnya tak punya apa-apa untuk disuguh-hidangkan. Jadilah dia mengusahakan Ikan Jurung untuk tamu yang akan datang. Bukan untuk diri ataupun keluarganya, Ikan Jurung yang diusahakan itu adalah sambutan untuk tamu jauh, sebelum musibah datang dan membuatnya jatuh.

Pada Rehmalemna kami belajar tentang keta’atan dan sang suami dari perempuan tangguh ini mengajari tentang etika. Beliau sempat berujar malu atas penyakitnya. Pak Syahrial ini sebenarnya ahli meramu obat herbal, ilmu turun temurun dari keluarganya. Terbukti, dengan kuasa Allah SWT ramuan herbal buatannya membuat dia hanya harus kemo satu siklus, radioterapi 35 hari, sampai benjolan tumor di leher samping kanan nya kempes dan sembuh. Beliau kecewa kepada orang yang mahir membuat obat, malah dilanda penyakit-penyakit berat seperti TB Paru yang sekarang ini. Kecewa pada dirinya sendiri.

Pada Rehmalemna kami belajar kesabaran, kesyukuran dan rasa kasih sayang. Rumah dinding papan nya, ruang tamu pengapnya, dan lantai semen yang basah adalah metafora. Dirumah inilah hadir cahaya, bersama rak yang tersusun diatasnya Al-Qur’an, senarai jilbab yang membalut dia dan para putrinya. Kita do’akan bersama kawan-kawan, semoga cahayanya segera menerangi sekeliling dan disambut sewujud hidayah dari langit. Mengantarkan yang masih gelap menuju gerbang syahadah, memendarkan islam yang memendarkan lentera sepanjang hidupnya. Semoga istiqamah meneguhkan juangnya, sampai kaki dan tangan nya yang lelah di dunia, diringankan Allah dengan Husnul Khatimah, menjumpa Al-Kautsar di sanding baginda Nabi, mengantarkannya ke surga.

Kami pamit dengan hati yang mendung. Jiwa dan macam-macam yang ada didalamnya seolah berontak ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar berkunjung, lebih dari sekedar do’a rahasia, lebih dari sekedar menadah hikmah. Akhirnya berkabar baiklah Kak Susilowati, kawan kita di Bandung sana, beliau bisa mengusahakan bantuan pengobatan melalui lembaga tempatnya berbakti. Selebihnya mungkin soal Jilbab si kecil Nurhayati Boru Tarigan, Ibunya dan kedua kakaknya. Kerudung penjaga keta’atan mereka jumlahnya terbatas dan kadang harus bergantian, adakah pembaca yang ingin menyumbang?

Kami pulang.

Kami pulang sambil bersenandung, menyanyikan kepada langit, kepada semesta tentang kabar dari seorang Syahrial Tarigan. Bahwa ada seorang yang tinggal ditengah-tengah pemukiman nasrani, tapi sejak lima belas tahun lalu setelah dinaungi cahaya, setia memeluk islam. Tentang seorang tangguh Rehmalemna Boru Karo, bahwa ada seorang perempuan yang membawa tiga anaknya yang masih kecil-kecil bekerja di ladang orang sampai petang, demi kesembuhan sang suami, demi kelanjutan hidup keluarganya.

Arif kawan ku berjaulah hari itu, lagi-lagi punya ide brilian, cocoklah beliau yang sekarang tampil macho dengan cambang dan brewok mirip peserta kontes dangdut ini kita sebut sebagai penasihat perjalanan. Beliau yang tambun menyarankan untuk mampir dulu ke Romo Syafi’i di Bangun Purba.

“Silaturahim, kawan”

“Lama tak jumpa Romo”

Diteras rumah Romo, diantara pot-pot cabai dan sirih merah yang beliau pelihara, nasib membawa kami disuguhi jeruk manis sebagai menu pembuka, dan roti kacang Siantar sebagai makanan penutup. Minumnya es teh manis dingin. Pakai sedotan yang ujungnya bisa bengkok, bukan main. Makanan utama di siang yang syahdu itu tak tanggung, Ayam pelihara’annya romo wabil khusus disembelih, diolah sedemikian rupa dengan bumbu-bumbu yang wajar, maka jadilah menu andalan Ayam Kampung Gulai Kentang plus Tauco Tahu. Kami minta maaf karena tak sanggup lagi saat istri beliau menawarkan kolak pisang gula aren yang baru matang. Ayam Gulai sudah cukup buat kami merasa mendingan. Arif habis dua piring.

 

Your Nanda Koswara!

Ibu Gubernur dan Rumah yang Hampir Rubuh

Nanda Koswara blog Ibu Gubernur dan Rumah yang Hampir Rubuh 11

Ibu Hamidah tak bisa berbuat banyak untuk atap rumahnya yang bocor dan dinding tepas bambu  yang penuh lubang. Beliau cuma seorang buruh cuci piring, suaminya sudah berpulang, kerabatnya tak jelas siapa dan dimana. Dirumah yang sama Ibu Hamidah berkisah untuk kami tentang beliau yang berkesempatan merawat abang kandung nya yang sakit, sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya disana. Ibu Hamidah menjalani hari-harinya yang sunyi, bersama kucing-kucing yang mencakari atap daun aren rumahnya yang sudah lapuk, dimakan usia.

Kami taksir rumahnya berukuran tiga meter melebar, empat meter ke belakang, dan menghadap ke utara. Dibawah atapnya banyak plastik dan benda apa saja yang bisa dipakai untuk menambal bocor. Ibu Hamidah menginisiasi sendiri bagaimana plastik-plastik itu jadi merajalela di langit-langit gubuknya yang hampir rubuh. Beliau cuma tak bisa tidur sambil ditetesi air hujan, lagian dia tak punya kerabat yang bisa dimintai tolong. Merepotkan tetangga dia tak mau. Jadilah rumah yang punya satu-satunya ruangan itu jadi meriah sedemikian rupa.

Kalau kita masuk ke rumah Ibu Hamidah, maka yang pertama kita jumpai ketika langkah pertama dari ambang pintu adalah ruang tamu, dapur, ruang tidur dan tempat menyimpan pakaian, semuanya sekaligus. Beruntung dia punya kain yang agak lebar, untuk menjaga privasi ruang istirahatnya. Perempuan yang berusia 63 tahun ini tak punya kamar mandi dirumahnya, beliau bilang ke kami kalau urusan mandi, cuci dan kawan-kawannya bisa numpang ke tetangga, atau sumur mana saja yang bisa dipakai. Beliau menyimpan air untuk kebutuhan masak dan wudhu pada ember-ember, yang diletakkan diruangan yang sama dengan dapur dan tempat tidur.

Beruntung sekali saya diajak Bang Saiful Bahri ke rumah Ibu Hamidah beberapa hari yang lalu. Melihat kondisinya saya jadi ingat Nek Sani di kampung. Ibunya Ibu saya. Tapi Nek Sani kondisinya masih lebih lumayan, ada bulek yang mengurusinya, dan yang paling penting atap rumahnya tak bocor. Ibu Hamidah yang sendirian ini pantang menyusahkan orang lain. Bahkan tak ada isyarat mengharap belas kasihan dari kalimat-kalimat yang diucapkannya. Dirinya sama sekali tak mengeluh dan menyalahkan orang lain. Beliau cuma ceritakan bagaimana kalang kabutnya dia setiap hujan datang, juga kucing-kucing peliharaan yang bikin dia jengkel tiap hari. “Habis atap rumahku dicakarinya..” seru beliau.

Hanya perlu tiga hari setelah ke rumah Ibu Hamidah, kami kesana lagi dengan susunan personil yang lebih lengkap. Selain Bang Saiful dan Ulya anaknya, ada Pak Suwandi dan Pak Ruslan Purba, kawan kami yang juga seorang tukang bikin rumah. Mereka penuh bakat. Tak ketinggalan Arif juga ikut, susah juga rasanya kalau tak ada yang bisa disuruh-suruh. Disini saya mewakili Semesta Berbagi, salah satu program unggulan dari  Gemar, sebuah organisasi non-pemerintah yang diketuai Bang Saiful. Kabar baiknya rumah Ibu Hamidah akan dibedah, tiga sampai empat bulan lagi. Program bedah rumah ini hasil komunikasi Bang Saiful dengan BK3S, Badan yang di koordinir langsung oleh Ibu Sutias Handayani, isteri Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho.

Sebelum dibedah beberapa bulan lagi, kami pasang terpal antisipasi hujan sementara di rumah Ibu Hamidah. Beliau setuju untuk terpal sementara dan tak henti berucap syukur untuk kabar rumahnya yang akan dibedah. Arif sampai lebih dulu, dan belum lagi acara dimulai dia sudah rewel. “Ini nggak bisa lama-lama, akhy..“ kilah Arif diatas matic merahnya “Soalnya mau ngelatih Pramuka lagi.” Saya cuma diam, senyam-senyum dan kemudian koordinasi ke Bang Saiful untuk aksi hari itu. Pak Suwandi sudah siap dengan tangga lipatnya. Pak Ruslan dikonfirmasi sedang menuju tempat acara. Oh paragraf ini rasanya berat sekali, penuh dengan kosakata: koordinasi, konfirmasi dan antisipasi. Sayup-sayup tercium aroma terasi.

Kawan, urutan pertama kebahagiaan versi saya adalah melihat senyum mekar di wajah ibunda, dan di wajah suaminya. Kemudian adalah melihat senyum mengembang pada wajah saudara dirumah, juga seratusan lebih anak-anak saya di sekolah. Selanjutnya bahagia versi saya adalah melihat senyum hadir di wajah siapapun yang merasakan syukur dan qana’ah. Ibu Hamidah menyambut kami dengan muka berseri-seri. Kami langsung bekerja setelah Pak Ruslan sampai. Tapak rumah di ukur, tali-temali di potong sesuai kebutuhan, tangga dipasang, terpal dibentangkan. Syukur sekali ukurannya pas dengan atap istananya Ibu Hamidah, lalu dikaitkan dengan kayu-kayu penyangga.

Pak Ruslan Purba, kawan kami yang baik hati.
Pak Ruslan Purba, kawan kami yang baik hati.

Pak Suwandi dan Pak Ruslan adalah aktor utama, mengingat ini adalah bidang yang mereka berdua kuasai. Kawan kami ini baik sekali, rela meninggalkan pekerjaan nya untuk membantu orang lain. Arif berperan cukup baik sebagai orang yang bisa disuruh-suruh. Kesalahan kecil dibuatnya waktu membuka jalinan tali tambang. Gulungan tali jadi buyar sedemikian rupa. Walaupun seorang Pramuka dan handal dalam tali-temali, Arif tampaknya kurang teliti. Saya cuma terkekeh-kekeh menyaksikan dia mengurusi tali-tali. Sementara itu Ulya sibuk kesana-kemari tak peduli, praktis setelah mangkuk kecil es krim nya kosong. Saya sendiri bertugas tak kalah strategis, yaitu mengawasi Ulya dan menjagai Arif. Takutnya ketiduran.

Nanda Koswara blog Ibu Gubernur dan Rumah yang Hampir Rubuh 3
Pak Suwandi, do’akan beliau kawan.

Setelah selesai kami disuguhi minuman warna merah, tampak seperti sirup kurnia, oleh tetangganya Ibu Hamidah. Setelah ngobrol dan menyampaikan amanah dari para dermawan, kami pamit undur diri. Sebelumnya saya sempat membagikan kisah Ibu Hamidah dan rumahnya ini ke beberapa grup Whatsapp. Kawan-kawan merespon dengan membagikannya lagi ke kawan lainnya. Hasilnya ada sedikit materi yang bisa disampaikan ke Ibu Hamidah. Beliau menerimanya sambil terus mendo’akan kami semua. Satu-persatu. Haru sekali.

Jum'at siang yang riang gembira.
Jum’at siang yang riang gembira.

Sebelum kembali lagi ke rumah masing-masing, Bang Saiful mengajak kami semua ke warung pecal Bang Yin, tak jauh dari rumah Ibu Hamidah. Arif menunjukan raut wajah yang artinya dia sedang gembira. Sampai dia bingung mau pesan apa. Akhirnya sepiring gorengan, lontong pecal dan es teh manis disuguhkan spesial di hadapan Muhammad Rinjani Mufarif. Pak Suwandi dan Bang Saiful pesannya juga pecal, Pak Ruslan karena katanya baru saja makan siang selepas Shalat Jum’at, jadinya cuma mau es teh manis. Ulya disuapin abinya, lagi-lagi sambil kesana-kemari. Saya yang kebetulan lagi puasa Nabi Daud, digoda Arif habis-habisan.

“Akhy.. antum harus makan pecal dan minum teh manis ini.. biar puasanya kuat!”

 

23 Januari 2015, your Nanda Koswara.

Ikan Jurung dan Eksotisme Sinembah Tanjung Muda

nanda koswara blog sinembah tanjung muda hulu

Dan begitulah adanya, pergantian tahun masehi tidak kami tandai dengan ritual-ritual tertentu. Semuanya berjalan biasa-biasa saja, tidak ada tiup terompet atau kembang api di udara, tidak ada kegaduhan dan hingar-bingar. Hanya ada bilik kamar yang hangat dan buku berserakan, hanya ada secangkir teh dan kudapan, sesal dan senandung.

nanda koswara blog sinembah tanjung muda hulu 7
Aku dan kawan lainnya, seperti biasa tak pernah sudi membiarkan hari libur atau tanggal merah terlewat begitu saja tanpa kelana. Perkara tidur cuma setengah jam, karena bertepatan dengan acara bermalam di Masjid, tak jadi soal. Main sepak bola dipagi setelah bergadang, merupakan satu hal buruk untuk kesehatan, tapi bang Riki Indra Utama cetak angka, bang Saiful Bahri Barus bikin assist bagus, Rinjani Mufarif sukses bermain, sebagai pemain cadangan. Semua jadi bisa ditoleransi.

Selesai sepak bola kami berpisah, Pak Asral Sinaga dan bang Saiful lewat rute Lubuk Pakam-Galang-Bangun Purba karena harus pulang dulu berjumpa Isteri masing-masing. Bersama bang Riki dan Arif, kami touring lintasi jalan besar Medan-Tanjung Morawa, masuk ke Bandar Labuhan, untuk selanjutnya merangsek ke Limau Mungkur, melaju ke Sinembah Tanjung Muda Hulu via Sinembah Tanjung Muda Hilir dengan menjejak Desa Siguci- Tala Peta- Talun Kenas, lalu berhenti di Tiga Juhar. Dan nama daerahnya memang se-eksotis itu.

“Mempesona dari hulu, ke hilirnya..”

Bang Saiful dan lainnya punya misi khusus di STM Hulu, memancing Ikan Jurung, sisanya, termasuk aku seperti biasa hanya jadi penikmat perjalanan. Sepanjang rute yang ditempuh, kanan-kiri rumah penduduk yang non muslim banyak didatangi saudaranya dari jauh, tahun baruan semacam hari raya buat mereka, seperti muslim di hari-hari Ied. Bersyukur diberi sehat dan bisa melintasi bagian lain bumi-bumi-Nya. Terlebih hamparan desa yang masih alami, gemercik sungai berbatu, jembatan-jembatan penghubung antar desa, dan sisanya dirusaki sampah yang berserakan, kondisi jalan yang berlubang dan cabik alat berat untuk tujuan perkebunan.

Kami sampai lebih dulu di titik SD Peduli Ummat Waspada STM Hulu, hasil kerja keras kawan-kawan disana. Pak Amal Lubis menyuguhi kami salak pondoh dan teh. Arif agak gelisah mendapati salak sekantung habis sekejap mata. Sementara masalah lain belum selesai diatasi, dia cuma bilang sesuatu yang tampaknya kami bertiga setuju dan mufakat menyepakatinya.

“Bang, harus beli nasi bungkus ini udah gawat..”

Setelah pak Asral dan bang Saiful sampai, kami menyantap sarapan bersama di jam makan siang. Ayam kalaksan, daun ubi tumbuk, sambal teri jadi pelipur lara bagi para bujang yang kelaparan. Tanpa banyak cingcong lagi, kami pun berangkat ke-tempat yang pak Amal menyebutnya sebagai-surga yang tersembunyi.

“Pelipur lara.. nakal sekali..”

Roda dua melaju disela-sela rumah warga dan lapo kopi, lanjut membelah pematang sawah, meliuk diatas beteng-beteng. Tergelincir diatas lumpur, semua menkmati dengan tawa dan menganggapnya sebagai trek balap. Selanjutnya kami disambut barisan ladang jagung yang sedang berbunga, beberapa lonjor tanaman buah melon. Kicau burung dan hembus angin yang menggerakan pohon-pohon jeruk manis. Sabda alam sedang menunjukan kepada kami anak manusia, bahwa segala yang kami lihat adalah Mahakarya adiluhung Sang Pencipta. Disanalah padang sabana dan ilalang, disanalah rimbunan mahoni dan trembesi, disanalah lukisan yang kesyahduannya mampu diterjemahkan ke baris-baris puisi, syair-syair lagu, bertajuk kesunyian.

“Kekasih sejatiku, adalah kesunyian..” Lagu dari Closehead

Kendaraan yang kami bawa hanya bisa diberhentikan di satu tempat, pilihan selanjutnya adalah berjalan kaki menuruni lembah dengan kemiringan kurang dari empat puluh lima derajat. Aku di paling belakang setelah memastikan semua roda dua terkunci aman, sedikit sa’i untuk mengejar Arif di depan yang berjalan seperti penari tor-tor di pulau Samosir, gemulai sekali. Sampai akhirnya aku sarankan dia untuk melepas sandal jepit yang memang tak cocok untuk untuk aktifitas ini. Sementara yang lain sudah teriak-teriak-melecehkan dibawah tanda sudah sampai, Arif masih saja berjalan perlahan, ingin kutendang saja pantatnya dari belakang, lalu menggelinding-lah dia dengan penuh luka sayat ilalang di badan. Ternyata niat buruk yang urung dilakukan itu menerima ganjaran, aku tercatat dua kali terpeleset sampai terduduk. Arif cuma memandang dengan raut wajah yang kalau diartikan berkalimat,

 

“Kau rasakan itu, anak muda.”

Sampai ke bawah, bang Saiful sudah siap diatas batu lengkap dengan joran pancingnya. Pak Amal menyiapkan kain sarung sebagai sajadah untuk shalat dzuhur diatas pasir. Pak Asral menyiapkan jala ikan, sementara bang Riki menghilang sebentar untuk buang hajat.

nanda koswara blog sinembah tanjung muda hulu 2
Meskipun Ikan Jurung tak kami dapatkan, tapi selalu ada syukur bahagia untuk hal-hal lain. Dengan kaca mata yang menutup seluruh wajah kecuali mulut, kami bisa mengintip ikan kecil yang gesit berenang di sela bebatuan. Gemercik air sungai yang berjumpa batu-batu besar, tempat nyaman untuk tidur siang. Tebing yang menjulang memagar, juga bunga anggrek hutan. Selalunya ketika sedang ditempat yang indah, kata-kata selalu lindap, semua orang diam menikmati kesyahduan, memejamkan mata menikmati angin, berjemur dibawah matahari. Hal lain mendadak jadi tidak penting, tidak layak untuk diperbincangkan, lisan dan jiwa sibuk bertasbih memuji ciptaan Nya, menerjemah sabda alam raya.

“Maha suci Engkau, Yaa Rahman.. “

Sebelum pulang, kami menyusun rencana untuk kembali lagi kesini di pertengahan bulan Maret, atau bulan lain yang kemarau. Disana air sungai akan surut, kami akan membuat bendungan, dengan akar pohon dan terpal jemur padi. In shaa Allah, ikan jadi mudah ditangkap dan kemudian dibakar dipinggir sungai. Perjalanan pulang jadi agak berat, lembah yang tadinya dituruni dengan langsam, sekarang harus didaki dengan sekuat tenaga. Sebentar-sebentar harus berhenti, mengistirahatkan tungkai. Kami berjalan zig-zag diantara mahoni, disela-sela, Arif berhenti tegak bersandar pohon. Dia hampir kehabisan nafas.

 

Sinembah Tanjung Muda Hilir & Hulu, 3 Januari 2015.
Nanda Koswara.

Rintik Hujan dan Kawan di Perjalanan Yang Jauh

Nanda Koswara - rintik hujan

Mulai hari ini, kalau saya mengingat kawan saya Alamsyah, maka saya akan mengingat tentang perjalanan yang jauh. Tentang impian yang belum tercapai, tentang kepolosan dan debat-debat kecil untuk hal yang tidak penting. Hari kamis lalu adalah hari dimana segala penatnya Tian, Ilham dan Alamsyah seperti mencapai puncaknya. Setelah berhari-hari harus mengerjakan sesuatu sampai harus menginap segala. Inilah pekerjaan yang diselingi dengan main game sampai jam tiga pagi atau bertukar data yang memuat film animasi, lalu menontonnya sampai ketiduran dengan sebelumnya kekenyangan martabak durian.

Selalu ada hal khusus yang akan kita kenang dalam setiap perjalanan, ia seperti keindahan, kelucuan, amarah, kicau burung, rintik hujan, sampai hal yang paling remeh sekalipun. Dan saya selalu tertarik dengan keheningan, sekalipun harus mencari di tempat yang ramai. Perjalanan adalah saatnya saya mengenal seorang kawan lebih dari biasanya, saatnya mendengarkan kawan lebih dari biasanya dan saatnya mengerti kawan lebih dari biasanya. Perjalanan selalu membuat fikiran meloncat-loncat melampaui segala yang sudah direncanakan, perjalanan menghadirkan ide-ide yang saya sebut dengan hidayah dan perjalanan adalah salah satu cara untuk mencintai Sang Maha Pencipta.

Saat itu disekeliling saya, Tian dan Ilham terlihat suntuk bukan main, terlebih Alamsyah. Nasabah yang dikelolanya menunggak bayar, saya sampai hampir dibentak waktu bertanya apakah ini masalah. Dia menjawab kalau ini masalah besar, lumayan besar. Kemudian muncul ide dari diri masing-masing untuk menghibur perasaan yang sedang lara. Maka kami menyusun sebuah perjalanan yang sederhana, yang paling memungkinkan dilakukan siang itu, sebelum matahari terbenam. Sebelum kegundahan berubah menjadi baris-baris puisi seorang bujang, yang tidur jam tiga pagi untuk hal yang kurang berfaedah sambil makan martabak durian.

Air Terjun di Sinembah Tanjung Muda Hulu adalah tujuan setelah sudah mandi dan ganti pakaian, tinggal menunggu Alamsyah. Saya dan Ilham yang duduk di teras rumah Tian, sampai-sampai harus menebak-nebak setiap kali ada suara roda dua yang datang. Ini dia dan ternyata bukan. Ini dia dan ternyata bukan. Dan sampai ini dia yang ke-tujuhbelas, akhinya yang ditunggu pun datang juga, ternyata dia. Langit yang mendung gelap sempat menciptakan perdebatan kecil antara Ilham dan Alamsyah, seperti biasa. Salah satu diantara mereka yang berfikiran rasional, memprediksi hujan akan turun dengan rintik yang deras. Salah satunya lagi tentu – seperti biasa – berkilah; bang.. Cuma air, Cuma air hujan seperti biasa, mari lanjutkan rencana. Dan Tian seperti biasa Cuma diam.

Jika Ilham adalah orang yang penuh dengan ekspresi, Alamsyah manusia yang susah ditebak, maka kawan saya Tian adalah seperti Andrea Pirlo gelandang serang Klub Sepak Bola Juventus, pemain kebanggaan Tim Nasional Italia. Saya mengetahui Andrea Pirlo adalah yang pelitnya minta ampun soal ekspresi. Dia seperti tidak bersedih ketika Tim nya kalah, atau urung sumringah ketika telah berhasil menjebol gawang lawan. Saya faham satu hal dimana rambut gondrong belah samping dan brewok nya tekah mengisnpirasi dunia fashion. Jadi, segala kekurangan nya soal ekspresi wajah adalah sesuatu yang bisa sedikit dimaklumi.

Kami berempat dengan lafadzh basmallah pun akhirnya merangsek ke Utara. Belum jauh berkendara, jas hujan sudah harus di keluarkan dibalik busa duduk roda dua. Hujan mengguyur dengan iringan kesejukan yang selalu turut serta. Saya cuma teriak untuk lanjutkan perjalanan dibalik pelindung kepala, dan semuanya cuma senyum sambil mengacungkan ibu jari tanda telah berkata iya. Sudah merayap sampai ke Bangun Purba, tapi tidak terlalu menjauhi Galang, akhirnya empat bujang di sore yang sibuk telah mencapai batasnya. Kumandang Adzan Ashar menggiring kami untuk berteduh dan tidak banyak cingcong lagi. Ilham pun tidak lagi bersemangat mendebat Alamsyah. Semuanya sadar ini bukan hanya soal hujan, perjalanan ke Sinembah Tanjung Muda Hulu juga harus mengingat kondisi jalan. Kita tidak bisa menempuh medan seberat itu ditengah hujan pula, dengan roda dua yang sudah tiga bulan tidak diajak main-main ke bengkel.

Teras Masjid saksi bisu tentang empat bujang yang gagal berkelana. Tapi selalu ada yang bisa dipetik selain gitar di setiap perjalanan. Yang pertama mungkin, jadilah kawan yang tidak terlalu keras kepala dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Yang kedua, selalulah mendengar nasihat orang tua untuk melengkapi roda dua dengan Jas anti air di musim hujan begini. Yang ketiga saya ajak Alamsyah bercerita; dia pun mengalirkan kisah tentang jarak tempuh darat yang menjadi rute nya setiap hari, dimana dia harus melewati lembah dan berkendara dibalik bukit. Dimana dia harus menghadapi Nasabah yang dua kali lipat kadang lebih menyebalkan dari atasan sendiri. Dimana dia akan segera resign setelah kontrak kerjanya habis dua bulan lagi. Dimana dia harus melintasi tiga kabupaten setiap hari guna mencari nafkah, untuk dirinya sendiri. Karena masih bujang.

Kemudian saya jadi teringat pada kata-kata Pak Wahyudi dari Abco,  seorang baik yang pernah meng-hypnoteraphy saya di sebuah acara di SMAN1 Sunggal. Dalam acara tersebut, seperti di bedah bukunya Salim A. Fillah tahun ini di Medan, saya dapat hadiah doorprize buku, menyenangkan bukan main. Dalam beberapa menit sesi hypnoteraphy tersebut,  dalam kondisi setengah sadar, ternyata Pak Wahyudi berhasil mengetahui jauhnya jarak tempuh dari rumah tinggal saya ke tempat dihelatnya acara, juga sebagian kecil mimpi-mimpi saya tentang pendidikan. Lumayan jauh, jarak Galang ke Sunggal adalah jarak yang lumayan. Kaliamat yang beliau ucapkan, dan saya ingat sampai sekarang adalah. “Teruslah berjalan ke tempat yang jauh, temukan dirimu disana, ditempat orang-orang belajar dan diajari kehidupan.”

““Teruslah berjalan ke tempat yang jauh..” Wahyudi.

Kawan, ternyata untuk menjadi seseorang yang baik, kita cuma harus bisa mendengarkan, saling memahami dan bisa berkelana ke tempat yang jauh. Menemukan mozaik-mozaik hidup untuk kemudian menyatukan nya satu persatu, menjadi wujud kurva dengan sumbu cartesius horizontal yang bermakna syukur dan yang satunya lagi bermakna sabar, kesyukuran yang menjulang ke langit, kesabaran yang membumi.

Kawan, ternyata di tempat yang jauh akan selalu ada kejutan. selalu. Saya jaminan nya. Dan terima kasih ku pada rintik hujan, hembus angin dan rimbun pepohonan. Terima kasih Umminya Tian, yang selalu menjamu para bujang dengan teh hangat, nasi goreng atau mie instan, bahkan sebelum matahari muncul dengan benar.

Terima Kasih sudah membaca, Karena ini blog ku yang baru.

Your Nanda Koswara!